Elon Musk Bakal Bikin Chip Agar Otak Tersambung Internet, Ini Penjelasannya

Oleh Afifah Cinthia Pasha pada 19 Jul 2019, 17:20 WIB
Diperbarui 21 Jul 2019, 13:13 WIB
Elon Musk

Liputan6.com, Jakarta 10 tahun lalu kecerdasan buatan memang dianggap sebagai lelucon. Tapi kenyataannya sekarang ini kecerdasan buatan atau sering di sebut AI ‘Artificial Intelligence’ sudah menjadi hal yang tidak asing. 

Kecerdasan buatan adalah kecerdasan yang ditambahkan oleh manusia ke dalam suatu sistem teknologi. Mesin kecerdasan buatan (AI) kini mulai bisa dirancang untuk membaca kondisi emosional manusia.

Sekarang ini kecerdasan buatan kini memang menjadi topik hangat di kalangan perusahaan teknologi dunia. Pasalnya, dengan adanya kecerdasan buatan (AI), aktivitas manusia dapat dipermudah. Jika mendengar tentang AI pasti erat hubungannya dengan robot atau kecanggihan teknologi lainnya.

Di antara kamu pasti pernah membayangkan jika manusia terkoneksi dengan sebuah chip. Bahkan hal ini sudah digambarkan dalam film science fiction. Tapi nampaknya hal ini akan segera diwujudkan di dunia nyata.

CEO dari SpaceX, Elon Musk, mengatakan dirinya memiliki rencana untuk membikin kecerdasan buatan yang bisa menyambungkan otak manusia dengan internet pada 2020 mendatang, seperti Liputan6.com lansir dari Forbes, Jumat (19/7/2019).

2 of 3

Menyambungkan Otak Manusia dengan Internet

Ilustrasi otak
Ilustrasi (iStock)

Menurut Elon Musk, prosedur menyambungkan otak manusia dengan internet ini akan semudah seperti proses LASIK pada mata. LASIK (Laser-Assisted in situ Keratomileusis) adalah metode terpopuler di dunia untuk memperbaiki kelainan mata minus (myopia), mata plus, dan mata silinder (astigmatism). Prosedur LASIK dilaksanakan oleh dokter spesialis dengan menggunakan laser atau microkeratome.

Elon Musk berharap dirinya bisa melakukan rencana itu dengan startup miliknya, Neuralink. Neuralink telah berinventasi sebanyak $100 juta sejak didirikan pada 2016.

Prosedur penyambungan otak manusia dengan internet ini akan memasukan sebuah chip berukuran 4x4 mm untuk masuk ke dalam otak manusia. Musk berharap, dengan adanya chip itu, otak manusia bisa "bersimbiosis dengan artificial intelligence (AI)".

Chip itu memiliki kemampuan untuk menstimulasi neuron otak menggunakan benang elektroda kecil yang fleksibel. Chip itu, diklain bisa bertahan selama bertahun-tahun hingga puluhan tahun. Musk juga menjelaskan kalau chip itu bisa menghindari otak manusia dari penyakit seperti Parkinson atau Alzheimer.

3 of 3

Terhubung Juga dengan Komputer

Ilmu Komputer
Ilustrasi (sumber : bussinesscollective.com)

Chip tersebut juga memungkinkan komunikasi antara manusia dan mesin. Selain itu, perangkat Neuralink ini diklaim akan 1.000 kali lebih efektif daripada sistem stimulasi elektroda lainnya.

Meski begitu, Musk menyadari bahwa upaya ini akan memiliki jalan yang panjang karena membutuhkan waktu untuk mendapatkan persetujuan dari Food and Drug Administration, selaku lembaga yang mengawasi peredaran produk kesehatan obat dan makanan di AS.

Presiden Neuralink, Max Hodak mengatakan, sistem ini tidak membutuhkan sambungan kabel untuk bisa berfungsi. Meski perusahaannya tampak percaya diri dengan teknologi besutannya itu, namun ada juga pakar yang meragukannya. Seorang ahli fisika pendiri Neurofeedback Neuroboost mengatakan, ada banyak risiko dari pemasangan chip di otak manusia.

Beberapa di antaranya adalah kerusakan otak, peradangan, dan gangguan jaringan parut. Sementara Thomas Stieglitz dari Departemen Teknologi Mikro Biomedis di Universitas Freiburg, Jerman, menyebutkan, teknologi yang dimiliki Neuralink terlalu canggih untuk diterapkan saat ini.

Lanjutkan Membaca ↓