98,5 Persen Warga Kebal Corona, Yakin Indonesia Tak Alami Puncak COVID-19?

Oleh Fitri Haryanti Harsono pada 13 Agu 2022, 19:00 WIB
Diperbarui 13 Agu 2022, 19:00 WIB
Wiku Adisasmito
Perbesar
Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito saat konferensi pers di Media Center COVID-19, Graha BNPB, Jakarta, Kamis (4/8/2022). (Dok Satgas Penanganan COVID-19)

Liputan6.com, Jakarta Kekebalan masyarakat Indonesia terhadap virus Corona berdasarkan hasil sero survei ketiga yang dilakukan Juni - Juli 2022 secara nasional mencapai 98,5 persen. Lantas, apakah dengan kekebalan yang cukup tinggi membuat Indonesia terhindar dari kemungkinan adanya puncak kasus COVID-19?

Menurut Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito, penularan virus Corona berpeluang masih terjadi walau masyarakat sudah punya imunitas yang terbentuk dari infeksi alamiah maupun vaksinasi COVID-19.

Kasus baru COVID-19 juga fluktuatif bertahan dikisaran 5.000 - 6.000 dalam beberapa pekan terakhir. Apabila tidak berupaya bersama menekan kasus, maka peningkatan angka harian terus terjadi.

"Imunitas atau antibodi masyarakat ibarat sebuah payung, apabila dipakai ramai-ramai dalam kondisi hujan rintik-rintik pun pasti orang yang dipinggir tetap menjadi basah dan akan membasahi orang di sekitarnya," terang Wiku menjawab pertanyaan Health Liputan6.com melalui keterangan tertulis yang dikirimkan pada Jumat, 12 Agustus 2022.

"Sama halnya di tengah kekebalan yang tinggi, tidak membuat masyarakat 100 persen terlindungi."

Wiku menyebut sejumlah alasan masyarakat tidak 100 persen terlindungi dari COVID-19 meski imunitas tinggi. Pertama, lansia tanpa atau dengan booster, tapi sudah menurun imunitasnya.

"Lansia normal mulai menurun (imunitas) setelah 3 bulan (divaksinasi) dan dewasa normal setelah 6 bulan. Kedua, lansia maupun dewasa muda yang memiliki komorbid," jelasnya

"Ketiga, antibodi individualnya fluktuatif dan sedang menurun. Ini bisa karena kurang istirahat dan olahraga tidak teratur."

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Tidak Konsisten Protokol Kesehatan

Warga Padati Kawasan CFD Sudirman-Thamrin
Perbesar
Warga bersepeda di kawasan bundaran HI, Jakarta, Minggu (12/6/2022). Car Free Day di kawasan Sudirman-Thamrin dimanfaatkan warga untuk berolah raga dan ber foto-foto. (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Alasan keempat yang membuat masyarakat tetap bisa berpeluang terpapar COVID-19 walau kekebalan sudah tinggi, yakni tidak konsisten disiplin protokol kesehatan, terutama menggunakan masker dan hand sanitizer atau mencuci tangan dengan sabun.

"Penting menjadi perhatian, keempat alasan di atas atau kombinasi tersebut menjadi rentan terkena COVID-19, yang berpotensi dapat meningkatkan keterisian tempat tidur rumah sakit atau bahkan meninggal dunia," Wiku Adisasmito menambahkan.

Pada konferensi pers, Kamis (28/7/2022), Wiku mengingatkan masyarakat kembali pentingnya menerapkan dan saling mengawasi kedisiplinan protokol kesehatan yang baik dan benar. Misal, memakai masker dengan benar serta tidak melepasnya saat berbicara

Kemudian menggunakan sanitasi setiap atau setelah bersentuhan dengan orang lain, dan menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Pemerintah pusat hingga di tingkat daerah juga harus memastikan setiap orang telah menerima vaksin dosis 3 atau booster.

"Kepada pemerintah daerah, mohon monitor daerahnya masing-masing dan lakukan langkah penanganan terhadap kenaikan kasus. Serta terus upayakan agar angka vaksinasi booster terus meningkat," tegas Wiku di Media Center COVID-19, Graha BNPB, Jakarta.

"Karena dengan adanya kenaikan kasus saat ini, bukan tidak mungkin dapat terjadi lagi lonjakan kasus."

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS


Kombinasi Protokol Kesehatan dan Booster

Jelang Ramadan, Pasar Tanah Abang Ramai
Perbesar
Calon pembeli memilih baju di Pasar Tanah Abang, Jakarta, (28/3/2022). Sepekan menjalang bulan suci Ramadan, Pasar Tanah Abang mulai dipadati pembeli yang hendak berbelanja untuk kebutuhan bulan puasa. (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Kasus COVID-19 belakangan kembali meningkat di tengah masyarakat seiring geliat aktivitas sosial dan ekonomi. Situasi ini harus diperkuat dengan penerapan dan pengawasan kedisiplinan protokol kesehatan yang baik dan benar.

Wiku Adisasmito menekankan, masyarakat juga harus memastikan diri telah mendapatkan vaksin COVID-19 berikut booster. Kombinasi disiplin protokol kesehatan dan vaksinasi booster dapat memberikan perlindungan optimal.

"Diharapkan dengan protokol kesehatan ketat, dan masyarakat telah ter-booster, maka keadaan normal saat ini tidak memicu kembali lonjakan kasus di kemudian hari. Kabar baiknya, perkembangan vaksin booster ternyata meningkat 70 persen dalam 4 minggu terakhir seiring efektifnya kebijakan wajib booster untuk memasuki fasilitas publik," ujarnya.

"Ini menandakan semakin banyak masyarakat yang akhirnya melakukan vaksinasi booster dan hal ini sangat baik karena dapat meningkatkan perlindungan kolektif dan mewujudkan kekebalan komunitas terhadap COVID-19."


'Setengah Disiplin' Jalankan 3M

FOTO: Industri Produk Tekstil Tumbuh 3,5 Persen
Perbesar
Pedagang menata kain bahan di Pasar Tanah Abang, Jakarta, Rabu (18/5/2022). Pada paruh pertama tahun ini, industri tekstil dan produk tekstil (TPT) diyakini akan melanjutkan ekspansi yang sudah dimulai sejak kuartal IV/2021. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Wiku Adisasmito kembali mengimbau masyarakat pentingnya perilaku mencegah COVID-19 dalam setiap aktivitas. Sebab, belakangan ini kasus COVID-19 kembali meningkat, baik di dalam negeri maupun di berbagai belahan dunia.

"Di tengah kondisi kasus yang kembali dinamis dalam beberapa minggu terakhir, COVID-19 mengingatkan kita kembali pentingnya konsisten mengendalikan peluang penularan secara bersama-sama," katanya di Media Center COVID-19, Graha BNPB, Kamis (4/8/2022).

Protokol kesehatan seperti 3M (memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan) harus menjadi perilaku keseharian dan sebagai bagian dari perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dalam situasi pandemi COVID-19.

Namun, hasil pantauan kepatuhan secara nasional dari data Satgas Penanganan COVID-19 per 4 Agustus 2022 menunjukkan, kecenderungan sikap “setengah disiplin” dalam menjalankan 3M. Contohnya, hanya menjalankan satu atau dua aspek saja dari tiga aspek yang seharusnya tidak terpisahkan dari 3M.

Secara linear, kinerja pemantauan dan pelaporan kepatuhan di daerah juga menurun. Beberapa bulan terakhir, jumlah daerah yang melapor semakin berkurang. Hanya 17 dari 34 provinsi melapor pada pekan terakhir (25 - 31 Juli 2022).

"Lalu, kepatuhan memakai masker cenderung lebih rendah daripada menjaga jarak. Dari 17 provinsi yang melapor pada pekan terakhir, sekitar 40 persen kelurahan/desa tidak patuh memakai masker, sedangkan hanya sekitar 20 persen kelurahan/desa tidak patuh menjaga jarak," papar Wiku.

Infografis Pandemi Covid-19 Belum Berakhir, Subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 Mendominasi. (Liputan6.com/Abdillah)
Perbesar
Infografis Pandemi Covid-19 Belum Berakhir, Subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 Mendominasi. (Liputan6.com/Abdillah)
Lanjutkan Membaca ↓

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya