Perusahaan Ini Buat Makanan dari Listrik, Air dan Udara, Bikin Geleng-Geleng

Oleh Afifah Cinthia Pasha pada 03 Jul 2019, 08:05 WIB
Solein

Liputan6.com, Jakarta Bicara tentang makanan pasti tidak ada habisnya, dari dulu hingga sekarang dunia kuliner terus berkembang pesat. Untuk menarik minat konsumen, inovasi-inovasi yang dilakukan pun semakin beragam. Apalagi didukung dengan kemajuan teknologi seperti sekarang ini, segalanya menjadi lebih mudah, dan praktis.

Seperti inovasi makanan yang diciptakan oleh perusahaan Firlandia. Sebuah perusahaan asal Finlandia berencana segera memasarkan makanan yang terbuat dari listrik, air, dan udara bernama Solein, seperti yang Liputan6.com lansir dari The Bubble, Rabu (3/7/2019). Perusahaan bernama Solar Foods ini rencananya akan segera menjual Solein di supermarket pada tahun 2021.

Solar Foods mengklaim bahwa inovasi makanan ini akan menjadi bahan pangan masa depan dengan sumber yang tidak terbatas. Solar Foods ini juga bekerjasama dengan Badan Antariksa Eropa untuk membekali para astronot dengan Solein saat mereka menjalankan misi di Mars. Solein merupakan bubuk tinggi protein yang memiliki rasa dan tekstur mirip tepung gandum.

2 of 3

Inovasi Pangan Masa Depan

Perusahaan yang berbasis di Ibu Kota Finlandia, Helsinki, ini juga akan mendaftarkan lisensi Solein ke Uni Eropa agar produksi massalnya bisa dilakukan sebelum 2021. Solar Foods akan didampingi peneliti dari VTT Technical Research Centre of Finland dan Lappeenranta University of Technology.

Nantinya Solein bisa diubah menjadi bentuk lain melalui metode 3D printing. Solein juga bisa ditambahkan ke dalam makanan dan minuman lain. Solein rencananya dijual seharga 5 euro atau sekitar Rp 80 ribu per kilogram.

Proses pembuatan Solein dikatakan mirip dengan membuat bir. Mikroba hidup dimasukkan dalam cairan yang kemudian diberi makan karbondioksida dan gelembung hidrogen. Hidrogen itu dilepaskan oleh air yang diaplikasikan dengan listrik.

3 of 3

Jenis Protein Baru

Solein
Solein (sumber: goodnewsfinland)

Proses pembuatan solein itu membuat mikroba menghasilkan protein, yang kemudian dikeringkan untuk dijadikan bubuk. Cara ini dipercaya bisa membuat manusia mendapat protein alami sambil menghemat lahan pertanian serta menghemat air yang biasa digunakan saat bercocok tanam.

Dr Pasi Vainikka, kepala eksekutif mengatakan dia tidak mengharapkan produk yang ia gambarkan adalah protein paling ramah lingkungan di dunia, untuk menantang para petani dalam dua dekade mendatang. Seperempat jejak karbon dunia disebabkan oleh produksi pangan, tetapi PBB mengatakan perlu ada peningkatan bahan makanan sebanyak 50-70 persen pada pertengahan abad ini.

Vainikka mengatakan bubuk itu bisa menjadi "bahan seperti bahan apa pun dalam makanan", atau mungkin untuk "membuat bubuk itu menjadi serat yang menyerupai daging atau roti" dimasa depan saat sumber makan lain telah mulai menipis.

Lanjutkan Membaca ↓