Kotoran Telinga Bisa Beritahu Etnis Seseorang

Oleh Melly Febrida pada 17 Feb 2014, 09:00 WIB
Diperbarui 17 Feb 2014, 09:00 WIB
kotoran-telinga-150216a.jpg
Perbesar
Kotoran telinga ternyata bisa memberikan informasi seperti yang dilakukan bau ketiak. Kotoran telinga bisa memberitahu apa yang sudah Anda makan, etnis, bahkan jika Anda gay.

Para ilmuwan di Monell Center mengatakan, substansi di telinga bisa mengungkapkan informasi tentang orientasi seksual dan kesehatan. Tes baru dikembangkan untuk membuktikan identitas orang dan etnis hanya dengan melihat telinganya.

"Penelitian kami sebelumnya telah menunjukkan bahwa bau ketiak bisa menyampaikan banyak informasi tentang individu seseorang, termasuk identitas personal, gender, orientasi seksual, dan status kesehatan," kta penulis penelitian George Preti,PhD, seorang Ahli Kimia Organik di Monell seperti dikutip Dailymail, Senin (17/2/2014).

"Kami berpikir mungkin kotoran telinga mungkin berisi informasi yang sama," kata George.

Tim peneliti menggunakan analisis kimia organik untuk mengidentifikasi adanya senyawa kimia penghasil bau di kotoran telinga manusia. Peneliti menyebutkan, jumlah senyawa ini berbeda antara individu yang berasal dari Asia Timur dan Kaukasia.

Temuan menunjukkan bahwa kotoran telinga manusia, yang diperoleh sekresi tubuh, bisa menjadi sumber informasi pribadi yang diabaikan.

Kotoran telinga secara ilmiah dikenal sebagai cerumen yang menjadi campuran sekresi dari kelenjar keringat khusus dengan bahan lemak yang disekresikan dari kelenjar sebaceous.

Ada dua jenis kotoran yakni yang berwarna kuning cokelat basah atau putih kering. Gen yang dikenal dengan ABCC11 berhubungan dengan produksi bau ketiak dan apakah seseorang memiliki kotoran telinga yang basah atau kering.

Orang Asia Timur misalnya China, Korea, dan Jepang, serta keturunan asli Amerika memiliki gen ABCC11 yang menunjukkan kotoran telinga berjenis kering dan juga mengurangi bau ketiak dibandingkan etnis lainnya, yang biasanya menghasilkan kotoran telinga basah dan bau badan.

Untuk menyelidiki apakah kotoran telinga memiliki aroma yang khas, peneliti mengumpulkan kotoran telinga dari 16 pria sehat, yakni 8 Kaukasia dan 8 keturunan Asia Timur.

Setiap sampel ditempatkan di dalam boto dan dipanaskan selama 30 menit untuk pelepasan molekul udara yang dikenal sebagai senyawa organik volatil (VPC), yang berhubungan dengan aroma.

Kemudian, perangkat penyerap dimasukkan melalui tutup botol untuk mengumpulkan VOC dari wadah tertutup dan gas kromatografi-teknikĀ  mass spektrometri yang digunakan untuk menganalisis senyawa kimia.

Hasil analisis menunjukkan, 12 VOC secara konsisten hadir dalam kotoran telinga emua orang. Namun, jumlah VOC bervariasi sebagai fungsi dan latar belakang etnis. Orang Amerika memiliki jumlah yang lebih besar yakni 11 dari 12 VOC dibanding Asia Timur.

"Pada dasarnya , kita bisa mendapatkan informasi tentang etnis seseorang hanya dengan melihat di telinganya," kata George.

Selain itu peneliti menduga sifat lemak dari kotoran telinga dihasikan oleh lingkungan.

"Aroma kotoran telinga mungkin dapat memberi tahu kami apa yang sudah dimakan seseorang."

(Mel/Igw)