Manfaat Pengindraan Jauh di Bidang Hidrologi, Bantu Penanganan Banjir

Oleh Laudia Tysara pada 22 Mei 2020, 16:30 WIB
Diperbarui 23 Mei 2020, 14:37 WIB
Banjir

Liputan6.com, Jakarta Hidrologi termasuk dalam cabang ilmu geografi. Ilmu inilah yang mempelajari pergerakan, distribusi, dan kualitas air di bumi. Sedangkan pengindraan jauh berkaitan erat dengan metode pengukuran. Manfaat pengindraan jauh di bidang hidrologi sudah pasti berguna untuk pengukuran siklus air. 

Sebenarnya istilah pengindraan jauh lebih dekat dengan terestrial dan pengamatan cuaca. Sedangkan saat ini pengindraan jauh sangat erat dengan astronomi. Astronomi yang berkaitan dengan pesawat luar angkasa. Namun, meskipun pemaknaannya berbeda, manfaat pengindraan jauh di bidang hidrologi tetaplah penting diketahui.

Manfaat pengindraan jauh di bidang hidrologi berkaitan erat dengan fenomena banjir. Termasuk fenomena kekeringan, pencemaran, sendimentasi, dan intensitas banjir. Mengetahui manfaat pengindraan jauh di bidang hidrologi tentu akan mempermudah pengelolaan sumber daya air. Utamanya pada aliran air sungai dan danau.

Berikut Liputan6.com ulas mengenai manfaat pengindraan jauh di bidang hidrologi dari berbagai sumber, Senin (18/5/2020).

2 dari 6 halaman

Pengindraan Jauh Menurut Ahli

Ilustrasi sungai.
Ilustrasi sungai. (iStockphoto)

Menurut Lillesand dan Kiefer (1979)(2007)

Penginderaan Jauh adalah ilmu dan seni untuk memperoleh informasi tentang obyek, wilayah, atau gejala dengan cara menganalisis data yang diperoleh dengan menggunakan alat tanpa kontak langsung terhadap obyek, wilayah, atau gejala yang dikaji.

Menurut Colwell (1984)

Penginderaaan Jauh yaitu suatu pengukuran atau perolehan data pada objek di permukaan bumi dari satelit atau instrumen lain di atas atau jauh dari objek yang diindera.

Menurut Curran (1985)

Penginderaan Jauh yaitu penggunaan sensor radiasi elektromagnetik untuk merekam gambar lingkungan bumi yang dapat diinterpretasikan sehingga menghasilkan informasi yang berguna.

Menurut American Society of Photogrammetry (1983)

Penginderaan jauh merupakan pengukuran atau perolehan informasi dari beberapa sifat objek atau fenomena, dengan menggunakan alat perekam yang secara fisik tidak terjadi kontak langsung dengan objek atau fenomena yang dikaji.

Menurut Avery (1985)

Penginderaan jauh merupakan upaya untuk memperoleh, menunjukkan (mengidentifikasi) dan menganalisis objek dengan sensor pada posisi pengamatan daerah kajian.

Menurut Lindgren (1985)

Penginderaan jauh yaitu berbagai teknik yang dikembangkan untuk perolehan dan analisis informasi tentang bumi.

3 dari 6 halaman

Alasan Manfaat Pengindraan Jauh

Ilustrasi hutan
Ilustrasi (iStock)

Pengindraan jauh sangat bermanfaat dalam mengurangi kegiatan survei. Utamanya pada kegiatan servei terestrial saat inventarisasi dan monitoring sumber daya alam dan lingkungan. Saat ini, penginderaan jauh semakin banyak dimanfaatkan pada berbagai macam bidang. Termasuk manfaat pengindraan jauh di bidang hidrologi ini. Nah, berikut penjelasan mengenai alasan manfaat pengindraan jauh:

- Dapat dibuat secara cepat meskipun pada daerah yang sulit ditempuh melalui daratan, contohnya hutan, rawa dan pegunungan.

- Dapat memberikan gambar tiga dimensi jika dilihat dengan menggunakan stereoskop. Gambar tiga dimensi itu sangat menguntungkan karena menyajikan model obyek yang jelas, pengukuran lereng dan pengukuran volume, memungkinkan pengukuran beda tinggi, dan relief lebih jelas.

- Dapat menggambarkan obyek di permukaan bumi dengan wujud dan letak objek yang mirip dengan aktualnya, mencakupan daerah yang luas, gambar relatif lengkap, dan sifat gambar yang permanen.

- Dapat memvisualisasikan benda yang tidak tampak sehingga dimungkinkan pengenalan obyeknya.

 

4 dari 6 halaman

Manfaat Pengindraan Jauh di Bidang Hidrologi

Ilustrasi banjir (iStock)
Ilustrasi banjir (iStock)

Pemanfaatan Daerah Aliran Sungai (DAS) dan Konservasi Sungai

Pada sebuah DAS ada aliran air yang jernih. Ada tumbuh-tumbuhan seperti pohon, rumput, dan berbagai tanaman. Fungsinya untuk membentuk lapisan tanah yang disebut humus. Humus terdiri dari sisa daun, kayu, bakteri, serangga, tumbuhan, dan hewan yang mati dan membusuk.

Fungsi humus, yakni untuk menyediakan nutrisi bagi tumbuhnya tanaman baru. Bersama dengan akar, tumbuh-tumbuhan ini menyerap air hujan. Nah, tanpa fungsi penangkapan air, tempat tinggal manusia dan habitat makhluk akan terancam.

Berikut bencana yang dapat terjadi:

- Banjir

Banjir terjadi karena air tak terserap ke tanah dan terus mengalir. Air akan mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat rendah. Jika ini terjadi, maka daerah yang rendah akan kerap mengalami banjir.

- Kekeringan

Jika di musim hujan terjadi banjir, maka di musim panas atau di musim kemarau bisa terjadi kekeringan. DAS ini berfungsi sebagai konservasi air. Ketika fungsinya hilang, maka air yang turun akan dialirkan terus ke muara, yakni laut.

- Penurunan tinggi muka tanah

Tanah bisa turun karena air terus disedot manusia. Hal ini banya terjadi di Jakarta. Maka tidak heran jika muka tanah Jakarta turun karena sebagian besar warga menyedot air dari tanah.

- Pencemaran

Warga Jakarta menggunakan air tanah karena air sungainya beracun dan tidak bisa dimanfaatkan. Padahal idealnya, air yang mengalir di sungai bisa dimanfaatkan. Namun karena pencemaran, sebanyak 13 sungai yang melewati Jakarta tak bisa dimanfaatkan.

Hal inilah yang membuat DAS perlu dikelola. Tentu saja agar tak menimbulkan masalah. Dikutip dari Dinamika Hidrosfer (2018), pengelolaan DAS didasarkan pada prinsip kelestarian sumber daya (resource sustainability).

Tujuan pengelolaan DAS:

- Tercapainya keseimbangan ekologis lingkungan

- Terjaminnya jumlah dan kualitas air sepanjang tahun

- Pengendalian aliran permukaan dan banjir

- Pengendalian erosi tanah

Beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk menjaga DAS:

- Tidak merusak pepohonan

- Menanam pohon dan memperbaiki lahan yang rusak

- Membuat waduk atau embung untuk memperbesar kapasitas tangkapan

- Sawah terasering

- Pembuatan sumur resapan

- Tidak membuang sampah sembarangan

- Tidak membangun di bantaran sungai

5 dari 6 halaman

Manfaat Pengindraan Jauh di Bidang Hidrologi

Banjir
Ilustrasi Foto Banjir (iStockphoto)​

Pemetaan Sungai dan Studi Sedimentasi Sungai

Sedimentasi pada perairan terjadi karena erosi pada tepi sungai. Tanah dan material organik akan masuk ke aliran sungai. Hingga berisiko menyebabkan terjadinya pengendapan di dasar sungai.

Hal itu terjadi karena vegetasi di tepi hulu sungai semakin sedikit. Dipengaruhi juga oleh degradasi hutan dan betonisasi. Sehingga kemampuan tanah menyerap air hujan menjadi menurun dan mengakibatkan erosi. Pendangkalan sungai akan membuat aliran lebih deras sampai ke hilir. Hingga debit air sungai berpotensi menyebabkan banjir.

Sebagian besar sungai di Indonesia sudah mengalami sedimentasi. Termasuk sungai besar yang melalui Provinsi DKI Jakarta, yakni sungai Ciliwung. Upaya yang paling efektif untuk sedimentasi sungai bisa dengan membenahi daerah tepi sungai. Terutama daerah hulu sampai muara.

Agar mendapatkan hasil maksimal, pembenahan tidak bisa dilakukan pada satu titik saja. Reboisasi dan pembuaatan biopori saja sudah efektif jika terjadi kerjasama dan komitmen antara pemerintah pusat, pemerintah daerah dan masyarakat yang baik. 

6 dari 6 halaman

Manfaat Pengindraan Jauh di Bidang Hidrologi

Banjir
Ilustrasi Foto Banjir (iStockphoto)​

Pemanfaatan Luas Daerah dan Intensitas Banjir

Penanggulangan banjir harus dilakukan secara bertahap. Mulai dari pencegahan sebelum banjir (prevention), penanganan saat banjir (response/intervention), dan pemulihan setelah banjir (recovery). Tahapan termasuk dalam siklus kegiatan penanggulangan banjir yang berkesinambungan.

Kegiatan penanggulangan banjir juga mengikuti suatu siklus (life cycle). Pencegahan harus dilakukan secara menyeluruh. Bisa berupa kegiatan fisik seperti pembangunan pengendali banjir di wilayah sungai (in-stream). Sampai wilayah dataran banjir (off-stream) dan kegiatan non-fisik seperti pengelolaan tata guna lahan sampai sistem peringatan dini bencana.

Setelah itu, perlu dirancang tindakan penanganan (response/intervention) pada saat bencana terjadi. Tindakan penanganan ini termasuk pemberitahuan dan penyebaran informasi tentang prakiraan banjir. Kemudian tanggap darurat, bantuan peralatan perlengkapan logistik penanganan banjir dan perlawanan terhadap banjir.

Pemulihan dilakukan sesegera mungkin, agar keadaan bisa kembali normal. Bisa dilaksanakan dengan pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari dan perbaikan sarana-prasarana. Kemudian rehabilitasi dan adaptasi kondisi fisik serta non-fisik.

 

 

Lanjutkan Membaca ↓