Rizky Billar Diduga Selingkuh, Kenapa Malah Berujung Lakukan Kekerasan ke Lesti Kejora?

Oleh Diviya Agatha pada 01 Okt 2022, 11:22 WIB
Diperbarui 01 Okt 2022, 11:51 WIB
Lesti Kejora - Rizky Billar (Foto: Instagram/@lestykejora)
Perbesar
Lesti Kejora - Rizky Billar (Foto: Instagram/@lestykejora)

Liputan6.com, Jakarta Pekan ini, informasi terkait Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang dilakukan oleh Rizky Billar kepada istrinya Lesti Kejora berhasil menarik perhatian publik. Pasalnya, pasangan satu ini dikenal sebagai salah satu pasangan yang begitu romantis dan hangat.

Rizky Billar diduga melakukan KDRT pada Lesti Kejora. Pria berusia 27 tahun tersebut telah dilaporkan sang istri ke pihak kepolisian karena melakukan kekerasan.

Saat kasus KDRT pada Lesti Kejora didalami, pemicunya ternyata adalah perasaan emosi yang menyelimuti Rizky Billar usai ketahuan selingkuh. Berdasarkan keterangan sementara yang diterima kepolisan, Lesti Kejora dibanting dan dicekik berulang kali oleh Rizky Billar.

"Terlapor berusaha mendorong korban dan membanting korban ke kasur dan mencekik leher korban sehingga korban terjatuh ke lantai dan hal tersebut dilakukan berulang-ulang," tutur Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Endra Zulpan mengutip News Liputan6.com.

Tentu tak sedikit yang terkejut akibat kabar satu ini. Para pendukung hingga orang-orang terdekat mereka mengaku syok mendengar kabar KDRT yang dilakukan Rizky Billar. Dukungan terhadap Lesti Kejora mengalir deras di dunia maya.

Kisah dari pasangan lain dengan cerita serupa pun tak sedikit. Hal ini tentu membuat bertanya-tanya, 'Ada apa?' Ketahuan selingkuh tapi malah melakukan tindak kekerasan saat ketahuan oleh pasangan.

Health Liputan6.com pun mencoba mencari tahu dan meminta pendapat psikolog keluarga Universitas Kristen Maranatha Bandung, Efnie Indriani.

Efnie mengungkapkan bahwa faktor emosi memang dapat membuat seseorang jadi lepas kendali. Hal tersebut berkaitan dengan fungsi amigdala pada otak yang menjadi tidak berfungsi saat diliputi oleh emosi.

"Saat ada emosi negatif, fungsi amigdala otak akan membajak bagian otak yang mengendalikan bagian self control (prefrontal cortex otak). Bagian amigdala otak ini tidak ada fungsi berpikir sama sekali," ujar Efnie melalui keterangan pada Health Liputan6.com, Sabtu (1/10/2022).

**Gempa Cianjur telah meluluhlantakkan Bumi Pasundan, mari bersama-sama meringankan penderitaan saudara-saudara kita di Cianjur dengan berdonasi melalui: rekening BCA No: 500 557 2000 A.N Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih. Bantuan akan disampaikan dalam bentuk sembako, layanan kesehatan, tenda, dll. Kepedulian kita harapan mereka.


Jika Sudah Terbiasa, Otak Akan Refleks Melakukannya

7 Potret Lesty Kejora dan Rizky Billar Liburan di Paris, Pamer Kemesraan
Perbesar
Lesty Kejora dan Rizky Billar (Sumber: Instagram/rizkybillar)

Lebih lanjut Efnie mengungkapkan bahwa tindak kekerasan yang dilakukan sebenarnya juga berkaitan dengan kebiasan orang yang bersangkutan. Artinya, saat seseorang melakukan kekerasan fisik saat emosi, kemungkinan tindakan tersebut memang sudah biasa dilakukan.

"Jadi untuk seseorang yang terbiasa dalam kondisi emosi negatif (marah) melakukan kekerasan fisik, maka amigdala akan memicu reflek-reflek tersebut secara otomatis," kata Efnie.

Menurut Efnie, tindak KDRT yang dilakukan Rizky Billar pada Lesti Kejora mungkin saja merupakan percampuran antara emosi negatif dan upaya untuk melindungi harga diri.

Usai ketahuan selingkuh, harga diri orang yang bersangkutan mungkin tergores. Sehingga dirinya berupaya untuk menutupi hal tersebut dengan melakukan tindak kekerasan sebagai respons yang keluar.

Saat memberikan laporan pada Rabu, 28 September 2022, Lesti Kejora telah membawa hasil visum untuk memperkuat bukti KDRT yang dilakukan oleh Rizky Billar ke Polres Metro Jakarta Selatan. Kini, Lesti Kejora tengah melakukan perawatan di RSIA Bunda, Menteng, Jakarta.


Kejadian yang Sangat Traumatis

Beredar Kabar Suaminya Selingkuh dan KDRT, Ini Potret Gemas Lesti Kejora Sebelum Jadi Istri Rizky Billar
Perbesar
Foto candid Lesti dengan make up natural. Terkait tindak KDRT yang dilakukan, Billar disebut membanting dan mencekik sang istri. (Instagram/@lestykejora)

Efnie mengungkapkan setelah menjadi korban perselingkuhan kemudian KDRT, korban bisa mengalami trauma yang berat. Sehingga penanganan yang tepat perlu dilakukan untuk menyikapinya.

"Kejadian ini sangat traumatis bagi korban, maka penanganan oleh profesional (dokter + psikolog) wajib dilakukan agar korban bisa dipulihkan secara fisik dan mental serta meneruskan perjalanan hidupnya," ujar Efnie.

Di sisi lain, orang-orang di sekitar korban sebaiknya hadir secara fisik untuk mendampingi serta menjadi pendengar yang baik. Efnie menyarankan untuk menghindari percakapan terkait hal tersebut karena dapat memicu rasa trauma lebih dalam.

"Mereka (orang-orang terdekat korban) harus menjadi supporting group dengan cara hadir secara fisik, mendampingi, menjadi pendengar yang baik, dan menenangkan," kata Efnie.

"Hindari untuk membahas kasus tersebut berulang-ulang di hadapan korban karena akan semakin memicu rasa trauma," tambahnya.


Hal yang Bisa Dilakukan Masyarakat

Ilustrasi memberi dukungan dan pertolongan.
Perbesar
Ilustrasi memberi dukungan dan pertolongan. (dok Tara Winstead/pexels.com)

Di sisi lain, sebagai orang yang menyaksikan kasus KDRT dan perselingkuhan untuk menghindari pemberian label tertentu pada pelaku maupun korban. Menurut Efnie, hal tersebut bisa masuk dalam salah satu bentuk perundungan (bully).

"Hal yang sebaiknya tidak dilakukan adalah memberikan label tertentu pada pelaku maupun korban, karena hal tersebut merupakan salah satu bentuk bully," ujar Efnie.

Efnie mengungkapkan bahwa penting pula untuk tidak membicarakan kasus ini di depan anak-anak di bawah umur. Hal tersebut lantaran informasi yang tidak baik seperti ini dianggap dapat merusak psikis dan perkembangan anak.

"Hindari juga untuk membicarakan hal ini di hadapan anak-anak yang masih berusia di bawah umur karena informasi yang tidak baik ini bisa merusak psikis atau perkembangan mereka," kata Efnie.

Infografis 1 dari 4 Perempuan Mengalami Kekerasan Fisik atau Seksual. (Liputan6.com/Trieyasni)
Perbesar
Infografis 1 dari 4 Perempuan Mengalami Kekerasan Fisik atau Seksual. (Liputan6.com/Trieyasni)
Lanjutkan Membaca ↓

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya