Ria Tri Sulistyani Sang Seniman 'Pesta Boneka' yang Sukses Tampil di 17 Negara

Oleh Nisa Mutia Sari pada 14 Des 2019, 06:25 WIB
Diperbarui 15 Des 2019, 11:13 WIB
Papermoon Puppet Theatre

Liputan6.com, Jakarta “Berkunjung ke Jogja, enggak melulu hanya sebatas naik delman. Jogja tempatnya para seniman, banyak karya seni yang bisa dinikmati.”  

Kalimat di atas merupakan sepenggal tanggapan dari Ria Papermoon atau pemilik nama Maria Tri Sulistyani untuk pengunjung Kota Jogja. Ya, menghabiskan waktu liburan di Kota Jogja memang kurang lengkap rasanya jika tidak berjalan-jalan di Malioboro atau bahkan naik delman.

Tapi Jogja tak cuma jalan-jalan di Malioboro. Banyak kegiatan seru lainnya untuk menikmati Jogja. Salah satunya dengan menonton pentas seni teater boneka. Mungkin bagi sebagian orang boneka sekadar mainan anak-anak.

Namun, berbeda dengan sosok Maria Tri Sulistyani atau Ria Papermoon. Di tangan dan idenya yang cemerlang, boneka bisa dijadikan sebagai sebuah karya seni unik dengan tampilan berbeda.

Maria Tri Sulistyani merupakan sosok inspiratif. Ia salah satu pencetus Papermoon Puppet Theatre. Papermoon Puppet Theatre merupakan komunitas yang kini merupakan company teater boneka yang sudah malang melintang melakukan tur ke berbagai kota di Tanah Air bahkan dunia.

Karya seni milik Ria hadir untuk menyampaikan pesan dengan mengambil cerita lewat masalah sederhana yang sering muncul dari kegiatan sehari-hari. Keintiman dalam karyanya sangat ditonjolkan sehingga menjadi sebuah karya eksklusif yang patut dibanggakan.

Seperti apa sosok di balik suksesnya pementasan teater boneka asal Jogja ini? Berikut cerita Ria Papermoon kepada Liputan6.com saat ditemui di kediamannya pada Jumat (8/11/2019).

2 of 6

Mengenal Sosok di Balik Hadirnya Papermoon Puppet Theatre

Papermoon Puppet Theatre
Ria Papermoon/ Sumber: Instagram @riapapermoon

Maria Tri Sulistyani atau akrab disapa Ria Pappermoon, merupakan orang di balik terciptanya karya seni boneka-boneka kertas. Wanita yang biasa disapa Ria merupakan sosok di balik kesuksesan pagelaran Pesta Boneka Papermoon Puppet Theatre hingga ke mancanegara.

Wanita kelahiran Jakarta 38 tahun silam ini sudah menyukai dunia seni sejak kecil. Namun, kesukaannya tersebut tak pernah diamini oleh orangtua Ria.

Sampai akhirnya Ria memilih melanjutkan pendidikan pada tahun 1999 di Universitas Gadjah Mada (UGM) Jurusan Ilmu Komunikasi. Untuk menggapai keinginannya, semasa kuliah ia aktif di kelompok teater dan bertemu para seniman.

Setelah bergelar sarjana, Ria mendirikan Papermoon pada April 2006 di Yogyakarta. Papermoon merupakan sanggar anak yang diisi oleh para relawan. Sanggar sempat vakum akibat gempa Jogja tahun 2007 silam.

Kondisi ini membuat relawan semakin berkurang. Sampai yang tersisa hanya Ria dan Iwan, yang kini menjadi suaminya. Pada 2008, keduanya ingin membangkitkan kembali Papermoon. Lalu terciptalah Papermoon Puppet Theatre.

Kembali bangkit, nyawa Papermoon Puppet Theatre mulai muncul berkat ilmu yang telah mereka dapatkan selama mengenyam beasiswa di Amerika. Keduanya mendalami teater selama enam bulan, tepatnya di pertengahan tahun 2009 hingga 2010.

Selama tinggal di sana, keduanya bertemu dan berdiskusi dengan puluhan seniman teater boneka serta menonton pertunjukan. Berkat kepiawaian dan kecintaan mereka pada dunia seni teater boneka, akhirnya Ria dan Iwan memutuskan untuk benar-benar fokus mengembangkan Papermoon.

Papermoon Puppet Theatre merupakan kelompok seniman yang mamiliki serangkaian kegiatan tak hanya pementasan teater boneka. Melainkan juga sebagai bentuk workshop dan pagelaran festival teater boneka berskala internasional.

3 of 6

Papermoon Puppet Theatre Bukan Wayang Boneka

Papermoon Puppet Theatre
Papermoon Puppet Theatre Studio / Sumber: Instagram @papermoonpuppet

Kini Papermoon sudah mempunyai studio di Desa Sembungan, Banguntapan, Bantul, Yogyakarta. Saya mencari Papermoon Puppet Theatre pada kolom pencarian di Google Maps dan diarahkan ke Jogja bagian barat.  

Mengikuti arahan dari Google Maps, saya menemukan studio sederhana yang terletak di paling ujung desa. Sesampainya di sana, saya dibuat takjub. Terdapat gedung berbentuk segitiga dan rumah sederhana di sebelahnya.

Rumah berbentuk segitiga tersebut merupakan tempat menjual berbagai produk sovenir dari Papermoon. Sedangkan gedung di sebelahnya merupakan studio yang biasa digunakan sebagai tempat berproses hingga wadah untuk pementasan.

Menuju ke gedung pementasan, studio tersebut tengah ramai dengan penonton yang ingin menikmati pementasan teater boneka dari seniman asal Peru. Setelah pementasan, saya bertemu dengan Ria.

Ria Papermoon sangat antusias menceritakan perjalanan Papermoon Puppet Theatre. Menurutnya Papermoon bukan wayang boneka, walaupun dalam bahasa Indonesia Puppet bermakna wayang.

Ria selalu menolak jika ada seseorang yang mengatakan Papermoon adalah wayang. Namun mereka tetap menganggap Papermoon sebagai teater boneka. Baginya, wayang termasuk bagian dari teater boneka.

“Kami tidak memulai dari tradisi. Karena kami (Ria dan Iwan) memiliki basic di seni teater dan seni rupa, maka jadilah Papermoon Puppet Theatre ini. Dengan begini kami lebih membebaskan proses,” cerita Ria kepada Liputan6.com.

Menurut Ria, wayang dengan teater boneka sama-sama menggunakan obyek dalam sebuah pementasannya dan kedua obyek tersebut selalu mengalami perkembangan.

4 of 6

Prestasi Ria Bersama Papermoon Puppet Theatre

Papermoon Puppet Theatre
Tulus dan Papermoon Puppet Theatre (Foto: Rajawali Indonesia)

Berkat ibu satu anak ini, Papermoon Puppet Theatre membawa angin segar bagi pertunjukan teater boneka di Jogja. Bisa dibilang Papermoon Puppet Theatre sebagai satu-satunya teater boneka saat itu, sebelum bermunculan teater-teater sejenis lainnya.

Sebelum melakukan tur ke seluruh dunia dalam berbagai kesempatan, seperti Asean Puppetry Festival (2012), Darwin Festival (2013), dan terbaru membuat karya di Hawaii (2019), perjalanan karier Papermoon bermula dari kontribusinya kepada masyarakat gempa Jogja waktu itu. Mereka menjadi relawan untuk program rehabilitasi para korban bencana.

Mereka menggunakan boneka sebagai media untuk rehabilitasinya. Media ini dirasa sangat sederhana karena bisa dibuat sendiri oleh para pengungsi serta bahannya yang mudah ditemukan, yaitu kertas.

Ya, kertas merupakan bahan dasar utama pembuatan Papermoon. Sampai saat ini, bahan dasar tersebut masih tetap digunakannya. Inilah yang menjadi keunikan tersendiri dari teater boneka Papermoon.

Setelah bangkit dan menemukan jati diri untuk Papermoon Puppet Theatre, mereka memulai pementasan teater boneka yang diberi nama Pesta Boneka.  

5 of 6

Konsep Teater Boneka yang Unik dan Inspiratif

Papermoon Puppet Theatre
Papermoon Puppet Theatre Studio / Sumber: Instagram @papermoonpuppet

Tak hanya diurus oleh Ria dan Iwan, komunitas ini mendirikan tim kecil yang berisikan lima orang saja hingga saat ini. Ya, teater boneka unik ini hanya dikelola oleh sebagain kecil orang-orang saja.

Di balik anggotanya yang terbilang minim, seperti Ria sebagai penyusun naskah, Iwan sebagai penerjemah sisi artistik karena memiliki latar belakang seni rupa, Anton Fajri, Pambo Priyojati, dan Beni Sanjaya. Semua pekerjaan serba dikerjakan sendiri oleh mereka.

Walaupun begitu, siapa yang menyangka Papermoon Puppet Theatre telah tampil ke berbagai penjuru negara. Ini membuktikan bahwa teater boneka ini punya keunikan tersendiri.

Keunggulan boneka kertas ini terinspirasi dari teknik tradisi Jepang, yaitu Kuruma Ningyo dan Bunraku. Konsep ini dipilih, karena bagi Ria rasa penyampaian pesannya bisa langsung sampai.

“Hingga saat ini kami sudah mengunjungi sekitar 15-17 negara dan itu semua diundang langsung. Kami bebas ingin mementaskan apa di sana. Dan Negara terakhir kemarin di Hawaii. Di sana kami membuat karya,” lanjut Ria.

Selain menggunakan bahan dasar kertas, konsep cerita yang digunakan dalam setiap pementasan selalu berbeda. Mereka kerap melakukan riset atau mencari data terlebih dahulu sebelum melakukan pementasan. Cerita yang dibawakan tak terlepas dari masalah di kehidupan sehari-hari.

Misalnya pada karya yang cukup fenomenal yang berjudul ‘Secangkir Kopi dari Playa’. Berkat karya-karya unik Papermoon seperti itu, membuat beberapa orang tertarik tak hanya untuk menyaksikan pementasan.

Kini tawaran demi tawaran untuk bekerja sama dalam proyek pementasan lebih besar dari biasanya kerap didapatkan oleh Papermoon. Namun, Ria tak semudah itu untuk meng-iya-kan tawaran-tawaran itu.

Butuh pertimbangan yang cukup panjang dan mendalam untuk membawa teater boneka ke media yang lebih luas. Hal ini dikarenakan Ria tetap ingin mengedepankan kenyamanan dan keintiman dalam karyanya.

“Kolaborasi sama musisi pertama kali sama Mocca tahun 2009. Kemudian membantu jadi penata artistik di Frau. Lalu ada AADC 2 dan terakhir konser Manusia Kuat dari Tulus,” lanjutnya bercerita.

 

6 of 6

Pesta Boneka Papermoon Puppet Thetare

Papermoon Puppet Theatre
Papermoon Puppet Theatre Studio / Sumber: Instagram @papermoonpuppet

Bukan hanya tur pementasan dari negara ke negara dan workshop saja, Papermoon juga punya festival teater boneka internasional. Festival ini diberi nama Pesta Boneka atau Pesta Boneka and International Biennale Puppets Festival.

Pesta Boneka ini sudah berjalan sejak 2008 dan rutin digelar dua tahun sekali di Yogyakarta. Pesta Boneka milik Papermoon merupakan wadah bagi seniman teater boneka untuk menampilkan karyanya. Para seniman yang menjadi peserta ini datang dari penjuru Negara.

Biasanya Pesta Boneka diadakan di IFI Jogja dan di desa-desa. Untuk pementasan Pesta Boneka selanjutnya akan dilaksanakan tahun depan, tepatnya pada 8-11 Oktober 2020.

Untuk lokasinya masih sama, namun desanya masih belum ditentukan. Jadi, buat kamu yang tertarik dan penasaran dengan pementasan teater boneka dari Papermoon atau seniman lainnya dari seluruh dunia, kamu bisa pantengin terus akun sosial media Papermoon untuk info pementasan Pesta Boneka selanjutnya.

Lanjutkan Membaca ↓