Minim, Remaja yang Paham Tentang Masa Suburnya

Oleh Kusmiyati pada 25 Nov 2013, 07:00 WIB
Diperbarui 25 Nov 2013, 07:00 WIB
pendidikan-seks-131016b.jpg
Perbesar
Maraknya kasus aborsi dan seks pranikah yang melibatkan remaja di Indonesia menurut Deputi Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional, Dr. Sudibyo Alimoeso, MA dikarenakan minimnya pengetahuan kesehatan reproduksi.

"Perilaku remaja akhir-akhir ini sudah mengindikasi ke arah yang berisiko. Minimnya pengetahuan reproduksi membuat mereka coba-coba dalam kehidupan seksual," kata Sudibyo, ditulis Senin (25/11/2013).

Tindakan coba-coba inilah yang menyebabkan kehamilan yang tidak diinginkan dan dikhawatirkan menyebabkan kasus aborsi makin meningkat.

Hal serupa juga dikatakan Inspektur Utama BKKBN Mieke Siangian yang merasa prihatin dengan minimnya pengetahuan remaja tentang masa subur.

Menurut Mieke, hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2012 mengenai Kesehatan Reproduksi Remaja yang melibatkan responden pria dan wanita usia 15 sampai 24 tahun yang belum menikah menunjukan hanya 18 persen remaja yang mengetahui mengetahui masa subur, dan 48 persen remaja pria tidak mengetahui masa subur wanita.

Itu artinya hanya satu dari enam remaja wanita dan satu dari sepuluh remaja pria mempunyai pemahaman yang benar tentang siklus masa haid.

"Melihat hasil survei tesebut, tentu memprihatinkan mengingat masa subur menjadi penanda seberapa besar peluang kehamilan terjadi," ujarnya.

Menurut Sudibyo, ini menunjukan potensi meningkatnya pernikahan dini dan hubungan seks pranikah di kalangan remaja di Indonesia. "Karena itu, sebaiknya pengetahuan reproduksi sudah dikenalkan sejak dini," katanya.

(Mia/Abd)