6 Gangguan Kehamilan yang Bisa Berakibat Fatal, Jangan Abaikan

Oleh Anugerah Ayu Sendari pada 09 Okt 2019, 13:35 WIB
Diperbarui 11 Okt 2019, 08:14 WIB
hamil

Liputan6.com, Jakarta Kehamilan menjadi masa yang penuh perjuangan bagi seorang ibu. Beberapa masalah kehamilan mungkin tak perlu dikhawatirkan karena merupakan reaksi alami. Namun, beberapa masalah lainnya tak boleh diabaikan karena dapat menimbulkan komplikasi. 

Gangguan dapat timbul pada kehamilan karena berbagai alasan. Kondisi ini dapat datang karena kondisi kesehatan ibu atau perubahan hormon dan tubuh yang terjadi selama kehamilan. Jika tak segera mendapat penanganan, gangguan ini dapat membahayakan ibu dan bayi.

Komplikasi selama kehamilan dapat terjadi di tiap trimester kehamilan. Menjaga kesehatan dan mewaspadai gangguan ini sejak dini membuat ibu akan berisiko lebih rendah mendapatkan gangguan kehamilan ini. Berikut gangguan kehamilan yang bisa berakibat fatal, dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber, Rabu(9/10/2019).

2 of 7

Cairan ketuban terlalu sedikit (oligohidramnion)

Kehamilan
Ilustrasi/copyright shutterstock.com

Kantung ketuban dipenuhi cairan yang melindungi dan mendukung bayi yang sedang berkembang. Ketika cairan terlalu sedikit, kondisi ini disebut oligohidramnion.

Sekitar 8% wanita hamil dapat memiliki tingkat cairan ketuban yang rendah, dengan sekitar 4% didiagnosis menderita oligohidramnion. Biasanya kondisi ini terhadu pada trimester ketiga.

Risiko yang terkait dengan oligohidramnion sering tergantung pada kehamilan. Komplikasi oligohidramnion meliputi keguguran, pematangan paru yang terlambat atau tidak lengkap, lahir sesar, dan cacat lahir.

3 of 7

Infeksi saluran kemih

Kehamilan
Ilustrasi/copyright shutterstock.com

Infeksi saluran kemih kerap terjadi pada masa kehamilan. Ini karena kanin yang tumbuh dapat memberikan tekanan pada kandung kemih dan saluran kencing. Kondisi ini menjebak bakteri atau menyebabkan urin bocor. Pada usia kehamilan enam minggu, hampir semua wanita hamil mengalami dilatasi ureter. Kondisi ini terjadi ketika uretra mengembang dan terus mengembang sampai melahirkan.

Saluran kemih yang lebih besar, seiring dengan peningkatan volume kandung kemih dan penurunan tonus kandung kemih, semuanya menyebabkan urin tertahan di uretra. Ini memungkinkan bakteri untuk tumbuh.

Lebih buruk lagi, urin wanita hamil menjadi lebih terkonsentrasi dalam jenis hormon dan gula. Ini dapat mendorong pertumbuhan bakteri dan menurunkan kemampuan tubuh melawan bakteri jahat yang mencoba masuk.

Infeksi apa pun selama kehamilan bisa sangat berbahaya bagi ibu dan bayi. Ini dapat meningkatkan risiko persalinan prematur. Tanda dan gejala ISK meliputi rasa terbakar atau buang air kecil yang menyakitkan, urin keruh atau bernoda darah, nyeri panggul atau punggung bagian bawah, sering buang air kecil, dan mual atau muntah.

4 of 7

Anemia

Masalah Kehamilan
Ilustrasi/copyright shutterstock.com

Wanita yang hamil berisiko lebih tinggi terkena anemia karena kebutuhan jumlah darah untuk membantu memberikan nutrisi bagi bayi. Ketika menderita anemia, darah tubuh tidak memiliki cukup sel darah merah yang sehat untuk membawa oksigen ke jaringan dan bayi.

Anemia selama kehamilan bisa menjadi kondisi ringan dan mudah diobati jika ketahuan sejak dini. Namun, itu bisa menjadi berbahaya, baik bagi ibu dan bayinya, jika tidak diobati. Beberapa jenis anemia dapat berkembang selama kehamilan termasuk pada anemia defisiensi besi, anemia defisiensi folat, dan kekurangan vitamin B12.

Anemia defisiensi besi yang parah atau tidak diobati selama kehamilan dapat meningkatkan risiko mengalami bayi prematur atau berat badan lahir rendah, kehilangan banyak darah saat persalinan, depresi pascapersalinan, bayi dengan anemia dan anak dengan keterlambatan perkembangan.

5 of 7

Diabetes gestasional

Kehamilan
Ilustrasi/copyright shutterstock.com/Odua Images

Diabetes gestasional adalah bentuk diabetes yang didiagnosis selama kehamilan. Ini membuat ibu lebih tinggi terkena diabetes setelah hamil. Seperti diabetes tipe 2, diabetes gestasional disebabkan oleh resistensi insulin. Pada kehamilan, tubuh secara alami menjadi sedikit resisten terhadap insulin.

Penyebab pasti diabetes gestasional tidak diketahui, tetapi hormon kemungkinan memainkan peran. Selama kehamilan, beberapa wanita mengembangkan kadar gula darah tinggi. Diabetes gestasional biasanya berkembang antara minggu ke-24 dan ke-28 kehamilan.

Jika tak segera ditangani diabetes gestasional juga dapat meningkatkan risiko bayi mengidap diabetes. Risiko kesehatan lain untuk bayi termasuk penyakit kuning, sindrom gangguan pernapasan, kadar mineral rendah dalam darah, dan hipoglikemia.

6 of 7

Placenta previa

Kehamilan
Ilustrasi/copyright shutterstock.com

Plasenta previa terjadi ketika plasenta bayi menutupi sebagian atau total serviks ibu. Placenta previa biasanya tidak menjadi masalah di awal kehamilan. Tetapi jika plasenta menutupi serviks saat kehamilan berlanjut, itu dapat menyebabkan perdarahan hebat selama kehamilan dan persalinan.

Plasenta previa terjadi pada 1 dari 200 persalinan. Wanita yang memiliki plasenta previa harus melahirkan melalui operasi caesar. Pendarahan vagina merah cerah tanpa rasa sakit selama paruh kedua kehamilan adalah tanda utama plasenta previa. Beberapa wanita juga mengalami kontraksi.

Penyebab pasti dari plasenta previa tidak diketahui namun beberapa faktor diketahui dapat memicunya. Ini termasuk memiliki bekas luka di rahim, kelahiran sesar sebelumnya, pengangkatan fibroid rahim, kuretase, mengandung lebih dari satu janin. berusia 35 tahun atau lebih, merokok, dan menggunakan kokain.

7 of 7

Preeklampsia

Makanan yang Harus Dihindari Ibu Hamil Saat Buka Puasa dan Sahur
Preeklampsia / Sumber: iStockphoto

Preeklampsia adalah suatu kondisi yang ditandai oleh tekanan darah tinggi dan kadar protein yang tinggi dalam urin wanita. Preeklampsia adalah kondisi serius yang mempengaruhi sekitar 5 persen wanita hamil. Kondisi ini biasa didiagnosis setelah 20 minggu kehamilan.

Preeklampsia dapat berkembang dengan cepat, dan preeklamsia yang parah dapat mempengaruhi banyak organ dan menyebabkan masalah serius atau bahkan mengancam jiwa. Dalam kasus yang serius, gejalanya mungkin termasuk sakit kepala parah, kabur atau hilangnya penglihatan sementara, sakit perut bagian atas, mual dan muntah, penurunan output urin, kenaikan berat badan mendadak, dan bengkak di wajah dan tangan.

Bagi kebanyakan wanita, preeklampsia tidak akan mempengaruhi kesehatan bayi. Namun, beberapa kasus preeklampsia dapat mencegah plasenta mendapatkan cukup darah. Preeklampsia dapat menyebabkan komplikasi serius pada ibu dan bayi.

Beberapa komplikasi termasuk pertumbuhan lambat, berat badan lahir rendah, kelahiran prematur, kesulitan bernafas untuk bayi, solusio plasenta, dan eklampsia. Eklampsia terjadi ketika preeklamsia berkembang dan menyerang sistem saraf pusat, menyebabkan kejang.

Lanjutkan Membaca ↓