Ada 194 Kasus Kusta di Indramayu, Terbanyak di Jabar

Oleh Ade Nasihudin Al Ansori pada 06 Jul 2022, 20:00 WIB
Diperbarui 12 Jul 2022, 12:54 WIB
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Indramayu dr. Wawan Ridwan, MM.
Perbesar
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Indramayu dr. Wawan Ridwan, MM. (Foto: Liputan6.com/Ade Nasihudin Al Ansori)

Liputan6.com, Indramayu - Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Indramayu dr. Wawan Ridwan, MM., mengatakan bahwa dalam satu tahun terakhir ada 194 kasus baru kusta yang ditemukan. Angka ini turut membuat Indramayu disebut sebagai kabupaten dengan kasus kusta terbanyak di Jawa Barat (Jabar).

Tingginya kasus kusta di Indramayu bukan tanpa alasan. Sebetulnya ini merupakan buah dari pencarian kasus yang intensif.

"Katanya Indramayu yang tertinggi di Jawa Barat, karena memang penemuan kasus kita menjadi intensif sehingga ini pun sebenarnya bukan hal yang memalukan karena semakin tinggi penemuan kasusnya berarti memang kita kerja," kata Wawan kepada Health Liputan6.com saat ditemui di Dinas Kesehatan Indramayu Selasa (5/7/2022).

Guna menemukan lebih banyak kasus kusta, pihak Dinkes Indramayu bekerja sama dengan puskesmas setempat, petugas pusat, dan tenaga medis.

"Memang kita dorong untuk menemukan kasus baru supaya segera diobati. Kemudian, yang kontak keluarganya juga kita ada pendekatan dengan PEP-COM untuk profilaksis exposure, kemudian juga pendekatan ke masyarakatnya."

PEP-COM atau Post Exposure Prophylaxis and Community adalah kegiatan yang dilakukan untuk memutus rantai penularan dengan pemberian obat pencegahan dan peningkatan pengetahuan.

Program yang diusung oleh Yayasan NLR Indonesia ini juga turut mendorong peningkatan keterampilan tenaga kesehatan serta pelibatan tokoh masyarakat dalam mengurangi stigma kusta. 

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Target Eliminasi Kusta

Wawan menambahkan, Indramayu memiliki target eliminasi kusta pada 2024.

"Kita ada target tahun 2024 sudah bebas kusta."

Untuk mencapai target tersebut, langkah-langkah yang dilakukan meliputi tiga tahap. Ketiga tahap ini meliputi:

-Upaya meningkatkan deteksi dini yang terlihat dari banyaknya penemuan kasus baru.-Mengurangi tingkat disabilitas baru akibat kusta.-Mengurangi insiden kasus baru di Kabupaten Indramayu.

"Kegiatan ini menggunakan tiga pendekatan sekaligus yaitu penguatan program eliminasi kusta di puskesmas, pelaksanaan kemoprofilaksis (pemberian obat pencegahan), serta pemberdayaan masyarakat itu yang kemudian kita sebut sebagai PEP-COM."

Indramayu juga belajar dari daerah lain seperti di Manado dan Sumenep. Pembelajaran dari daerah lain kemudian diterapkan diterapkan di Indramayu.

"Semoga ini membuahkan hasil sehingga kita ingin tahun 2024 ini Indramayu sudah bebas dari kusta."


Tantangan Eliminasi Kusta

Eliminasi kusta di Indramayu masih menghadapi berbagai tantangan. Salah satunya terkait sosialisasi pada masyarakat.

"Jadi tantangannya memang ini kan kita masih perlu menyosialisasikan penyakit kusta di masyarakat sehingga di samping kita melatih petugas kusta di puskesmas serta petugas medisnya, kita melatih kader."

Para kader memiliki peran sebagai multiplaying agent yang bisa melatih kader baru. Dengan demikian, penyebaran pengetahuan kusta tentang deteksi dini dan penangannya bisa merata di lapisan masyarakat terutama di daerah endemis di dua kecamatan yakni Kecamatan Kertasemaya dan Juntinyuat.

"Ini juga menjadi tantangan bagi kita semua supaya bagaimana masyarakat sadar bahwa penanganan kusta di Indramayu semakin intensif untuk mencapai Bebas kusta di 2024. Ada 100 desa endemis di tahun 2021 karena memang di desa itu ditemukan kasus setiap tahun, termasuk kasus anak."


Inovasi Penanganan Kusta di Indramayu

Sejauh ini, inovasi yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Indramayu adalah melalui Post Exposure Prophylaxis and Community atau PEP-COM. Dalam program ini, ada pemberian obat dosis tunggal untuk pencegahan bagi yang kontak dengan penderita baru.

Ada pula pemberdayaan masyarakat seperti membentuk kader dijadikan multiplaying agent dan membentuk tenaga kader lainnya sebagai multiagent yang baru.

"Inovasi lainnya untuk eliminasi kusta diperlukan kerja sama beberapa sektor antara lain dengan Dinas Kesehatan, puskesmas, dibantu Yayasan NRL Indonesia, lintas program dan sektor masyarakat, serta kebijakan pimpinan."

Jika Indramayu disebut kabupaten penyumbang kasus kusta terbanyak, menurut Wawan itu kurang tepat.

"Kalau menyumbang kurang tepat, tapi kita mampu menemukan kasus kusta lebih intensif karena dengan berbagai pelatihan petugas kusta dan dokter pelaksana medis dan dengan adanya multiplaying agent yang kita latih dari kader-kader mereka yang kemudian membantu kita ke masyarakat."

Wawan berharap target bebas kusta di tahun 2024 bisa tercapai. Berbagai usaha dari Dinkes, petugas, UPTD, puskesmas, Yayasan NLR Indonesia mulai terlihat hasilnya.

"Kalau bisa dicapai mudah-mudahan bisa dicontoh di daerah lain yang sedang berupaya untuk eliminasi kusta terutama di Jawa Barat," tutup Wawan.

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya