Tiga Sekolah di Jakarta Timur akan Ada Pembelajaran Reproduksi

Oleh Kusmiyati pada 05 Des 2013, 08:00 WIB
Diperbarui 05 Des 2013, 08:00 WIB
reproduksi-131204b.jpg
Perbesar
Minimnya pengetahuan tentang kesehatan reproduksi kerap memicu perilaku berisiko di kalangan remaja. Hal ini seperti dikatakan Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Prof. dr. Fasli Jalal, PhD, SpGK perilaku berisiko di kalangan remaja terjadi karena pengetahuan mereka minim.

"Untuk meningkatkan pengetahuan mereka dibutuhkan satu upaya salah satunya dengan menerapkan kurikulum reproduksi di sekolah-sekolah. Kurikulum kespro ini tidak melulu pendisikan seks tetapi bagaimana anak muda mengenali dengan baik kesehatan reproduksinya," kata Fasli.

Hal yang sama juga dikemukakan Divisi Pendidikan dari Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI), Marta Rosalia. Menurut Marta generasi remaja perlu ada kurikulum kespro untuk menghindari dan mencegah perilaku berisiko.

"Kalau Pusat Informasi dan Konseling (PIK) Remaja masih belum cukup, perlu juga dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan. Dan bersyukurnya Dinas Pendidikan Provinsi Jakarta men-support kami (PKBI) untuk menerapkan hal ini di sekolah," kata Marta saat diwawancarai Liputan6.com, ditulis Kamis (5/12/2013).

Menurut Marta penerapannya masih bertahap, baru ada tiga sekolah yang mendukung PKBI memasukkan pendidikan kesehatan reproduksi di dalam kurikulumnya.

"Baru di Jakarta Timur, itu juga baru tiga sekolah dan baru bulan Januari 2014 silabusnya kami launching. Bertahap penerapannya karena masih banyak pro dan kontra di masyarakat Indonesia," kata Marta menambahkan.

Tiga sekolah tersebut yaitu Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Muara Indonesia, SMK Negeri 50 Jakarta Timur dan SMK 36 Jakarta Timur. Marta mengatakan pendidikan kesehatan reproduksi akan masuk ke dalam enam mata pelajaran.

"Jadi dalam enam mata pendidikan diantaranya agama, biologi, pendidikan kewarga negaraan dan olahraga itu dimasukan pendidikan kesehatan reproduksi. Para siswa menanggapi positif kok, karena mereka tahu kurikulum tersebut tidak melulu soal seks saja tapi masih banyak informasi kesehatan reproduksi," kata Marta.

Marta berharap pendidikan seperti ini cepat diikuti oleh sekolah-sekolah lainnya di luar Jakarta Timur. "Kalau Yogyakarta sudah, kami justru mendasar pada yang di sana. Semoga sekolah di Jakarta lainnya mendukung pendidikan ini agar para generasi muda tidak terjerumus pada perilaku berisiko". (Mia/Igw)