Prediksi Imun Turun Awal 2023, Menkes Budi Kejar 100 Juta Suntik Booster

Oleh Fitri Haryanti Harsono pada 16 Sep 2022, 14:00 WIB
Diperbarui 16 Sep 2022, 14:00 WIB
Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin
Perbesar
Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin saat konferensi pers 'Opening Ceremony COMSTECH-OIC Fellowship Program dan Peresmian Laboratorium Jejaring OIC COE' di Gedung Kementerian Kesehatan RI, Jakarta pada Kamis, 15 September 2022. (Dok Liputan6.com/Fitri Haryanti Harsono)

Liputan6.com, Jakarta Menteri Kesehatan Republik Indonesia Budi Gunadi Sadikin memprediksi imunitas masyarakat terhadap COVID-19 akan menurun pada awal tahun 2023. Perhitungan ini melihat jangka waktu digulirkannya vaksin dosis 3 atau booster yang dimulai sejak 12 Januari 2022.

Bahwa ada ada penurunan imunitas setelah enam bulan lebih seseorang mendapatkan vaksin booster. Hal ini juga sebagaimana studi penelitian yang menyebut, imunitas seseorang dapat turun selepas enam bulan divaksinasi COVID-19.

"Dugaan saya, kita akan menurun imunitas di awal tahun depan. Itu sebabnya yang belum dibooster akan kita encourage (dorong), kita kejar lagi di akhir tahun supaya bisa mempersiapkan teman-teman buat booster," ujar Budi Gunadi saat konferensi pers 'COMSTECH-OIC Fellowship Program dan Peresmian Laboratorium Jejaring OIC Center of Excellence (CoE) on Vaccines and Biotechnology Products' di Gedung Kementerian Kesehatan RI, Jakarta pada Kamis, 15 September 2022.

"Nanti kita akan bikin program lagi (mengejar capaian vaksinasi booster). Karena (jumlah) booster ini baru 60 jutaan (dosis suntik). Kita mau naikin lah, kalau bisa sampai 100 juta. Jadi, kita lebih tenang dan sudah lebih banyak orang yang dibooster."

Berdasarkan data Vaksinasi COVID-19 Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI per Jumat, 16 September 2022 pukul 12.00 WIB, total vaksinasi dosis 3 atau booster pertama di angka 26,57 persen (62,3 juta dosis suntik) dan vaksinasi dosis 4 atau booster kedua bagi tenaga kesehatan di angka 36,07 persen (529.715 dosis suntik).

**Gempa Cianjur telah meluluhlantakkan Bumi Pasundan, mari bersama-sama meringankan penderitaan saudara-saudara kita di Cianjur dengan berdonasi melalui: rekening BCA No: 500 557 2000 A.N Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih. Bantuan akan disampaikan dalam bentuk sembako, layanan kesehatan, tenda, dll. Kepedulian kita harapan mereka.


Vaksinasi Booster Masih Rendah

FOTO: Antusiasme Warga Jalani Vaksinasi Booster COVID-19
Perbesar
Warga menjalani vaksinasi booster COVID-19 di Balai RW 04, Ciganjur, Jakarta Selatan, Senin (18/7/2022). Pemerintah mulai memberlakukan kebijakan wajib vaksinasi ketiga atau booster COVID-19 sebagai syarat perjalanan dan masuk ke ruang publik mulai 17 Juli 2022. (merdeka.com/Arie Basuki)

Adanya upaya mengejar cakupan vaksinasi booster, diakui Budi Gunadi Sadikin turut melihat cakupan dosis 3 tersebut masih rendah. Terlebih, imunitas terhadap COVID-19 dapat menurun setelah mendapatkan vaksin COVID-19.

"Ini booster 3 masih rendah, saya butuh teman-teman wartawan untuk menyampaikan. Karena biar bagaimana kan (imunitas) nanti turun kalau sudah enam bulan (divaksinasi)," lanjutnya.

Pada konferensi pers Juli 2022, Menkes Budi Gunadi membeberkan alasan capaian vaksinasi booster di Tanah Air masih rendah. Salah satunya, masyarakat merasa aman sudah disuntik dosis pertama dan kedua.

"Booster kenapa sedikit? Di mana-mana negara lain juga sama. Karena masyarakat mungkin sudah merasa divaksin dua kali itu lebih kuat. Kalau kita lihat data saintifik menunjukkan, sesudah 6 bulan terjadi penurunan (efektivitas)," ungkap Budi Gunadi saat memberikan keterangan pers usai Rapat Terbatas Evaluasi Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di Istana Merdeka Jakarta pada 4 Juli 2022.

"Jadi jauh lebih baik dan waspada supaya segera lakukan booster. Apalagi tadi ada penurunan kalau sudah 6 bulan (disuntik dosis kedua). Itu (booster) akan memberikan perlindungan."


Butuh Inovasi agar Mau Booster

FOTO: Antusiasme Warga Ikuti Vaksinasi Booster COVID-19 untuk Mudik Lebaran
Perbesar
Warga mengisi data-data saat mengikuti vaksinasi booster COVID-19 di Taman Pemuda Pratama, Depok, Jawa Barat, Kamis (7/4/2022). Bagi warga yang belum vaksin atau vaksin baru sekali tetap harus tes PCR. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Menurut Budi Gunadi Sadikin, tak masalah masyarakat menerima vaksin booster. Sebab, lebih baik divaksin booster dibanding harus skrining tes COVID-19 dengan swab.

"Tidak ada buruknya juga disuntik (divaksin). Kalau saya rasa sih, mendingan disuntik daripada dicolok-colok PCR. Enggak nyaman juga kan ya hidung dicolok-colok. Lagi pula disuntik untuk kehati-hatian (dari penularan virus Corona)," pungkasnya.

Sesuai arahan Presiden Joko Widodo (Jokowi), Menkes Budi Gunadi menyampaikan, pelaksanaan vaksinasi booster harus dipercepat. Perlu adanya inovasi dan pendekatan supaya masyarakat tergerak untuk mau dibooster.

"Bapak Presiden juga sadar, harus ada cara khusus supaya masyarakat terpacu buat vaksinasi booster. Sama seperti dulu, orangtua susah sekali ikut vaksinasi," ujarnya.

"Nah, begitu ada syarat vaksinasi buat masuk mal. Pada mau semua kan orangtua. Alasannya, katanya senang antar cucunya ke mal. Maka, perlu upaya yang inovatif, Bapak Presiden minta ada pendekatan sosial biar masyarakat jadi semangat dibooster kembali."


Tingkatkan Kadar Antibodi

FOTO: Antusiasme Warga Ikuti Vaksinasi Booster COVID-19 untuk Mudik Lebaran
Perbesar
Petugas melakukan pendataan kepada warga saat pelaksanaan vaksinasi booster COVID-19 di Taman Pemuda Pratama, Depok, Jawa Barat, Kamis (7/4/2022). Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengingatkan syarat yang harus dipenuhi untuk mudik Lebaran 2022. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Pada ratas, disampaikan pula vaksinasi booster mampu meningkatkan kadar antibodi. Upaya ini memberikan perlindungan di tengah ancaman subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 yang sudah menyebarluas di Indonesia.

"Pesan yang disampaikan kepada masyarakat adalah agar vaksinasi booster dipercepat. Booster terbukti dapat meningkatkan kadar antibodi yang ada di tubuh itu terus diperbanyak," jelas Menkes Budi Gunadi Sadikin.

Masyarakat diharapkan segera melakukan vaksinasi booster. Vaksinasi booster terbukti berhasil meningkatkan kadar antibodi tubuh dalam melawan COVID-19.

Hal di atas sesuai dengan hasil sero survei antibodi COVID-19 yang sudah dilaksanakan pada Maret 2022.

"Data sero survei yang Maret 2022 menunjukkan, kadar antibodi rata-rata sebelum booster sekitar 400 titer. Begitu dibooster, itu naik berkali kali lipat kadar antibodinya, sehingga akan sangat melindungi masyarakat,” terang Budi Gunadi pada konferensi pers 31 Mei 2022.

Sesuai arahan Presiden Jokowi pula masyarakat diminta untuk segera mendapatkan suntikan booster di wilayahnya masing-masing.

“Bapak Presiden juga sekaligus meminta untuk mempercepat stok vaksin COVID-19 yang ada di daerah sekarang itu segera menerapkan booster,” sambung Menkes.

Infografis Bedanya Vaksin Primer dengan Booster Covid-19
Perbesar
Infografis Bedanya Vaksin Primer dengan Booster Covid-19 (Liputan6.com/Abdillah)
Lanjutkan Membaca ↓

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya