Penelitian Ungkap Dulu Indonesia Bersalju Layaknya Antartika, Sekarang Ke mana?

Oleh Afifah Cinthia Pasha pada 11 Apr 2019, 09:00 WIB
Diperbarui 13 Apr 2019, 06:13 WIB
Ilustrasi Es Mencair

Liputan6.com, Jakarta Wilayah yang dilewati garis khatulistiwa memang punya iklim yang lebih hangat dan cenderung tidak memiliki musim bersalju. Kamu juga merasakan sendiri bagaimana yang terjadi di Indonesia.

Namun, sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa dahulu, sekitar setengah miliar tahun lalu, Bumi adalah bola salju raksasa. Bahkan, gletser dan bongkahan es menyelimuti dunia sampai wilayah khatulistiwa secara misterius.

Bukan hanya sekali, menurut para ahli geologi, fenomena ini terjadi setidaknya dua kali di masa lalu Bumi. Artinya, wilayah khatulistiwa dahulu layaknya benua Antartika. Kini, yang menjadi pertanyaan adalah ke mana perginya salju atau es yang menyelimuti khatulistiwa, termasuk Indonesia itu?

Para ilmuwan baru-baru ini menemukan bahwa episode bola salju terakhir berakhir hanya dalam sekejap pada 635 juta tahun lalu. Penyebabnya adalah peristiwa geologis yang sangat cepat dan kemungkinan memiliki implikasi untuk pemanasan global yang dipicu manusia saat ini.

2 dari 4 halaman

Es di Khatulistiwa Mulai Meleleh

Ilustrasi Es Mencair
Ilustrasi Es Mencair (sumber: unsplash)

"Meski begitu, es meleleh dalam waktu tidak lebih dari 1 juta tahun," ungkap Shuhai Xiao, salah satu peneliti dari Institut Politeknik Virginia dan Universitas Negeri Virginia di Logan seperti yang Liputan6.com lansir dari Science Mag, Kamis (11/4/2019).

 Menurut Xiao, ini seperti sekedipan mata dalam sejarah Bumi selama 4,56 miliar tahun. Dengan kata lain, fenomena ini menunjukkan bahwa dunia sudah hampir mencapai titik hancur.

Sayangnya, tim ini masih belum bisa memastikan penyebab dari hilangnya es di khatulistiwa ini. Meski begitu, mereka berpendapat bahwa karbondioksida yang dipancarkan oleh gunung berapi purba mungkin saja menjadi penyebab seperti layaknya rumah kaca.

Hal ini lah yang menyebabkan lapisan es mencair dengan cepat. Untuk mendapatkan keterangan lebih lanjut, Xiao dan koleganya akan mempelajarinya lewat batuan vulkanik dari provinsi Yunnan di China selatan.

Batuan tersebut tertanam di bawah jenis batuan lain yang disebut tutup karbonat, yaitu endapan unik dari batu kapur dan dolostone yang terbentuk selama masa melelehnya "Bola Salju Bumi" sebagai respons terhadap tingginya karbondioksida di atmosfer.

3 dari 4 halaman

Menemukan Batu Berusia 634,6 Juta Tahun

Dengan penanggalan radiometrik, tim tersebut menemukan batuan vulkanik berusia 634,6 juta tahun. Sayangnya, penanggalan batuan ini tidak bisa mengungkapkan kecepatan pencairan es yang terjadi pada masa tersebut.

Tahun 2005 lalu, tim ilmuwan berbeda melakukan penanggalan batuan vulkanik di atas tutup karbonat serupa di lokasi berbeda, provinsi Guizhou, China. Dan menemukan batuan tersebut berusia 635,2 juta tahun.

Dua sampel tersebut menunjukkan peristiwa melelehnya es di sebagian besar bumi adalah selama kurang lebih 1 juta tahun. Laporan mengenai penelitian ini kemudian dipublikasikan oleh tim tersebut dalam jurnal Geologi.

Kuncinya, Xiao menjelaskan, adalah bahwa dua waktu ini jauh lebih tepat daripada sampel sebelumnya, dengan error bar. Eror bar adalah grafik untuk menunjukkan variasi akibat error atau ketidakpastian dalam pengujian kurang dari 1 juta tahun.

4 dari 4 halaman

Penelitian Sampel Batuan

Karena sampel yang ditemukan sebelumnya memiliki error bar beberapa juta tahun atau lebih, Xiao mengatakan bahwa penanggalan baru ini adalah yang pertama yang dapat digunakan untuk menghitung laju pencairan dengan pasti.

Namun, karena dua sampel baru berasal dari China selatan, artinya keduanya tidak mengambarkan fenomena global tentang pencairan es di bumi, kata Carol Dehler, ahli geologi di Universitas Negeri Utah di Logan. Meski demikian, memahami sifat glasiasi purba ini dapat membantu para ilmuwan menghadapi perubahan iklim di hari esok.

"Saya pikir salah satu pesan terbesar bahwa fenomena 'Bola Salju Bumi' pada manusia adalah bahwa itu menunjukkan kemampuan Bumi untuk berubah secara ekstrem pada skala waktu yang pendek atau lebih lama," tutur Dehler.

Lanjutkan Membaca ↓