Bahaya yang Mengintai Saat Masak Pakai Minyak Jelantah

Oleh Anugerah Ayu Sendari pada 03 Jul 2019, 13:15 WIB
Diperbarui 03 Jul 2019, 13:15 WIB
Ilustrasi menggoreng
Perbesar
Ilustrasi menggoreng (sumber: iStockphoto)

Liputan6.com, Jakarta Gorengan merupakan salah satu kuliner yang digemari banyak orang. Rasa yang gurih membuat makanan ini menjadi primadona semua orang. Untuk mendukung kesehatan dan kualitas, para ahli gizi menyarankan untuk menggunakan minyak goreng segar setiap kali Anda menggoreng. 

Namun, jika Anda sering menggoreng makanan dalam jumlah besar, mengganti minyak sekali pakai tidak selalu praktis dari sudut pandang ekonomis.

Tak jarang minyak goreng digunakan berulang kali. Hasil dari penggunaan minyak goreng berulang ini kerap disebut dengan minyak jelantah. Penggunaan minyak jelantah sudah lazim ditemukan dalam masakan. Penggunaan minyak jelantah dapat memberi efek buruk bagi kesehatan.

Pemanasan berulang minyak goreng dapat mengubah komposisi dan melepaskan acrolein, yang merupakan bahan kimia yang berpotensi karsinogenik. Tak cuma bahaya karsinogenik, minyak jelantah juga mengundang efek buruk lain.

Berikut bahaya yang mengintai saat menggunakan minyak jelantah, dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber, Rabu(3/7/2019).

Bakteri dan Radikal Bebas

Bahayanya Menggunakan Minyak Goreng Berulang Kali
Perbesar
Bahayanya Menggunakan Minyak Goreng Berulang Kali

Jika minyak bekas tidak disaring dan disimpan dengan benar setelah dingin, bakteri memakan partikel makanan yang tertinggal dalam minyak. Minyak yang tidak didinginkan menjadi anaerob dan menyebabkan pertumbuhan Clostridium botulinum, yang menyebabkan botulisme, keracunan makanan yang berpotensi fatal.

Minyak yang didinginkan atau dibekukan menghambat pertumbuhan bakteri. TJika masakan terasa tengik artinya minyak yang digunakan sudah lama dan basi. Minyak seperti ini mengandung radikal bebas, molekul yang dapat merusak sel dan menyebabkan peningkatan risiko kanker, serta memengaruhi kualitas makanan.

Risiko Penyakit Jantung

Liputan 6 default 4
Perbesar
Ilustraasi foto Liputan 6

Minyak jelantah memiliki kandungan lemak trans yang tinggi. Dalam beberapa dekade terakhir, ada banyak uji klinis yang mempelajari lemak trans. Dalam uji klinis ini, orang diberi lemak trans (dari minyak jelantah) daripada lemak atau karbohidrat lainnya. Efek kesehatan dievaluasi dengan melihat faktor risiko yang diketahui untuk penyakit jantung, seperti kolesterol atau lipoprotein yang membawa kolesterol.

Penyakit jantung tidak bisa disembuhkan. Kondisi ini membutuhkan perawatan seumur hidup dan pemantauan yang cermat. Banyak gejala penyakit jantung dapat dihilangkan dengan obat-obatan, prosedur, dan perubahan gaya hidup salah satunya adalah pola makan dengan menjauhi lemak trans seperti jelantah.

Peradangan

Liputan 6 default 5
Perbesar
Ilustraasi foto Liputan 6

Peradangan berlebih diyakini sebagai salah satu pendorong utama banyak penyakit kronis. Ini termasuk penyakit jantung, sindrom metabolik, diabetes, radang sendi dan banyak lainnya. Ada tiga uji klinis yang menyelidiki hubungan antara lemak trans dan inflamasi.

Dua menemukan bahwa lemak trans meningkatkan penanda inflamasi seperti IL-6 dan TNF alpha ketika mengganti nutrisi lain dalam makanan. Dalam penelitian observasional, lemak trans terkait dengan peningkatan penanda peradangan, termasuk C-Reactive Protein, terutama pada orang yang memiliki banyak lemak tubuh.

Obesitas

Ilustrasi Badan Gemuk atau Obesitas (iStockphoto)
Perbesar
Ilustrasi Badan Gemuk atau Obesitas (iStockphoto)

Dibandingkan dengan metode memasak lainnya, menggoreng menambah banyak kalori. Ketika makanan digoreng dalam minyak, mereka kehilangan air dan menyerap lemak, yang selanjutnya meningkatkan kandungan kalori, apalagi jika digoreng menggunakan minyak jelantah.

Secara umum, makanan yang digoreng memiliki lemak dan kalori yang jauh lebih tinggi daripada makanan yang tidak digoreng. Kalori bertambah dengan cepat saat makan makanan yang digoreng. Tingginya konsumsi kalori pada tubuh bisa memicu obesitas.

Penelitian menunjukkan bahwa lemak trans dalam makanan yang digoreng mungkin memainkan peran penting dalam penambahan berat badan, karena mereka dapat mempengaruhi hormon yang mengatur nafsu makan dan penyimpanan lemak.

Diabetes

Peningkatan diabetes
Perbesar
Peningkatan diabetes/unsplash

Beberapa penelitian telah menemukan bahwa makan makanan yang digoreng dengan minyak membuat Anda berisiko lebih tinggi terkena diabetes tipe 2. Satu studi menemukan bahwa orang yang makan makanan berminyak lebih dari dua kali per minggu dua kali lebih mungkin untuk mengembangkan resistensi insulin, dibandingkan dengan mereka yang memakannya kurang dari sekali seminggu.

Selain itu, dua penelitian observasional besar menemukan hubungan yang kuat antara seberapa sering peserta makan makanan di goreng dan risiko diabetes tipe 2.

Mereka yang mengonsumsi 4-6 porsi makanan digoreng per minggu 39% lebih mungkin untuk menderita diabetes tipe 2, dibandingkan dengan mereka yang mengonsumsi kurang dari satu porsi per minggu.

Demikian pula, mereka yang makan gorengan tujuh atau lebih kali per minggu adalah 55% lebih mungkin untuk mengembangkan diabetes tipe 2, dibandingkan dengan mereka yang mengonsumsi kurang dari satu porsi per minggu.

Dapat Mengandung Acrylamide yang Berbahaya

Liputan 6 default 3
Perbesar
Ilustraasi foto Liputan 6

Acrylamide adalah zat beracun yang dapat terbentuk dalam makanan selama memasak suhu tinggi, seperti menggorengatau memanggang. Ini dibentuk oleh reaksi kimia antara gula dan asam amino yang disebut asparagine.

Makanan bertepung seperti produk kentang goreng dan makanan yang dipanggang biasanya memiliki konsentrasi akrilamida yang lebih tinggi. Penelitian pada hewan telah menemukan bahwa reaksi ini menimbulkan risiko untuk beberapa jenis kanker.

Namun, sebagian besar dari penelitian ini menggunakan acrylamide dosis sangat tinggi, berkisar antara 1.000-100.000 kali jumlah rata-rata manusia yang terpajan melalui makanan.

Sementara beberapa penelitian pada manusia telah menyelidiki asupan akrilamida, buktinya beragam. Satu ulasan menemukan hubungan sederhana antara akrilamida pada manusia dan kanker ginjal, endometrium dan ovarium.

Lanjutkan Membaca ↓