Kisah Sukses 25 Tahun Dagadu, Jadi Ikon Yogyakarta dari Dulu hingga Sekarang

Oleh Afifah Cinthia Pasha pada 26 Mei 2019, 03:00 WIB
Diperbarui 26 Mei 2019, 03:00 WIB
Dagadu Djogdja
Perbesar
Dagadu Djogdja (sumber: Brilio.net/Syamsu Dhuha Fr)

Liputan6.com, Jakarta Pesona Daerah Istimewa Yogyakarta memang selalu memiliki daya tarik tersendiri bagi para wisatawan domestik maupun mancanegara. Suasana kota yang ramah memang menjadi magnet agar setiap orang yang pernah berkunjung serasa ingin kembali lagi. 

Senyum sapa masyarakatnya yang ramah dan daya kreativitasnya serasa tidak pernah lepas setiap pesona dari Kota Yogyakarta.

Kota yang disebut sebagai kota pelajar ini memang selalu nampak klasik. Setiap destinasi wisata, selalu memiliki souvenir khas yang dicari wisatawan sebagai oleh-oleh atau penanda bahwa mereka sudah pernah berkunjung ke sana. Demikian pula Yogyakarta, yang memiliki Dagadu, kaos berdesain khas, yang sudah menjadi merchandise ikonik.

Dagadu merupakan merchandise Kota Yogyakarta yang paling melekat diingatan para wisatawan jika berkenjung ke kota pelajar ini. Hal ini dikarenakan jenis kaus oblong yang ditawarkan memiliki nilai yang berbeda. Di mana Dagadu melakukan pendekatan budaya yang berhasil mengangkat ikon-ikon visual yang ada di seantero Kota Yogyakarta sebagai label bisnisnya, seperti yang Liputan6.com kutip dari Brilio, Minggu (26/5/2019).

2 dari 3 halaman

Dibangun 1994 Berawal dari Minat yang Sama

Dagadu Djogdja
Perbesar
Dagadu Djogdja (sumber: Brilio.net/Syamsu Dhuha Fr)

Dagadu Djogdja dibangun pada tahun 1994, ketika 25 mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) yang sebagian besar adalah mahasiswa arsitektur berkolaborasi untuk membuat kaos berdesain khas.

Berawal dari minat yang sama dari 25 mahasiswa ini, mereka memulai bisnis dan mendapatkan tawaran dari seorang dosen yang menawarkan 1 space di Malioboro Mall untuk berjualan.

Dagadu sendiri kini telah memasuki usia 25 tahun dan masih konsisten dengan desain nyentrik ala Jogja. Seiring perkembangan jaman dan selera fashion masyarakat yang berkembang, Dagadu selalu punya ide-ide baru dan berhasil menarik minat wisatawan.

Pihak Dagadu sendiri menginginkan hal yeng berbeda namun tetap mencerminkan Dagadu itu sendiri, di mana memberikan bingkai estetika pada hal-hal yang bersifat keseharian, selalu menekankan kesederhanaan.

"Kami selalu angkat tema tentang Jogja hingga sekarang masih kami lakukan. Hanya mungkin secara visual berbeda menyesuaikan. Tapi kami mencoba setidaknya setiap 2 bulan sekali meluncurkan desain yang baru," ujar Direktur Dagadu Ahmad Noor Arief, seperti yang Liputan6.com kutip dari Brilio.

3 dari 3 halaman

Telah Meluncurkan Buku

Dagadu Djogdja
Perbesar
Dagadu Djogdja (sumber: Brilio.net/Syamsu Dhuha Fr)

Tak hanya memberikan suatu yang menarik saja dari setiap desain bajunya, PT. Aseli Dagadu Djokdja kini juga melakukan peluncuran sebuah buku kreatif. Buku yang diberi judul 'Desain, Gagasan, dan Daya Ungkap' mengupas sisi lain Dagadu. Menariknya buku ini bukan berupa katalog desain maupun Company Profile.

'Desain, Gagasan, dan Daya Ungkap' merupakan karya enam praktisi komunikasi, media, pemerhati budaya, peneliti, hingga seniman tersebut berusaha untuk menerjemahkan visi dan misi serta core value dari perjalanan Dagadu.

Di balik karya segarnya, Dagadu tentunya memiliki orang-orang yang profesional yang selalu siap berkreasi untuk menciptakan ide-ide baru. Mulai dari copy writer, fotografer, dan ilustrator memiliki peran yang cukup vital di Dagadu, mereka bekerja sama untuk bisa menciptakan suatu karya unik dan berhasil laris di pasaran.

Lanjutkan Membaca ↓