Gas Air Mata di Tragedi Kanjuruhan Arema, Menkes Budi Akui Baru Tahu Aturan FIFA

Oleh Fitri Haryanti Harsono pada 04 Okt 2022, 16:00 WIB
Diperbarui 04 Okt 2022, 16:00 WIB
Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin
Perbesar
Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin meninjau fasilitas produksi bahan aktif anti oksidan Astaxanthin Evergen Resources di Kendal, Jawa Tengah pada Sabtu, 27 Agustus 2022. (Dok Kementerian Kesehatan RI)

Liputan6.com, Jakarta - Terkait tragedi Arema, Menteri Kesehatan Republik Indonesia Budi Gunadi Sadikin mengakui dirinya baru tahu aturan Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA), khususnya terkait gas air mata. Bahwa FIFA sebenarnya telah melarang penggunaan gas air mata di stadion sepak bola.

Pada tragedi Kanjuruhan Arema di Stadion Kanjuruhan Malang, Jawa Timur pada Sabtu (1/10/2022), aparat keamanan menembakkan gas air mata. Upaya itu disebut-sebut demi mengatasi kericuhan supporter yang kecewa atas kekalahan Arema FC saat menjamu Persebaya Surabaya.

"Saya terus terang, jujur saja, saya baru lihat yang aturannya FIFA mengenai mesti begitu (pelarangan gas air mata). Mungkin kan banyak orang yang baru tahu juga. Nah itu (standar protokolnya) harus diselesaikan sampai ke bawah," ucap Budi Gunadi usai rapat terbatas di Istana Kepresidenan Jakarta pada Senin, 3 Oktober 2022.

Menurut Budi Gunadi, standar protokol sepak bola, terlebih lagi pertandingan besar, harus dipelajari bersama di lintas kementerian/lembaga, organisasi olahraga hingga aparat keamanan yang menjaga jalannya pertandingan.

"Jadi, tadi di rapat Menko juga sudah disampaikan. Kita akan duduk bersama dengan Menteri Pemuda dan Olahraga (Zainudin Amali). Semua organisasi olahraga internasional besar sudah ada standarnya," lanjutnya.

"Standar-standar itu (termasuk soal gas air mata) akan kita pelajari bersama dengan Menpora dan kita akan sosialisasikan ke seluruh stakeholder," kata Menkes Budi.

**Gempa Cianjur telah meluluhlantakkan Bumi Pasundan, mari bersama-sama meringankan penderitaan saudara-saudara kita di Cianjur dengan berdonasi melalui: rekening BCA No: 500 557 2000 A.N Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih. Bantuan akan disampaikan dalam bentuk sembako, layanan kesehatan, tenda, dll. Kepedulian kita harapan mereka.


Standar Protokol Harus Tahu

Foto: Tangisan Pemain dan Ofisial Tim Arema FC Pecah Ketika Menginjakkan Kaki di Stadion Kanjuruhan
Perbesar
Isak tangis terlihat dari pemain arema saat berada di dalam Stadion. (AFP/Juni Kriswanto)

Ditegaskan Budi Gunadi Sadikin, dalam hal standar protokol pertandingan olahraga terutama event besar, seluruh stakeholder harus tahu. Tidak hanya organisasi olahraga saja yang tahu.

"Jadi yang tahu (standar protokol) jangan hanya Menpora, Kementerian Kesehatan saja, tapi Polri juga harus tahu," tegasnya.

"TNI harus tahu, organisasi-organisasi olahraga harus tahu sampai ke daerah harus tahu. Bahwa standarnya tuh begini, protokolnya tuh begini, caranya begini karena sebagian besar juga belum tahu."

Perkembangan investigasi tragedi Arema, Polri telah melakukan pemeriksaan internal terhadap 18 anggota terkait penggunaan gas air mata saat tragedi Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur. Hal itu menyusul banyak respons dan kritik terkait langkah pengendalian massa petugas lapangan.

"Tim dari permeriksa Bareskrim untuk secara internal, tim dari Itsus dan Propam sudah melakukan pemeriksaan, dan ini dilanjutkan pemeriksaan, memeriksa anggota yang terlibat langsung dalam pengamanan," tutur Kadiv Humas Polri Irjen Dedi Prasetyo di Malang, Jawa Timur, Senin (3/10/2022).

"Ya sudah dilakukan pemeriksaan terhadap 18 orang anggota yang bertanggung jawab atau sebagai operator pemegang senjata pelontar."


Gas Air Mata dan Kematian Penonton

Aksi Seribu Lilin untuk Korban Kerusuhan Kanjuruhan di GBK
Perbesar
Massa yang tergabung dalam Ultras Garuda Jakarta menggelar aksi seribu lilin dan tabur bunga untuk korban kerusuhan Stadion Kanjuruhan Malang di depan Stadion Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Minggu (2/10/2022). Aksi yang diikuti ratusan pecinta sepakbola di Jakarta tersebut sebagai bentuk belasungkawa terhadap ratusan korban yang tewas dalam kerusuhan di Stadion Kanjuruhan Malang kemarin. (merdeka.com/Iqbal S Nugroho)

Adanya tragedi di Stadion Kanjuruhan, Direktur Pasca Sarjana Universitas YARSI Tjandra Yoga Aditama mengemukakan, beberapa hal utama yang perlu dipahami bersama.

Pertama, kita semua amat berduka dengan wafatnya para korban dan mendoakan tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa. Kedua, semua kita tentu berharap agar jangan sampai ada kejadian serupa terjadi lagi, jangan di Indonesia," kata Tjandra Yoga melalui pesan singkat kepada Health Liputan6.com, Senin (3/10/2022).

"Jangan pula di manapun di dunia ini. Ketiga, akan baik kalau kita tunggu hasil analisa mendalam tentang sebab kematian para korban, yang mungkin beberapa faktor yang saling memengaruhi."

Selanjutnya, kemungkinan dampak gas air mata walaupun memang belum tentu hal ini yang jadi penyebab kematian penonton. Dampak gas air mata akan tergantung dari tiga poin.

"Pertama, seberapa besar dosis gas yang terkena pada seseorang. Makin besar paparannya tentu akan makin buruk akibatnya. Poin kedua, dampak juga akan tergantung dari kepekaan seseorang terhadap bahan di gas itu, serta kemungkinan ada gangguan kesehatan tertentu pada mereka yang terpapar," jelas Tjandra Yoga.

"Poin ketiga, dampak akan tergantung dari apakah paparan ada di ruang tertutup atau ruang terbuka, demikian juga bagaimana aliran udara yang membawa gas beterbangan."


Gas Air Mata Bahayakan Anak

Kondisi Stadion Kanjuruhan Malang Usai Tragedi Kerusuhan
Perbesar
Kendaraan polisi yang terbalik terlihat di lapangan setelah tragedi kerusuhan pada pertandingan sepak bola antara Arema Vs Persebaya di Malang, Jawa Timur, Minggu (2/10/2022). Dari 129 orang yang meninggal dunia dalam kejadian tersebut, dua orang merupakan polisi. (AP Photo/Hendra Permana)

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Retno Listyarti juga menyoroti penggunaan gas air mata saat kericuhan usai laga Arema vs Persebaya di Stadion Kanjuruhan. Gas air mata sangat berbahaya, terlebih bagi anak. 

"Tragedi kemanusian di dunia sepak bola terbesar pernah terjadi pada tahun 1964 di kota Lima, Peru yang menewaskan 328 jiwa dan penyebabnya sama seperti di Stadion Kanjuruhan, yaitu penggunaan gas air mata oleh aparat," ujar Retno melalui pernyataan resmi yang diterima Health Liputan6.com pada Senin, 3 Oktober 2022.

"Efek yang dirasakan dari gas air mata memang sangat fatal untuk anak."

Efek gas air mata pada anak disebutkan Retno, antara lain:

  • Di kulit: rasa terbakar
  • Di mata: rasa perih, keluar air mata
  • Di saluran pernapasan: hidung berair, batuk, rasa tercekik
  • Di saluran pencernaan: rasa terbakar yang parah di tenggorokan, keluar lendir dari tenggorokan, muntah
  • Jika masuk hingga ke paru-paru: menyebabkan napas pendek, sesak napas

“Itulah mengapa penggunaan gas air mata tersebut dilarang oleh FIFA. FIFA dalam Stadium Safety and Security Regulation Pasal 19 menegaskan bahwa penggunaan gas air mata dan senjata api dilarang untuk mengamankan massa dalam stadion," jelas Retno.

Infografis Tragedi Arema di Stadion Kanjuruhan Malang. (Liputan6.com/Abdillah)
Perbesar
Infografis Tragedi Arema di Stadion Kanjuruhan Malang. (Liputan6.com/Abdillah)
Lanjutkan Membaca ↓

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya