Penyebab dan Gejala Preeklampsia, Hipertensi yang Berbahaya pada Kehamilan

Oleh Nisa Mutia Sari pada 09 Okt 2019, 08:15 WIB
Penyebab dan Gejala Preeklampsia

Liputan6.com, Jakarta Preeklampsia merupakan kondisi yang berbahaya pada saat kehamilan. Kondisi ini diakibatkan oleh tekanan darah tinggi dan kelebihan protein dalam urine. Biasanya, kondisi ini muncul pada usia kehamilan 20 minggu atau lebih.

Apabila preeklampsia tidak segera diobati maka dapat menjadi eklampsia. Eklampsia merupakan kondisi preeklampsia yang disertai kejang. Kondisi ini dapat berakibat fatal bagi ibu dan janin, bahkan dapat menyebabkan kematian.

Kondisi ini tidak bisa dianggap sepele. Oleh karena itu, ibu hamil atau Anda yang ingin merencakan kehamilan perlu mengetahui penyebab serta gejala preeklampsia agar tidak semakin parah. Berikut penyebab dan gejala preeklampsia yang telah Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Rabu (9/10/2019).

2 of 5

Mengenal tentang Preeklampsia

Penyebab dan Gejala Preeklampsia
Mengenal preeklampsia | Via: istimewa

Preeklampsia merupakan komplikasi yang terjadi pada masa kehamilan. Komplikasi ini ditandai dengan tekanan darah yang tinggi, hingga mencapai angka 140/90 mmHg. Kondisi ini terjadi ketika usia kehamilan memasuki 20 minggu atau akhir trimester kedua sampai trimester ketiga.

Kondisi ini dapat membahayakan organ-organ tubuh lainnya seperti ginjal dan hati. Preeklampsia dapat menyebabkan eklampsia, suatu kondisi serius yang dapat mengakibatkan Anda dan bayi dalam risiko dan dalam kebanyakan kasus menyebabkan kematian.

Ibu hamil dengan preeklampsia yang mengalami kejang dianggap memiliki eklampsia. Apabila tidak segera ditangani, maka bisa berakibat fatal baik untuk ibu maupun bayi yang dikandungnya. Misalnya seperti perkembangan janin yang tidak sempurna, kelahiran prematur, hingga kematian.

3 of 5

Penyebab Preeklampsia pada Kehamilan

Penyebab dan Gejala Preeklampsia
Preeklampsia

Penyebab preeklampsia hingga saat ini masih belum dapat diketahui secara pasti. Namun, preeklampsia diduga disebabkan karena plasenta. Plasenta ini merupakan kumpulan pembuluh darah yang menghubungkan janin dan ibu.

Plasenta merupakan organ penting yang berfungsi untuk menyalurkan darah dan memasok kebutuhan janin dan ibu. Nah, pada ibu hamil dengan preeklampsia, pembuluh darah ini tidak berkembang secara normal.

Pembuluh tersebut lebih sempit dari pembuluh darah yang normal dan bereaksi secara berbeda terhadap sinyal hormon. Pada akhirnya hal tersebut membuat tekanan darah menjadi lebih tinggi.

4 of 5

Faktor Pemicu Terjadinya Preeklampsia pada Kehamilan

Penyebab dan Gejala Preeklampsia
Mengenal preeklampsia | Via: istimewa

Selain itu, ada faktor penyebab preeklampsia, seperti:

- Kehamilan Pertama

Preeklampsia lebih sering terjadi pada kehamilan yang pertama.

- Punya Riwayat Preeklampsia Sebelumnya

Adanya riwayat preeclampsia pada diri sendiri maupun keluarga dapat meningkatkan risiko terjadinya preeklampsia.

- Kehamilan Kembar atau Lebih

Risiko mengalami preeklampsia semakin tinggi pada ibu hamil yang mengandung bayi kembar bahkan lebih.

- Usia

Risiko preklampsia juga akan meningkat pada wanita yang hamil berusia sangat muda atau berusia di atas 40 tahun.

- Riwayat Penyakit Tertentu

Punya riwayat beberapa penyakit tertentu seperti hipertensi kronis, diabetes mellitus, penyakit ginjal, atau lupus meningkatkan risiko preeklampsia.

- Obesitas

Obesitas pada kehamilan juga merupakan faktor risiko dari preeklampsia.

5 of 5

Gejala Preeklampsia yang Perlu Dikenali

Penyebab dan Gejala Preeklampsia
Penyebab dan Gejala Preeklampsia /copyright Rawpixel/roungroat

Agar kondisinya tidak semakin memburuk, Anda perlu mengenal gejala preeklampsia. Preeklampsia terbagi menjadi dua kategori, yaitu ringan dan berat. Untuk tanda dan gejala yang ditimbulkan tidak sama.

Pada gejala preeklampsia ringan berupa kenaikan tekanan darah mencapai 140/90 mmHg – 160/110 mmHg. Adanya protein di dalam urine. Adanya penimbunan cairan pada betis, perut, punggung, wajah atau tangan.

Sedangkan gejala preeklampsia berat berupa tekanan darah lebih dari 160/110 mmHg, meningkatnya kadar enzim hati, oliguria mencapai 400 ml/24 jam, dan adanya protein di dalam urine. Selain itu, gejala lainnya berupa nyeri ulu hati, gangguan penglihatan atau nyeri kepala bagian depan yang terasa berat, perdarahan di retina, dan adanya penimbunan cairan pada paru.

Lanjutkan Membaca ↓