10 Teknik Fotografi ala Content Creator, Maksimalkan Kamera Ponsel

Oleh Laudia Tysara pada 14 Apr 2020, 19:38 WIB
Diperbarui 14 Apr 2020, 19:38 WIB
Ilustrasi Teknik Leading Line (Foto: James Wheeler/Pexels.com)
Perbesar
Ilustrasi Teknik Leading Line (Foto: James Wheeler/Pexels.com)

Liputan6.com, Jakarta Teknik fotografi ala Content Creator banyak dimanfaatkan. Karena memang foto dengan teknik ini sederhana dan hasilnya bisa cantik, bagus, dan perfect. Nah, kita sekarang memang sedang berada pada era semua orang bisa menjadi fotografer. Hal ini disebabkan karena kamera ponsel yang semakin canggih. 

Kamera ponsel memang semakin canggih, tetapi masih banyak juga yang tidak percaya diri menggunakannya. Apalagi sok-sokan mengambil foto di tepi jalan raya. Pengennya langsung pakai kamera besar biar kayak fotografer betulan. Padahal sekarang banyak Content Creator yang mengajak untuk memaksimalkan kamera ponsel dan menerapkan teknik fotografi ala Content Creator loh. Ada Boy Lagi, Mada Riyanhadi, Nikko Ilham, dan masih banyak lagi.

Karena memang fitur kamera ponsel didesain mirip dengan kamera DSLR meski tetap saja tidak bisa sama persis. Nah, teknik fotografi ala Content Creator ini sangat cocok untuk dipadukan dengan penggunaan kamera ponsel. Sulit dipercaya, tetapi memang hasilnya bagus dan Instagramable. Cocok dijadikan sebagai konten pada Instagram Stories atau juga Feed Instagram.

Nah, berikut penjelasan mengenai teknik fotografi ala Content Creator yang sudah Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Selasa (14/4/2020).

2 dari 11 halaman

1. Teknik Fotografi ala Content Creator: Shadow

Ilustrasi Teknik Shadow (Foto: @maggie-zhan/pexels.com)
Perbesar
Ilustrasi Teknik Shadow (Foto: @maggie-zhan/pexels.com)

Teknik fotografi yang seringkali digunakan oleh Content Creator adalah shadow atau bayangan. Hal ini disebabkan karena cahaya lebih memberikan kesan dramatis. Tidak sulit mencarinya, apalagi ketika matahari sedang terik.

Cara memotretnya juga tidak terlalu sulit. Hanya perlu sedikit memahami komposisi dan arah sumber cahayanya. Karena memang semua jenis bayangan bisa dijadikan konten foto yang menarik. Bisa mengandalkan bayangan benda, bayangan bangunan, bayangan orang, bahkan bayangan pohon dan dedaunan.

Menggunakan kamera ponsel sudah sangat cukup. Kamera ponsel sekarang tidak ada yang jelek kan? Jadi jangan sungkan untuk memotret bayangan menggunakan kamera ponsel milikmu ya. Cahaya matahari juga sangat berpotensi membuat fotomu lebih bokeh kalau istilahnya Content Creator.

3 dari 11 halaman

2. Teknik Fotografi ala Content Creator: Flat Flay

Ilustrasi Teknik Flat Flay (Foto: Daria Shevtsova/pexels.com)
Perbesar
Ilustrasi Teknik Flat Flay (Foto: Daria Shevtsova/pexels.com)

Teknik fotografi flat flay ini sering sekali digunakan untuk memotret makanan. Digunakan untuk memotret minuman misalnya kopi. Memotret benda seperti tas, laptop, bolpoin, kamera, dan dompet yang sudah disusun dengan rapi di atas meja atau juga lantai. Memotret buah bahkan orang, tetapi sangat jarang.

Sering digunakan untuk memotret makanan karena teknik ini akan membuat makanan yang disajikan lebih jelas. Tidak hanya jelas, tetapi kesan penyajiannya di meja makan juga bisa lebih sampai kepada penonton.

Jika diterapkan pada benda, teknik ini akan membuatnya lebih memiliki nilai estetika. Estetika ini menjadi lebih dalam dibandingkan dengan benda yang dipotret dengan teknik dan sudut apa adanya. Karena ketika flat flay, semua benda akan terlihat lebih sempurna.

4 dari 11 halaman

3. Teknik Fotografi Ala Content Creator: Human Interest

Ilustrasi Teknik Human Interest (Foto: Ingo Joseph/pexels.com)
Perbesar
Ilustrasi Teknik Human Interest (Foto: Ingo Joseph/pexels.com)

Teknik human interest ini tidak hanya digunakan oleh Content Creator, tetapi juga andalan para jurnalis. Objeknya selalu aktivitas manusia. Tentu saja aktivitas manusia yang bernilai dan mampu menimbulkan rasa simpati.

Misalnya saja seperti potret penjual es yang sedang memberikan es kepada pembeli. Kemudian pedagang cabe yang sedang membersihkan cabenya. Sampai potret orang yang sedang memotret.

Namun jika dibandingkan dengan para jurnalis, Content Creator tidak terlalu mementingkan simpati. Tetapi hanya memperhatikan komposisi. Teknik ini akan jauh lebih mudah diterapkan, terutama jika memotret dengan ponsel yang fitur grid atau garis bantunya diaktifkan. Tidak terlalu mementingkan ekspresi wajah, karena orang berdiri atau berjalan di tepi jalan juga menarik untuk dipotret jika komposisinya pas atau seimbang.

5 dari 11 halaman

4. Teknik Fotografi Ala Content Creator: Leading Line

Ilustrasi Teknik Leading Line (Foto: Tae Fuller/pexels.com)
Perbesar
Ilustrasi Teknik Leading Line (Foto: Tae Fuller/pexels.com)

Teknik fotografi leading line ini lebih mengarah pada garis imajiner yang ada dalam foto, bukan lagi garis bantu seperti grid. Namun jika mampu menggabungkan keduanya, foto yang dihasilkan juga akan lebih kuat. Conten Creator biasa menggunakan garis dan sudut pada bangunan.

Selain bangunan, teknik ini juga bisa mengandalkan pagar, jembatan, rel, keramik atau bahkan garis pantai. Hanya perlu menyeimbangkan komposisi garisnya saja. Jika mampu menguasainya, maka foto yang dihasilkan juga akan lebih hidup. Landscape atau potrait hasilnya akan sama menariknya, hanya perlu disesuaikan dengan seluruh objeknya saja.

6 dari 11 halaman

5. Teknik Fotografi Ala Content Creator: Framing

Ilustrasi Teknik Framing (Foto: Sean Valentine/Pexels.com)
Perbesar
Ilustrasi Teknik Framing (Foto: Sean Valentine/Pexels.com)

Teknik fotografi framing nampak sederhana tetapi sebenarnya tidak mudah menerapkannya. Biasa menggunakan bantuan objek foto untuk dijadikan framing-nya. Jadi, tidak sekadar memberikan frame pada foto biasa.

Paling sering digunakan untuk frame bantuan adalah ranting pohon, bunga, jendela, cermin, pintu, atau bahkan tutup botol juga bisa. Sederhana bukan? Tetapi yang paling sulit adalah membuat objek di dalam frame benar-benar layak untuk dipotret. Maksudnya tidak hanya sekadar memotret frame saja, tetapi momen di dalam frame juga harus terlihat.

Jika tidak ada momen, maka foto yang dihasilkan tidak akan bernilai. Kecuali objek yang biasa untuk frame digunakan untuk objek utuh, ini akan jauh lebih baik. Tetapi jangan lupa untuk memperhatikan teknik yang pas juga ya.

7 dari 11 halaman

6. Teknik Fotografi Ala Content Creator: Slow Sutter Mode

Ilustrasi Teknik Slow Sutter Mode (Foto:@ps-photography/pexels.com)
Perbesar
Ilustrasi Teknik Slow Sutter Mode (Foto:@ps-photography/pexels.com)

Teknik fotografi slow sutter mode ini kuncinya adalah setting atau pengaturan pada kamera. Tapi tenang, kamera ponsel juga bisa diatur kok. Tekniknya dengan mengecilkan aperture atau diafragma atau bukaan cahayanya. Semakin terang cahayanya, maka semakin kabur objek yang akan ditangkap.

Tujuan dari teknik ini memang untuk benda-benda yang bergerak bisa nampak kabur, tetapi ada beberapa objek yang masih utuh. Kelemahan dari teknik ini, jika digunakan saat matahari terik, akan terjadi overexposure atau foto sangat terang. Namun masalah ini bisa diatasi dengan mengecilkan iso-nya.

8 dari 11 halaman

7. Teknik Fotografi Ala Content Creator: Where I Stand

Ilustrasi Teknik Where I Stand (Foto: Oleg Magni/Pexels.com)
Perbesar
Ilustrasi Teknik Where I Stand (Foto: Oleg Magni/Pexels.com)

Teknik fotografi where I stand ini biasa digunakan oleh Content Creator Instagram. Mereka menggunakannya untuk memotret kaki atau tangan yang disertai benda yang sebenarnya menjadi poin utama.

Teknik ini juga biasa dipadukan dengan teknik flat flay. Penerapannya bisa dengan menunjukkan kaki atau tangan yang sedang membawa secangkir kopi. Seperti namanya, teknik ini sengaja digunakan untuk menunjukkan bahwa si pemotret benar-benar berada di sana.

9 dari 11 halaman

8. Teknik Fotografi Ala Content Creator: Silhouette

Ilustrasi Teknik Silhouette (Foto: @belle/Pexels.com)
Perbesar
Ilustrasi Teknik Silhouette (Foto: @belle/Pexels.com)

Teknik fotografi silhouette sudah banyak diterapkan di dunia foto. Bahkan tidak hanya Content Creator dan fotografer saja, tetapi sudah banyak sekali orang mengandalkan teknik ini. Kuncinya hanya pada cahaya matahari sore. Cahaya matahari sore ini akan dipadukan dengan langit yang berwarna orange.

Tidak hanya orang dengan warna hitam dominan yang bisa dijadikan objek. Tetapi benda apa saja juga menarik untuk dijadikan objek hitam dominan, seperti bangunan, jembatan, pohon, bahkan sepeda. Estetikanya akan semakin dalam jika dipadukan dengan warna orange langit senja.

10 dari 11 halaman

9. Teknik Fotografi Ala Content Creator: Puddlegram

Ilustrasi Teknik Puddlegram (Foto: @wei-chong-teng/pexels.com)
Perbesar
Ilustrasi Teknik Puddlegram (Foto: @wei-chong-teng/pexels.com)

Teknik fotografi puddlegram ini belum banyak yang menerapkannya. Tidak lagi cahaya matahari yang diandalkan. Tetapi air hujan atau sebut saja air becek bekas hujan. Sebenarnya kuncinya hanya pada becek. Jadi jika ingin sengaja dibuat becek juga bisa.

Bisa juga menggunakan air danau, sungai, bahkan pantai yang memantulkan bayangan benda. Namun dramatisasinya akan lebih terasa jika disebabkan oleh air hujan.

Nah, teknik ini sangat cocok untuk orang-orang yang mengandalkan kamera ponsel. Hal ini disebabkan karena kamera ponsel lebih mudah dibalik. Tetapi pengambilan gambarnya tidak dibalik juga bisa, asal masih mau mengedit hasil fotonya. Hanya perlu me-rotate saja.

Kesulitan dalam teknik ini adalah mendapatkan objek yang pas di dalam frame air becek. Tidak sekadar pantulan diri sendiri, tetapi bisa menampilkan pantulan gedung, pesepeda, pejalan kaki, orang lari atau anak-anak yang sedang bermain.

11 dari 11 halaman

10. Teknik Fotografi Ala Content Creator: Pola

Ilustrasi Teknik Pola (Foto: Jimmy Chan/Pexels.com)
Perbesar
Ilustrasi Teknik Pola (Foto: Jimmy Chan/Pexels.com)

Teknik fotografi yang mengandalkan pola ini juga jarang dilakukan. Hal ini disebabkan karena benda atau bangunan yang membentuk pola tidak banyak. Misalnya saja pola tangga yang melingkar, pola tangga persegi, pola bangunan persegi, dan masih banyak bentuk pola yang lain.

Biasanya tempat-tempat dengan pola seperti ini bisa ditemui di gedung bertingkat, karena tangganya banyak. Museum, perpustakaan, jalan layang yang bertingkat, dan masih banyak lagi. Tetapi jangan lupa juga untuk tetap memerhatikan komposisi yang pas dan menggunakan grid ya.

 

Lanjutkan Membaca ↓