Kematian Akibat COVID-19 Meningkat, padahal 98 Persen Populasi Sudah Punya Imunitas, Kok Bisa?

Oleh Ade Nasihudin Al Ansori pada 12 Agu 2022, 10:08 WIB
Diperbarui 12 Agu 2022, 10:20 WIB
Wiku Adisasmito
Perbesar
Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito menegaskan bahwa kebijakan PPKM leveling akan terus berlanjut hingga kondisi COVID-19 di tingkat internasional dan nasional terkendali dengan baik saat konferensi pers di Media Center COVID-19, Graha BNPB, Jakarta, Selasa (10/5/2022). (Dok Satgas Penanganan COVID-19)

Liputan6.com, Jakarta - Kasus COVID-19 yang terus bertambah setiap harinya turut meningkatkan angka kematian di Indonesia.

Menurut data harian sebaran COVID-19 per Kamis, 11 Agustus 2022 pukul 12.00, angka kematian bertambah 22, sehingga akumulasinya menjadi 157.171.

Kasus meninggal terbanyak dilaporkan dari Jakarta dengan 5 kematian, disusul oleh Bali dengan 4 pasien meninggal dunia.

Sedangkan menurut COVID-19 Weekly Epidemiological Update Edition 104, minggu lalu (1-7 Agustus), Indonesia melaporkan 102 kematian akibat COVID-19.

Hal ini menimbulkan tanya, mengapa kasus kematian meningkat kendati 98 persen populasi telah memiliki kekebalan atau imunitas?

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19 Prof. Wiku Adisasmito menanggapi pertanyaan tersebut. Menurut dia, sebuah hasil survei tergantung dari metode dan sampel untuk secara maksimal dapat menggambarkan keterwakilan yang diupayakan di sebuah populasi, dengan berbagai keterbatasan yang ada.

Diketahui, angka 98 persen populasi memiliki imunitas merupakan hasil sero survei yang dilakukan Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI dan Tim Pandemi COVID-19 Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKMUI).

Menurut anggota tim peneliti FKM UI Iwan Ariawan, sero survei ini dilakukan di 100 kabupaten/kota di 34 provinsi, dengan menyasar 20.501 responden. Namun, dari jumlah tersebut pihaknya hanya berhasil melakukan survei pada sekitar 84,5 persen sampel.

Artinya, seperti yang dikatakan Wiku, bahwa sero survei masih memiliki berbagai keterbatasan salah satunya pada sampel yang tidak 100 persen. Hal ini kemudian memengaruhi keterwakilan di populasi.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Ibarat Sebuah Payung

Melihat Tes Serologi COVID-19 untuk Petugas Medis
Perbesar
Petugas medis diperiksa dengan metode Tes serologi COVID-19 di RS Siloam, Jakarta, Selasa (11/8/2020). Tes serologi antibodi SARS-CoV-2 berbasis lab adalah tes untuk mendeteksi antibodi baik Imunoglobulin M (IgM) dan Imunoglobulin G (IgG) terhadap SARS-CoV-2 dalam darah. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Selain itu, Wiku pun mengibaratkan, herd immunity atau kekebalan kelompok bak sebuah payung. Bila dipakai ramai-ramai dalam kondisi hujan rintik-rintik pun pasti ada yang di pinggir menjadi basah.

Demikian pula di tengah herd immunity yang tinggi, tetap ada beberapa orang yang tak terlindungi sepenuhnya. Wiku mengatakan setidaknya ada 4 kelompok yang mengisi daftar angka kematian yakni:

-Lansia tanpa atau dengan booster, tapi sudah menurun imunitasnya

“Lansia normal mulai menurun imunitas dari vaksin COVID setelah 3 bulan, dewasa normal setelah 6 bulan,” kata Wiku dalam pesan tertulis dikutip Jumat (12/8/2022).

-Komorbid atau orang dengan penyakit penyerta, baik lansia maupun dewasa muda.

-Imunitas individualnya fluktuatif dan sedang menurun, kurang istirahat, olahraga tidak teratur.

-Tidak konsisten disiplin protokol kesehatan, terutama menggunakan masker dan hand sanitizer/cuci tangan.

 “Maka kelompok-kelompok atau kombinasinya inilah yang menjadi kelompok pengisi bed rumah sakit dan terbilang dalam daftar angka kematian.”

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS


Masih Bisa Terinfeksi

Vaksinasi Booster Keempat untuk Nakes
Perbesar
Petugas kesehatan memberikan vaksin booster dosis kedua atau vaksinasi dosis keempat untuk tenaga kesehatan relawan yang bertugas di RSDC, Wisma Atlit, Kemayoran, Jakarta. Rabu (3/8/2022). Pemberian vaksinasi Covid-19 dosis booster ke-2 tersebut diberikan dengan interval 6 bulan sejak vaksinasi dosis booster pertama. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Sebelumnya, Iwan Ariawan menyampaikan bahwa bukan berarti jika sudah memiliki antibodi ini, penduduk tidak bisa terkena atau terinfeksi COVID-19.

"Tetap bisa terinfeksi COVID-19. Tapi risiko nanti untuk terjadinya COVID-19 berat atau risiko meninggalnya jauh berkurang dengan adanya kadar antibodi yang memadai atau tinggi," kata Iwan dalam konferensi pers, Kamis (11/8/2022).

Iwan menambahkan, dari hasil survei serologi, kadar antibodi orang Indonesia juga mengalami peningkatan sebanyak empat kali lipat dalam tujuh bulan terakhir (Desember 2021 - Juli 2022) dari sebelumnya 444,8 u/ml menjadi 2097,0 u/ml.

Hal tersebut dapat terjadi karena masyarakat Indonesia sudah melakukan vaksinasi COVID-19, dan terdapat pula masyarakat yang sudah terinfeksi virus SARS-CoV-2 sebelumnya. Sehingga peningkatan kadar antibodi pun terjadi.

Perwakilan lainnya dari Tim Pandemi COVID-19 FKMUI, Muhammad N Farid mengungkapkan bahwa peningkatan penduduk yang sudah divaksinasi COVID-19 memang sudah meningkat 10 persen.

"Ini tentunya akan men-trigger cakupan yang mempunyai antibodi atau kadar antibodi itu sendiri," ujar Farid.


Kenaikan Antibodi pada yang Sudah Booster

FOTO: Antusiasme Warga Ikuti Vaksinasi Booster COVID-19 untuk Mudik Lebaran
Perbesar
Warga menerima vaksin booster COVID-19 di Taman Pemuda Pratama, Depok, Jawa Barat, Kamis (7/4/2022). Presiden Joko Widodo telah mempersilakan masyarakat untuk mudik pada Lebaran 2022. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Dalam kesempatan yang sama, epidemiologi sekaligus perwakilan Tim Pandemi COVID-19 FKMUI, dr Pandu Riono mengungkapkan bahwa peningkatan kadar antibodi tersebut ternyata paling tinggi pada kelompok yang sudah melakukan vaksinasi booster.

"Kenaikan itu ternyata paling tinggi pada kelompok yang mana? Kelompok yang di booster --- Artinya semakin lengkap dosis vaksinasi, semakin tinggi kadar antibodi," ujar Pandu.

Perbedaan kadar antibodi juga ikut meningkat seiring dengan adanya peningkatan kelompok umur. Dari hasil survei, terlihat kadar antibodi pada orang dengan usia 60 tahun ke atas lebih tinggi usai melakukan vaksinasi booster.

"Jadi antara Desember dan Juli itu terjadi peningkatan, dan peningkatan terbesar pada kelompok 60 tahun keatas karena waktu itu prioritas booster-nya lebih tinggi pada kelompok 60 tahun keatas," kata Pandu.

"Ternyata dengan melengkapi vaksinasi hingga jadi booster meningkatkan kadar antibodi. Dampaknya apa? Selama bulan terjadi lonjakan kasus, angka keparahannya yang masuk rumah sakit, angka kematian tidak meningkat tajam," tambahnya.

Di sisi lain Wiku mengingatkan, prinsip dasar kesehatan masyarakat dengan perilaku hidup yang bersih dan sehat perlu dipraktikkan semua orang supaya sehat.

“Untuk yang mudah masuk angin atau sakit kalau kehujanan maka tidak cukup hanya PHBS, perlu ekstra pelindung. Jadi sudah jelas jawabannya dan edukasi publiknya tentang apa yang harus dilakukan,” pungkasnya.

Infografis Percepatan Vaksinasi Covid-19 Terkendala Stok dan Birokrasi. (Liputan6.com/Abdillah)
Perbesar
Infografis Percepatan Vaksinasi Covid-19 Terkendala Stok dan Birokrasi. (Liputan6.com/Abdillah)
Lanjutkan Membaca ↓

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya