Menikmati Kelezatan Mi Ayam Goreng Mekaton, Pelopor Miyago di Jogja

Oleh Putra Marenda pada 02 Sep 2019, 17:45 WIB
Diperbarui 02 Sep 2019, 18:14 WIB
Penampakan Mie Ayam Goreng Mekaton

Liputan6.com, Jakarta Kamu penyuka kuliner mi ayam kuah dan pengen mencari alternatif lain? Sesekali datanglah ke Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Selain menikmati pemandangan alam gunung merapi, kamu bisa mencicipi kuliner mi ayam goreng (miyago) legendaris. Konon, miyago ini adalah pertama di Yogyakarta, yakni Mi Ayam Goreng Mekaton. 

Terletak di Barat Kabupaten Sleman dan sangat jauh dari pusat kota, tak membuat mi ayam goreng ini sepi peminat. Berada di pinggir jalan Desa Sumakaton, mi ayam ini menjadi jujugan para wisatawan. Berjarak 9,1 km dari Tugu Jogja, mi ayam goreng Mekaton bisa ditempuh 20 hingga 25 menit menggunakan sepeda motor.  

Minggu (11/8/2019) lalu, Liputan6.com jalan-jalan dan mencicipi kuliner legendaris ini. Mi Ayam Mekaton tepatnya beralamat di Jalan Kebon Agung, Pasar Srikaton, Kecamatan Seyegan, Kabupaten Sleman. Bisnis kuliner ini didirikan oleh Ibu Wahim pada tahun 1995 dan diklaim sebagai mi ayam goreng pertama di Yogyakarta.

“Dari tahun 1995, kami menjadi pelopor pertama mi ayam goreng di Jogja dan sekitarnya mas. Ibu terinspirasi dari permintaan masyarakat yang minta dibuatkan mi ayam tanpa kuah. Mulai dari situ terpikirlah membuat kuliner mi ayam goreng,” kata Arjunadi, penerus pengelola Mi Ayam Goreng Mekaton kepada Liputan6.com.

2 dari 4 halaman

Kendala awal berjualan

Proses meracik mi ayam goreng mekaton
Menikmati Kelezatan Mi Ayam Goreng Mekaton, Pelopor Miyago di Jogja (sumber: dokumen pribadi)

Kini Mie Ayam Goreng Mekaton bisa mencapai penjualan 300 porsi tiap harinya. Namun  untuk mencapai kesuksesan ini bukanlah hal yang instan. Perlu adanya usaha keras dan konsisten menghadapi dunia usaha. Sama seperti ibu Wahim yang awalnya mengalami banyak kendala dan hambatan.

“Duh, kalau diceritakan awal berjualan, ya pasti banyak kendala mas. Kendala awal yang pasti modal. Lalu peralatan warung masih terbatas juga, serta kendala pemasaran yang masih ibu lakukan secara konvensional. Intinya usaha mie ayam gorengnya ibu itu bertahap mas, hingga sampai kayak sekarang” ujar Arjunadi.

Jun, begitu ia disapa, juga memberikan tips bagaimana cara konsisten mengembangkan usaha kuliner.

“Intinya ya mas, agar tetap konsisten harus tetep jaga kualitas rasa makanan dan kualitas pelayanan” tambah Jun.

3 dari 4 halaman

Kaesang pernah mencicipi kelezatan mi ayam goreng Mekaton

Suasana di mi ayam goreng mekaton
Menikmati Kelezatan Mi Ayam Goreng Mekaton, Pelopor Miyago di Jogja (sumber: dokumen pribadi)

“Yang spesial dari mi ayam goreng ini adalah mi mentahnya. Kami membuat sendiri tanpa bahan pengawet. Sambal dan umbu-bumbunya juga khas,” jawab Jun saat Liputan6.com bertanya tentang bumbu rahasia mi ayam goreng Mekaton.

Jun menceritakan banyak tokoh publik yang datang dan menikmati mi buatannya. Salah satunya adalah Kaesang Pangarep, anak Presiden Joko Widodo. Selain, beberapa pemain sepak bola nasional pernah datang. “Kami pernah kedatangan Kaesang anak Presiden Jokowi, lalu banyak kedatangan pemain sepak bola nasional, sama banyak acara televisi yang meliput mie ayam goreng mekaton” jelas Jun.

Kaesang menulis di akun instagramnya: “Mie Ayam Goreng Mekaton #Sleman. Penilaian: GAK PERLU DINILAI, INI RASANYA ENAK BANGET. HARUS COBA. Yang tanya lokasinya dimana, kalo bisa pake instagram pasti bisa pake gugel juga”.

4 dari 4 halaman

Testimoni pengunjung

Pengunjung Mi Ayam Goreng Mekaton, Agung dan Alfi
Menikmati Kelezatan Mi Ayam Goreng Mekaton, Pelopor Miyago di Jogja (sumber: dokumen pribadi)

Ibu Wahim, pendiri mi ayam goreng Mekaton setiap harinya masih membantu berjualan. Namun ia lebih banyak berada di meja kasir. Ia menuturkan harga mi ayam goreng Mekaton tidak mahal. Seporsi dijual Rp 10 ribu.

Siang itu, banyak pengunjung yang datang dan ingin menikmati  mi ayam goreng Mekaton. “Enggak rugi sih mas makan di sini. Walaupun jarak dari kos saya ke sini sekitar 30 menit, tapi worth it banget mas” ujar Alfi Cahya, mahasiswa UPN yang sedang makan di sana pada saat itu.

“Ini ya mas, miyagonya (mie ayam goreng) sudah ada sebelum saya lahir. Dan rasanya tidak berubah, saya selalu bangga membawa teman saya untuk icip-icip di sini” komentar Agung Suprobo, pemuda desa Susukan yang sering makan di sana.

Lanjutkan Membaca ↓