Menkes Sebut Segera Kirim Reagen Cacar Monyet ke Daerah

Oleh Liputan6.com pada 28 Jul 2022, 07:12 WIB
Diperbarui 28 Jul 2022, 07:12 WIB
Tangkapan mikroskop elektron bagian ultratipis dari virus cacar monyet file 2004. (Gambar: AFP/RKI Institut Robert Koch/Freya Kaulbars)
Perbesar
Tangkapan mikroskop elektron bagian ultratipis dari virus cacar monyet file 2004. (Gambar: AFP/RKI Institut Robert Koch/Freya Kaulbars)

Liputan6.com, Jakarta Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunawan Sadikin mengatakan segera mengirimkan reagen atau cairan pendeteksi untuk penyakit cacar monyet ke seluruh Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK) yang ada di Indonesia. 

Hal tersebut Budi sampaikan saat berada di BBLK Palembang, Sumatera Selatan pada Rabu, 27 Juli 2022.

"Kami cek kesiapan di sini (BBLK Palembang), ternyata sudah siap alat  pun sudah lengkap jadi tinggal kirim barangnya saja (reagen)," kata Budi saat meninjau pelaksanaan pelayanan kesehatan di BBLK Palembang mengutip Antara.

Budi mengatakan bahwa pengiriman reagen bakal segera dilakukan agar pemeriksaan sampel pasien terduga cacar monyet atau monkeypox bisa dilakukan di laboratorium tingkat daerah. Sehingga, diharapkan nanti hasil pemeriksaa cepat dan optimal mengingat sejauh ini pemeriksaan itu masih terpusat di Jakarta.

Saat ini, Kementerian Kesehatan sudah menyiapkan sebanyak 1.500 buah reagen. Menkes mengatakan pengirimanan bakal dilakukan dalam waktu dekat secara bertahap mencakup ke seluruh laboratorium kesehatan di Indonesia.

Sehingga dari situ, kata dia, penyebaran penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus ini bisa dimitigasi secara maksimal.

Budi juga menyebutkan mengenai sembilan suspek cacar monyet di Tanah Air. Namun, hasil pemeriksaan tes negatif dari monkeypox.

"Memang sebelumnya pernah ada 9 kasus yang diduga terjangkit, namun setelah dites, hasilnya negatif. Tapi mitigasi adalah nomor satu. Kemudian surveilansnya juga mesti bagus," katanya.

Budi juga menyampaikan bakal mendatangakan seribu obat cacar monyet jikalau kasus tersebut masuk Indonesia. 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


RI Klasifikasi 1 Cacar Monyet, Artinya?

dr Muhammad Syahril, SpP
Perbesar
Jubir baru Kementerian Kesehatan RI, dr Mohammad Syahril, SpP yang juga Direktur Utama RSPI Sulianti Saroso. (Foto: dok. Kemenkes)

Di kesempatan berbeda, Juru Bicara Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, dr Mohammad Syahril menyebutkan bahwa Indonesia berada pada Klasifikasi 1 cacar monyet.

"WHO mengelompokan negara berdasarkan rekomendasi. Ada yang disebut dengan Klasifikasi 1. Nah, Klasifikasi 1 ini adalah negara yang belum melaporkan kasus atau negara yang pernah melaporkan kasus namun tidak melaporkan lagi selama 21 hari," ujar Syahril dalam konferensi pers Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI bertema Perkembangan Kasus Cacar Monyet (Monkeypox) di Indonesia pada Rabu, (27/7/022).

"Indonesia saat ini masuk Klasifikasi 1 karena belum pernah melaporkan kasus monkeypox ini ke WHO," tambahnya.

Lalu, apakah arti dari Klasifikasi 2 hingga 4 untuk cacar monyet yang ditetapkan oleh WHO? Berikut penjelasannya.

  • Klasifikasi 2: Negara yang sudah pernah mengalami kasus impor dan terjadi transmisi dari manusia ke manusia.
  • Klasifikasi 3: Negara yang mengalami transmisi antara hewan dan manusia.
  • Klasifikasi 4: Negara yang memiliki kapasitas produksi untuk diagnostik, vaksin, dan agen terapi.

10 Negara dengan Kasus Tertinggi

Kasus konfirmasi cacar monyet sendiri ada sebanyak 17.156 per kemarin. Sepuluh negara terbesarnya adalah Spanyol (3.135), Amerika Serikat (2.581), Inggris (2.213), Prancis (1.562), Jerman (712), Belanda (712), Kanada (681), Brazil (607), Portugal (588), dan Italia (407).

Cacar monyet yang terjadi dahulu kala dapat terjadi pada kategori usia berapapun termasuk pada anak-anak. Namun pada kasus cacar monyet yang terjadi saat ini, terdapat perbedaan yang cukup signifikan.

"Sebetulnya ada perbedaan gambaran klinis yang bisa kita temukan dari laporan kasus cacar monyet yang ditemukan di Afrika dengan tiga bulan terakhir ini mulai merebak," kata dokter spesialis penyakit dalam Robert Sinto  dalam konferensi pers daring bersama Syahril

Robert menjelaskan bahwa cacar monyet yang pernah ditemukan dahulu dapat menginfeksi banyak usia, mulai dari anak-anak, wanita, dan pria. Biasanya, gejala cacar monyet yang muncul kala itu berupa dataran merah, menonjol, berisi cairan, dan terakhir akan menjadi keropeng dan melepas.

"Jadi hampir seperti cacar air. Tetapi perbedaannya adalah bahwa kalau cacar air perubahan dari satu gambaran ke gambaran lain itu membutuhkan waktu yang cepat. Sehingga dalam hitungan hari, cacar air itu kita bisa bertemu ada yang keropeng, ada yang mulai bintil isi air, ada yang masih datar merah," kata Robert.


Cacar Monyet Dulu VS Sekarang

Monkeypox
Perbesar
Ilustrasi penyakit cacar monyet atau monkeypox. Credits: pixabay.com by TheDigitalArtist

Robert mengungkapkan bahwa cacar monyet yang muncul dahulu kala hampir mirip seperti cacar air, meskipun terdapat beberapa perbedaan.

"Nah ini yang tidak terjadi pada cacar monyet. Cacar monyet gambarannya dalam satu waktu kita akan bertemu tampilan klinis yang sama. Jadi kalau bertemu dengan bintil isi air, pada waktu itu semuanya bintil isi air," ujar Robert.

Robert menjelaskan, yang bisa menjadikan pembeda antara cacar air dan cacar monyet adalah munculnya bintil isi air di telapak tangan.

"Yang membedakannya lagi dengan cacar air adalah di telapak tangannya biasa terdampak. Kalau cacar air tidak di telapak tangan," kata Robert.

Pada kasus cacar monyet saat ini juga terjadi pembengkakan pada kelenjar getah bening. Sedangkan pada kasus cacar air dan cacar monyet sebelumnya tidak ditemukan adanya pembengkakan yang terjadi di area tersebut.

Infografis Ragam Tanggapan Cacar Monyet Sebagai Darurat Kesehatan Global. (Liputan6.com/Abdillah)
Perbesar
Infografis Ragam Tanggapan Cacar Monyet Sebagai Darurat Kesehatan Global. (Liputan6.com/Abdillah)
Lanjutkan Membaca ↓

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Live Streaming

Powered by

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya