Dikabarkan Jadi Menhan, Ini Kilas Balik Perjalanan Karier Politik Prabowo Subianto

Oleh Putra Marenda pada 21 Okt 2019, 22:11 WIB
Prabowo Subianto

Liputan6.com, Jakarta Senin (21/10/2019) Presiden Joko Widodo memanggil sejumlah tokoh untuk datang ke Istana. Hal tersebut dilakukan Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk memilih calon menteri di Kabinet Kerja jilid II. Beberapa tokoh sudah terlihat mendatangi istana seperti Wishnutama, Mahfud MD hingga Prabowo Subianto

Hadirnya Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dengan baju putih ke istana menjadi sorotan. Berdasarkan dengan pengakuan Prabowo saat ditanya media, ia diminta bantuan Jokowi terkait bidang pertahanan negara. 

"Saya diminta membantu Beliau (Jokowi) di bidang pertahanan. Saya sudah sampaikan keputusan kami, daripada Partai Gerindra apabila diminta kami siap membantu, dan hari ini resmi diminta, dan kami setuju untuk membantu," ungkap Prabowo di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (21/10/2019). 

Adanya kemungkinan Prabowo menjadi Menteri Pertahanan di Kabinet Kerja Jilid II membuat banyak pengamat menilai plus minusnya. Di luar polemik itu, berikut Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, perjalanan karier politik Prabowo Subianto, Senin (21/10/2019).

2 of 7

Mengawali karier politik pada 2004

Tawa Jokowi dan Prabowo di Istana Merdeka
Presiden Joko Widodo tertawa saat menerima Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (11/10/2019). Dalam pertemuan tersebut mereka membahas permasalahan bangsa dan koalisi. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Prabowo Subianto, anak dari Soemitro Djojohadikusumo, seorang menteri masa pemerintahan Presiden Soeharto mengawali karier politik pada 2004. Pada tahun tersebut, lulusan Akabri tahun 1974 maju sebagai calon presiden dari Partai Golkar melalui jalan konvensi.

Pada konvensi tersebut, Prabowo hanya mendapatkan 39 suara saja. 39 suara tersebut menjadi perolehan terendah dari lima calon yakni Wiranto, Akbar Tanjung, Aburizal Bakrie dan Surya Paloh. Pada akhirnya konvensi tersebut dimenangkan oleh Wiranto dan maju bersama Solahuddin Wahid, adik dari almarhum presiden RI ke-4, Abdurrahman Wahid mewakili Golkar pada Pemilu 2004.

3 of 7

Membentuk Gerindra pada 2008

Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) resmi dibentuk oleh Prabowo pada 2008. Bersama dengan tokoh nasional lainnya seperti Fadli Zon, Hashim Djojohadikusumo, Suhardi dan Muchdi Pr, Gerindra terbentuk menjadi partai politik baru di Indonesia yang mengusung nilai kebangsaan, kerakyatan, religius dan keadilan sosial.

 

4 of 7

Maju menjadi cawapres bersama Megawati pada pemilu 2009

Mega-Prabowo
Mega-Prabowo di Batu Tulis. (Istimewa)

Pada 2008 menjadi tahun terbentuknya Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) yang diprakarsai oleh Prabowo Subianto. Dengan partai tersebut, Prabowo mencalonkan diri menjadi presiden Republik Indonesia. 

Dengan hasil hanya memperoleh 26 kursi di DPR  (dari total 560 kursi), membuat Gerindra tidak lolos syarat minimum untuk mengajukan calon presiden sendiri sehingga membuat Gerindra harus berkoalisi. Kemudian Prabowo berkoalisi dengan ketua umum PDIP, Megawati Soekarnoputri. Prabowo berada di posisi calon wakil presiden.

Dengan mengusung ekonomi kerakyatan sebagai program kampanye, akhirnya pasangan Mega-Prabowo maju sebagai calon presiden Republik Indonesia pada pemilu 2009. Sayangnya, pasangan Mega-Prabowo hanya peroleh 27% dan kalah dari pasangan SBY-Boediono.

 

5 of 7

Menjadi calon presiden 2014 bersama Hatta Rajasa

Setelah gagal pada pemilu 2009, Prabowo mencalonkan diri sebagai capres pada pemilu 2014. Kali ini, Prabowo didukung oleh koalisi yang terdiri dari partai Golkar, PPP, PAN, PKS dan PBB. Bersama dengan Hatta Rajasa dari PAN, Prabowo menjadi penantang serius pasangan Joko Widodo dan Jusuf Kalla.

Sayangnya, pada pemilu 2014 pasangan Prabowo dan Hatta kalah suara dengan pasangan Joko Widodo dan Jusuf Kalla. Hasil resmi pemilu 2014 menunjukkan pasangan Jokowi-Jusuf Kalla berhasil meraup 70.997.833 suara atau 53,15%. Sementara pasangan Prabowo-Hatta Rajasa hanya meraih 62.576.444 suara atau 46,85%.

6 of 7

Bersama Sandiaga Uno, maju sebagai capres pada pemilu 2014

Senyum Prabowo-Sandi Terima Putusan MK
Capres nomor urut 02 Prabowo Subianto (kiri) berjabat tangan dengan cawapres Sandiaga Uno usai memberi ketarangan terkait hasil putusan Mahkamah Konstitusi (MK), Jakarta, Kamis (27/6/2019). MK tak menemukan bukti terkait ketidaknetralan aparatur negara dalam Pilpres 2019. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

17 April 2019, menjadi momen penting. Prabowo bersama pasangannya Sandiaga Uno menjadi penantang Joko Widodo dan Ma'ruf Amin di pemilu 2019. Dengan didukung koalisi Indonesia Adil Makmur yang diisi oleh 5 partai, Gerindra, PKS,PAN, Partai Demokrat dan Partai Berkarya.

Hasil dari pemilu 2019 kembali tidak berpihak bagi pensiunan jenderal bintang tiga ini. Untuk kedua kalinya, Prabowo harus mengakui kekalahan dari Joko Widodo. KPU menetapkan Jokowi-Amin menang dengan perolehan suara 85.607.362 atau 55,50%, berbanding 68.650.239 atau 44,50% suara milik Prabowo-Sandi.

 

7 of 7

Prabowo jadi calon Menhan di Kabinet Kerja Jilid II

Baru-baru ini, Prabowo datang ke istana negara atas undangan Presiden terpilih Joko Widodo. Berdasarkan pernyataan Prabowo, ia diminta bantuan Jokowi terkait bidang pertahanan negara.

"Saya diminta membantu Beliau (Jokowi) di bidang pertahanan. Saya sudah sampaikan keputusan kami, daripada Partai Gerindra apabila diminta kami siap membantu, dan hari ini resmi diminta, dan kami setuju untuk membantu," ungkap Prabowo di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (21/10/2019).

Kehadiran Prabowo menjadi kejutan tersendiri bagi para kalangan pengamat politik. Bahkan kata pengamat politik Adi Prayitno menilai apabila Prabowo benar-benar menjadi Menteri Pertahanan (Menhan), akan menjadi hal yang spektakuler.

"Kejutan pertama misalnya ada Prabowo datang, yang selama ini ditenggarai sebagai salah satu calon Menhan kan, itu luar biasa, itu akan menjadi suatu hal spektakuler kalau terjadi. Artinya, keinginan Prabowo jadi menteri bukan hanya isapan jempol belaka, tapi akan menjadi fakta sejarah yang dicatat, itu menurut saya menteri kejutan, yang lain sih relatif biasa aja," kata Adi sebagaimana dikutip dari merdeka.com, Senin (21/10/2019).

Lanjutkan Membaca ↓