6 Makanan Khas Provinsi Banten, Kaya Cita Rasa Unik

Oleh Anugerah Ayu Sendari pada 16 Agu 2019, 10:40 WIB
Diperbarui 04 Sep 2019, 10:10 WIB
Tips Memasak Makanan Bersantan

Liputan6.com, Jakarta Makanan khas Provinsi Banten tak boleh terlewat saat mengunjungi wilayah ini. Banten pernah menjadi menjadi bagian dari Provinsi Jawa Barat sebelum mengalami pemekaran pada tahun 2000. Makanan khas Provinsi Banten tak lepas dari pengaruh budaya Sunda. Suku yang mendiami wilayah ini didominasi oleh suku Sunda salah satunya adalah Suku Baduy.

Provinsi paling barat pulau Jawa ini menawarkan wisata kuliner dengan cita rasa unik. Makanan khas Provinsi Banten mudah ditemui di banyak tempat dan perayaan. Makanan khas Provinsi Banten ini bahkan sudah ada sejak jaman Kesultanan Banten. Beberapa daerah di Provinsi Banten memiliki masakan khasnya sendiri seperti Nasi Sumsum dan Sate Bandeng yang berasal dari Kota Serang.

Makanan khas Provinsi Banten juga terpengaruh dari budaya luar seperti Rabeg, yang berasal dari Arab. Jika Anda singgah di provinsi ini, jangan lupa untuk mencicipi makanan khas Provinsi Banten. Berikut Makanan khas Provinsi Banten yang berhasil Liputan6.com rangkum dari berbabagai sumber, Jumat (16/8/2019).

2 of 7

Sate Bandeng

Sate Bandeng
Sate Bandeng favorit Sultan Banten (Liputan6.com / Yandhie Deslatama)

Makanan khas Provinsi Banten yang paling terkenal adalah sate bandeng. Dahulu, sate bandeng merupakan makanan kegemaran sultan-sultan Banten dan hanya disajikan saat momen istimewa. Kini sate bandeng dapat dinikmati siapa saja. Sate bandeng tahan tiga sampai empat hari sehingga cocok sebagai oleh-oleh berat.

Masakan tradisional Banten ini dibuat dari ikan bandeng yang dagingnya dikeluarkan tanpa merusak kulit ikan, dibersihkan durinya kemudian haluskan bersama bumbu rempah. Campuran ini kemudian dimasukkan kembali ke dalam kulit ikan. Bandeng kemudian dijepit dengan bilah bambu dan dibakar di atas bara api hingga matang.

3 of 7

Rabeg

Rabeg
Rabeg (sumber: dispar.bantenprov.go.id)

Rabeg merupakan hidangan yang terinspirasi dari kuliner Arab. Masakan ini menyebar ke Banten berkat Sultan Maulana Hasanuddin, seorang raja di Kesultanan Banten. Pada masa itu Sultan Maulana Hasanuddin menunaikan ibadah haji dan singgah ke sebuah kota bernama Rabigh. Di sana ia jatuh cinta pada olahan daging kambing khas kota tersebut.

Setelah kembali ke Banten, Sultan Maulana Hasanuddin memerintahkan juru masaknya untuk membuat olahan daging kambing khas timur tengah tersebut. Meski tak sama persis, Sultan sangat menyukai masakan tersebut dan menjadi menu wajib kerajaan.

Rabeg adalah olahan daging kambing dengan perpaduan rempah. Daging direbus bersama bumbu rempah dan kaldu hingga menyerupai semur. Rempah seperti pala, jahe, lengkuas, dan cabe rawit membuat masakan ini memiliki cita rasa pedas yang sempurna.

4 of 7

Ketan bintul

Kuliner Ramadan
Ketan Bintul, menu khas berbuka puasa asal Banten, yang berusia ratusan tahun. (Liputan6.com/Yandhi Deslatama)

Ketan bintul biasa hadir sebagai menu khas berbuka puasa. Makanan ini terbuat dari ketan putih yang ditanak dengan santan dan pandan. Ketan kemudian ditumbuk halus selagi hangat agar mudah dan tak mengeras. Ketan bintul disajikan dengan ditaburi srundeng serta bawang goreng. Ketan Bintul biasanya disantap bersama semur daging sapi atau kerbau.

Ketan bintul sudah menjadi makanan favorit para Sultan Banten sejak abad 15 Masehi. Terutama di masa kepemimpinan Sultan Maulana Hasanuddin. Kepercayaan yang berkembang di masyarakat Banten, bila seseorang berbuka puasa saat bulan Ramadan dengan Ketan Bintul, seakan-akan menghargai dan menghormati para sultan.

5 of 7

Angeun Lada

Ilustrasi Makanan Pedas, Masakan Pedas, Makanan, Masakan (iStockphoto)
Makanan Pedas (Ilustrasi/iStockphoto)

Angeun Lada menjadi masakan turun temurun masyarakat Banten. Masakan ini selalu hadir di tengah perayaan seperti Idul Fitri dan Idul Adha. Angeun Lada bahkan ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia 2016.

Angeun berarti sayur dan lada berarti pedas. Angeun Lada biasanya terdiri dari jeroan sapi atau kerbau yang dibumbui oleh rempah yang kuat. Angeun Ladasekilas mirip dengan soto Betawi dan gulai, yang membedakan adalah penggunakan rempah didalamnya.

Salah satu ciri khas dari masakan ini adalah penggunaan daun walang. Daun walang memiliki aroma kuat yang disebut mirip dengan walang sangit. Penggunaan daun walang ini membuat Angeun Lada memiliki rasa khas yang kuat.

6 of 7

Nasi Sumsum

Nasi Bakar Palekko, Si Pedas dari Bugis
Meski kerap disajikan pada hari-hari biasa, nasi bakar ini tetap diburu sebagai santapan untuk berbuka puasa. (Eka Hakim/Liputan6.com)

Makanan khas Banten ini merupakan nasi yang dicampur dengan sumsum tulang kerbau kemudian dibakar di atas bara api. Sebelum dibakar nasi dibumbui dulu dengan daun salam, sereh, cabe, dan bawang, serta sumsum kerbau. Masakan ini biasa disantap bersama sambel kacang dan otak-otak ikan.

Nasi dan bumbu sum-sum tulang kerbau dimasak secara terpisah, lalu dicampurkan dengan cara menggorengnya. Setelah digoreng, campuran nasi dan sum-sum lalu dibungkus daun pisang untuk kemudian dibakar. Nasi sumsum mempunyai citarasa yang lezat, gurih dan nikmat.

7 of 7

Kue jojorong

Kue jojorong
Kue jojorong (sumber: pandeglangkab.go.id)

Kue jojorong berbahan dasar tepung beras dan santan kelapa yang bagian dalamnya diberi gula aren. Jojorong biasa hadir saat hajatan dan acara-acara di Banten. Jojorong menjadi sajian untuk menjamu tamu acara besama makanan lainnya.

Jojorong memiliki konsistensi mirip puding. Karena terbuat dari santan, kue ini harus segera dimakan agar tak segera basi. Jojorong berbentuk bulat dibungkus dengan daun pisang. Jojorong diolah dengan cara dikukus.

Lanjutkan Membaca ↓