Tragedi Kanjuruhan Arema Bikin Tak Mau Injakkan Kaki ke Stadion, Psikolog: Bisa Dipahami

Oleh Benedikta Desideria pada 05 Okt 2022, 16:00 WIB
Diperbarui 05 Okt 2022, 16:25 WIB
Tragedi Kanjuruhan, Elimiati Kehilangan Suami dan Anaknya Usia 3 Tahun
Perbesar
Bunga, syal Arema dan coretan di tembok tanda duka cita memenuhi pintu keluar tribun 13 Stadion Kanjuruhan Malang. Pintu yang terlambat dibuka ditambah kekacauan akibat gas air mata membuat banyak suporter meninggal dunia (Liputan6.com/Zainul Arifin)

Liputan6.com, Jakarta Berada ratusan kilometer dari Stadion Kanjuruhan, Malang dan tidak menonton lansung pertandingan Arema vs Persebaya pada 1 Oktober 2022, tapi kejadian kelam itu membuat Riya (32) berkeputusan tidak akan menonton sepak bola di stadion lagi.

Keinginannya untuk mengajak sang buah hati yang berusia tiga tahun mengenalkan sepak bola dengan menonton langsung di stadion ia pendam sejak tragedi Kanjuruhan Arema.

Ia juga sudah meminta suaminya yang merupakan suporter salah satu klub di Yogyakarta untuk tidak lagi menonton di stadion. Riya khawatir muncul kejadian kelam seperti di Stadion Kanjuruhan, Sabtu, 1 Oktober 2022.

"Aku lihat video kejadian di Malang bikin aku takut banget untuk nonton bola di stadion. Aku takut, kalau misalnya menonton bisa terjadi hal yang sama," ujar Riya.

Menurut psikolog klinis Ratih Ibrahim apa yang dialami Riya dan sebagian orang yang merasakan hal serupa amat bisa dipahami.

"Bisa dipahami. Ini adalah sebuah tragedi besar. Bukan hanya sekadar di Kanjuruhan. Ini tragedi nasional bahkan persepakbolaan internasional," kata Ratih lewat pesan tertulis kepada Health Liputan6.com pada Rabu (5/10/2022).

 

**Gempa Cianjur telah meluluhlantakkan Bumi Pasundan, mari bersama-sama meringankan penderitaan saudara-saudara kita di Cianjur dengan berdonasi melalui: rekening BCA No: 500 557 2000 A.N Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih. Bantuan akan disampaikan dalam bentuk sembako, layanan kesehatan, tenda, dll. Kepedulian kita harapan mereka.


Tragedi Kanjuruhan Arema Timbulkan Efek Trauma

Banner Infografis Pembentukan TGIPF dan Penyidikan Tragedi Kanjuruhan. (Sumber Foto: AP Photo/Yudha Prabowo)
Perbesar
Banner Infografis Pembentukan TGIPF dan Penyidikan Tragedi Kanjuruhan. (Sumber Foto: AP Photo/Yudha Prabowo)

Ratih menuturkan bahwa membaca berita soal tragedi Kanjuruhan yang menimbulkan 131 kematian bisa menimbulkan efek trauma. Apalagi yang menonton di media layar. Efek trauma makin terasa bagi orang-orang yang makin dekat dengan peristiwa itu. Terlebih mereka yang ada dalam peristiwa itu.

Seiring berjalannya waktu, Ratih berharap efek trauma yang dirasakan bisa memudar. Juga kejadian kemarin bisa menjadi titik tolak pengamanan pertandingan sepak bola yang lebih baik lagi.

"Setelah efek trauma menghilang, harapan saya stadion-stadion serta pengamanannya dioptimalkan, apalagi orang yagn akan kembali datang ke stadion untuk menonton langsung pertandingan sepak bola," kata wanita yang merupakan CEO Personal Growth-Counseling & Development Center ini lewat pesan teks.

Bila memang masih ada kekhawatiran menonton sepak bola di stadion, menyaksikan pertandingan bareng-bareng (nobar) dari rumah juga bisa seru.

"Yang penting, mudah-mudahan kecintaan terhadap olahraga termasuk sepak bola tetap besar," kata Ratih.

 


131 Orang Meninggal

Foto: Momen Haru saat Skuad Arema FC Berziarah ke Makam Korban Tragedi Kanjuruhan
Perbesar
Kehadiran para pemain dan ofisial tim Arema FC tentunya memberi sedikit kebahagiaan di tengah duka yang dirasakan keluarga. Para skuad Arema FC pun berharap keluarga korban mampu melwati masa-masa sulit usai kehilangan orang-orang tecinta akibat Tragedi Kanjuruhan. (AFP/Putri)

Korban jiwa atas tragedi Kanjuruhan usai laga Arema FC vs Persebaya menjadi 131 orang meninggal dunia per 5 Oktober 2022 pagi. Sebelumnya, Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia Muhadjir Effendy mengumumkan ada 125 orang meninggal.

Angka jumlah korban tragedi maut di Stadion Kanjuruhan tersebut bersumber dari Dinas Kesehatan kabupaten Malang, Jawa Timur dan telah dikonfirmasi kepada Wakil Bupati Malang Didik Gatot Subroto.

Data korban jiwa berasal dari sejumlah rumah sakit (RS) yang menangani korban, di antaranya RS Wafa Husada, RSB Hasta Brata Batu, RSUD Kanjuruhan, RSUD Dr. Saiful Anwar, dan RS Teja Husada Kepanjen.

Kemudian data korban juga berasal dari pencatatan di RS Ben Mari Pakisaji, RS Hasta Husada, RSI Gondang Legi, RS Salsabila, RST Soepraon serta informasi dari keluarga korban.

Dari 131 korban tragedi Kanjuruhan Malang meninggal tersebut, terdiri dari 90 laki-laki dan 41 perempuan. Kebanyakan korban remaja dan muda, yakni rentang usia 12 - 24 tahun. Sementara itu, ada satu korban meninggal masih balita yang berusia 4 tahun.

 


Kebanyakan Korban Meninggal Usia 12-24

Tragedi Kanjuruhan, Elimiati Kehilangan Suami dan Anaknya Usia 3 Tahun
Perbesar
Elimiati menunjukkan momen foto bersama suami dan anaknya, Rudi Harianto dan M Virdi Prayoga yang masih berusia 3 tahun saat menonton pertandingan Arema lawan Persebaya pada 1 Oktober 2022. Bapak dan anak itu jadi korban meninggal ketika terjadi tragedi di Stadion Kanjuruhan Malang (Liputan6.com/Zainul Arifin) 

Dari 131 korban tragedi Kanjuruhan Malang meninggal tersebut, terdiri dari 90 laki-laki dan 41 perempuan. Kebanyakan korban remaja dan muda, yakni rentang usia 12 - 24 tahun. Sementara itu, ada satu korban meninggal masih balita yang berusia 4 tahun.

Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Dedi Prasetyo, Rabu (5/10/2022) memastikan jumlah korban meninggal dalam tragedi Kanjuruhan Malang sebanyak 131 orang. Jumlah itu juga diperoleh setelah dilakukan verifikasi dan pengecekan bersama Dinas Kesehatan Provinsi dan Kabupaten/Kota, Tim Disaster Victim Investigation (DVI), dan Direktur Rumah Sakit setempat.

"Jadi data korban meninggal 131 orang," kata Dedi pada Rabu, 5 Oktober 2022.

Dedi juga menjelaskan, terjadi selisih data korban meninggal karena Tim DVI bersama Dinas Kesehatan awalnya mendata korban yang dibawa ke rumah sakit saja. Setelah dilakukan pencocokan data, diketahui ada 12 korban meninggal tidak di fasilitas kesehatan (faskes).

"Non faskes penyebab selisihnya setelah semalam dilakukan pencocokan data bersama Dinas Kesehatan, Tim DVI, dan Direktur Rumah Sakit," lanjut Dedi, dikutip dari Regional Liputan6.com.

Infografis Daftar 131 Nama Korban Meninggal Tragedi Kanjuruhan Malang. (Liputan6.com/Trieyasni)
Perbesar
Infografis Daftar 131 Nama Korban Meninggal Tragedi Kanjuruhan Malang. (Liputan6.com/Trieyasni)
Lanjutkan Membaca ↓

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya