Kemenkes Catat 15 Suspek Cacar Monyet di RI, Semuanya Negatif

Oleh Fitri Haryanti Harsono pada 08 Agu 2022, 16:30 WIB
Diperbarui 08 Agu 2022, 16:30 WIB
Punya Gejala yang Sama, Begini Cara Membedakan Cacar Monyet dan Cacar Ular
Perbesar
Cacar monyet (pexels/annashvets).

Liputan6.com, Jakarta Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia Maxi Rein Rondonuwu mengungkapkan, ada 15 kasus suspek cacar monyet (monkeypox) di Indonesia. Data ini hingga per 7 Agustus 2022.

"Masih sama seperti kemarin, belum ada perkembangan lagi, ya ada 14 atau 15 (suspek cacar monyet)," ungkap Maxi di sela-sela acara Visioning The Digital Health Transformation in Indonesia with Smile Application di Gedung Kemenkes RI Jakarta pada Senin, 8 Agustus 2022.

Dari data 15 kasus suspek cacar monyet tersebut, Maxi menekankan, seluruh pasien sudah selesai diperiksa. Mereka bukan masuk kategori suspek lagi, melainkan berubah status menjadi discarded.

Discarded artinya kasus suspek atau probable dengan hasil negatif PCR dan/atau sekuensing monkeypox. Sebelumnya, Kemenkes mencatat ada 10 suspek monkeypox, yang mana kasus tersebut termasuk suspek monkeypox yang ditemukan di Pati, Jawa Tengah beberapa hari lalu.

Selanjutnya, suspek monkeypox pun bertambah menjadi 15 kasus. Ketika ditanya kembali, penyakit kulit apa dalam kasus suspek monkeypox terakhir, Maxi menjawab belum mendapat informasi terkait hal tersebut.

"Mereka sudah selesai diperiksa negatif, bukan suspek lagi (15 kasus). Saya belum update (perbarui) diagnosanya apa, penyakit kulit apa, saya belum update," terang Maxi.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Surveilans Indonesia Berjalan Baik

ilustrasi laboratorium/credit pixabay/fernandozhiminaicela
Perbesar
ilustrasi laboratorium/credit pixabay/fernandozhiminaicela

Berkaitan dengan penyelidikan fenomena cacar monyet, Indonesia terus melakukan surveilans, terutama di pintu masuk kedatangan dan di komunitas. Adanya penemuan kasus 15 suspek cacar monyet membuktikan bahwa surveilans di Indonesia berjalan baik.

"Tetap surveilens kita lakukan. Surveilens di pintu masuk dan surveilens di komunitas. Temuan 15 kasus (suspek) itu artinya pembentukan surveilens kita mantap," Maxi Rein Rondonuwu menjelaskan.

"Artinya, ada orang yang bergejala, kemudian dilaporkan. Dan itu kan penyakit yang bukan seperti COVID-19 ini enggak bisa sembunyi, udah bentol-bentol (lesi cacar kulit) di muka, di kaki, bagaimana sembunyi di rumah? Enggak mungkin juga."

Adapun 15 kasus suspek monkeypox di Indonesia -- yang akhirnya berstatus discarded -- sebarannya  ada di 8 pasien di DKI Jakarta, 3 pasien dari Jawa Barat, dua pasien di Jawa Tengah, dan satu pasien di Jawa Tengah.

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS


Perluasan Penambahan Lab

Ilustrasi
Perbesar
Ilustrasi laboratorium. (dok. unsplash @sieuwert)

Sebagai upaya penguatan surveilans cacar monyet di Indonesia, Kemenkes menyiapkan tambahan 10 laboratorium. Total laboratorium menjadi 12 lab.

"Iya, ada tambahan 10 lab. Semua Balai Teknik Kesehatan Lingkungan Pengendalian Penyakit (BTKL-PP) kita, balai besar teknologi kesehatan kita dipakai," Maxi Rein Rondonuwu menambahkan.

"Itu ada di Medan, Palembang, Kalimantan adanya di Banjarmasin. Lalu Yogyakarta, Surabaya, Jakarta, Ambon, Manado, Makassar ada juga."

Seluruh lab tambahan juga tersedia peralatan dan perlengkapan untuk pendeteksian sampel, termasuk kelengkapan reagen. Adanya penambahan 10 lab bertujuan memprioritaskan kasus yang kemungkinan datang dari pintu masuk kedatangan Indonesia.

"Sudah siap kok (lab), kan pcr kita lengkap, reagennya sudah didistribusikan," lanjut Maxi.

"Kita perluasan (lab), pertama karena (tadinya) sedikit (jumlah lab). Kemudian mempertimbangkan yang prioritas, yang agak banyak pintu masuk internasional. Di Bali juga ada lab-nya, di Jakarta, Manado, pertimbangannya itu," sambung Maxi.


Siapkan Antivirus dan Vaksin

Mutasi Virus
Perbesar
Ilustrasi mutasi virus. Credits: pexels.com by EVG Kowalievska

Sebelumnya, Juru Bicara Kementerian Kesehatan RI Mohammad Syahril mengatakan, upaya deteksi cacar monyet, Kemenkes sudah melakukan penyelidikan epidemiologi dan menyiapkan kapasitas laboratorium.

Ada dua laboratorium yang sudah siap, yakni di Laboratorium Penelitian Penyakit Infeksi Prof. Sri Oemyati - Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK), Kemenkes, dan Pusat Studi Satwa Primata Institut Pertanian Bogor (IPB).

"Kami juga akan menambah sembilan atau 10 pusat laboratorium yang akan ditempatkan di daerah-daerah strategis," ujar Syahril saat konferensi pers beberapa hari lalu.

Dalam upaya perawatan (treatment) dan vaksin, Kemenkes sedang menyiapkan pemenuhan logistik antivirus dan vaksin.

"Kami berkomunikasi dengan dunia internasional yang sudah melalukan vaksin dan pengobatan," tutur Syahril.

Selain itu, Syahril menyampaikan, Kemenkes juga sudah mengeluarkan surat edaran yang ditujukan ke seluruh maskapai, pengelola transportasi darat dan laut, rumah sakit, puskesmas dan fasilitas layanan kesehatan lainnya untuk meningkatkan kewaspdaan terhadap monkeypox.

"Bahwa kasus ini bisa saja masuk Indonesia dan kita harus siap," tegasnya.

Infografis Heboh Cacar Monyet Merebak di Banyak Negara
Perbesar
Infografis Heboh Cacar Monyet Merebak di Banyak Negara (Liputan6.com/Triyasni)
Lanjutkan Membaca ↓

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya