Menkes: Subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 Dominasi 80 Persen Kasus COVID RI

Oleh Aditya Eka Prawira pada 04 Jul 2022, 14:09 WIB
Diperbarui 04 Jul 2022, 22:08 WIB
FOTO: Waspada Ancaman Omicron hingga Februari Mendatang
Perbesar
Subvarian Omincron BA.4 dan BA.5 mendominasi hampir kasus COVID di Indonesia (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Liputan6.com, Jakarta Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin mengatakan bahwa Subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 mendominasi 80 persen kasus COVID-19 di Tanah Air.

Bahkan, lanjut Menkes Budi, kasus COVID-19 di DKI Jakarta 100 persen adalah kedua Subvarian Omicron baru tersebut.

"Sekarang di Indonesia, BA.4 dan BA.5 sudah lebih dari 80 persen dari varian yang kita genome sequence, bahkan di DKI Jakarta sudah 100 persen itu adalah BA.4 dan BA.5," kata Budi dalam Siaran Pers Terkait Rapat Terbatas Evaluasi PPKM di Kantor Presiden, Senin, 4 Juli 2022.

Sebelumnya, Budi terlebih dulu menyinggung mengenai kenaikan kasus COVID-19 yang terjadi hampir di seluruh dunia. Baik di Eropa, Amerika, maupun negara di Asia.

Menurut Menkes, berdasarkan hasil edukasi dengan epidemiolog, hal ini disebabkan kurangnya kewaspadaan dari beberapa negara, serta terlalu terburu-buru mengendurkan protokol kesehatan.

Indonesia dengan populasi yang jauh lebih banyak, disebut Budi relatif jauh lebih baik dalam menghadapi gelombang Subvarian Omicron BA.4 dan BA.5.

"Karena para masyarakat itu relatif lebih disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan dan juga dalam menjalankan vaksinasi," ujarnya.

Oleh sebab itu, masyarakt diimbau agar tidak mengendurkan protokol kesehatan yang sudah ditetapkan pemerintah, yaitu tetap pakai masker ketika berada di dalam ruangan, kerumunan, atau kondisi tidak sehat harus konsisten dijalankan.

"Bebas kalau di ruangan terbuka," Menkes Budi Gunadi Sadikin menambahkan.


Kasus COVID-19 Relatif TIdak Naik

FOTO: Waspada Ancaman Omicron hingga Februari Mendatang
Perbesar
Subvarian Omincron BA.4 dan BA.5 mendominasi hampir kasus COVID di Indonesia (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Hal kedua yang disampaikan Menkes Budi mengenai vaksinasi booster yang memang terbukti dapat meningkatkan kadar antibodi yang ada di dalam tubuh.

Kedua hal tersebut, kata Budi, yang membuat kasus di Indonesia dapat dikatakan tidak naik-naik.

"Kalau ditanya sudah di mana kasusnya Indonesia? Kalau kasus di luar negeri, 30 sampai 40 hari sejak kasus ditemukan, puncaknya akan tercapai. Di Indonesia, sudah 30 hari, jadi, kita masih ada waktu satu sampai dua minggu ke depan," katanya.

"Kalau kita bandingkan dengan negara lain, seharusnya puncaknya sudah tercapai. Data yang kami miliki menunjang hal tersebut," Budi menambahkan.

Dilanjutkan Budi bahwa biasanya puncak kasus COVID-19 akan tercapai kalau dominan satu varian Virus Corona sudah tinggi.

Dan, biasanya juga di negara lain dan Indonesia pada puncak-puncak kasus sebelumnya, saat dominasi Delta sudah mau 100 persen dari populasi virusnya, akan terjadi penurunan.

Demikian juga waktu Omicron. Sudah 100 persen dari yang di-genome sequence adalah varian Omicron, di situlah mulai terjadi penurunan.

"Ini juga yang kita lihat. Waktu kasus naik, pelandaian mulai terjadi, baik di Jakarta maupun Indonesia," katanya.


Indonesia Cenderung Landai

FOTO: Waspada Ancaman Omicron hingga Februari Mendatang
Perbesar
Kepadatan calon penumpang kereta Commuter Line (KRL) di Stasiun Tanah Abang, Jakarta, Rabu (12/1/2022). Data sementara Kementerian Kesehatan hingga 10 Januari 2022, total ada 506 kasus COVID-19 varian Omicron di Indonesia. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Budi menekankan bahwa kasus COVID-19 di Indonesia yang lebih rendah --- yang hanya empat sampai lima persen --- dibanding puncak sebelumnya. Padahal, di negara lain puncaknya bisa mencapai 30 persen. 

Menurut Budi, salah satunya karena berdasarkan hasil serologi survei yang dilakukan pemerintah diketahui bahwa antibodi mayoritas masyarakat Indonesia masih tinggi. 

Jika hasil serologi survei pada Desember 2021 menemukan bahwa antibodi 88 persen populasi di level 400 sampai 500-an, pada Maret 2022 sebesar 99 persen populasi sudah memiliki antibodi di level 3.000 sampai dengan 4.000. 

"Maka dari itu, untuk mengambil kebijakan yang tepat untuk di bulan Agustus dan September, kita akan jalankan serologi survei ketiga mulai hari ini," kata Menkes.

"Diharapkan dalam sebulan hasilnya sudah keluar sehingga kita bisa mengambil kebijakan yang tepat," ujarnya.

 


Tetap Waspada

FOTO: Lokasi Tes COVID-19 Mulai Ramai Akibat Varian Omicron
Perbesar
Petugas melakukan tes usap PCR kepada warga di Laboratorium Genomik Solidaritas Indonesia (GSI), Kamis (3/2/2022). Terkait meningkatnya kasus harian COVID-19 di Tanah Air, tren penambahan kasus di Indonesia secara konsisten cenderung meningkat dalam sepekan terakhir. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Di kesempatan itu, Menkes menyampaikan pesan dari Presiden Joko Widodo yang mengimbau seluruh masyarakat untuk tetap waspada dalam menghadapi kenaikan kasus di negara lain di dunia. 

"Pandemi belum selesai," kata Jokowi sebagaimana yang disampaikan Budi.

Presiden, lanjut Budi, juga berterima kasih kepada masyarakat yang sudah tetap disiplin dalam menjalankan protokol kesehatan, serta melakukan vaksinasi booster agar antibodi tinggi. 

"Kalau kita bisa menghadapi gelombang Agustus -September --- Juli ini terbukti selama tiga bulan bisa kita lewati dengan baik --- bisa mengendalikan jumlah kasus, Indonesia menjadi negara di dunia yang bisa menjaga pandemi sehingga tidak terjadi lonjakan berikutnya," kata Menkes.

"Ketika hal itu tidak terjadi, masyarakat lebih convidence beraktivitas, sehingga ekonomi akan berjalan dengan baik," pungkas Menkes Budi Gunadi Sadikin

Infografis Gejala dan Pencegahan Covid-19 Subvarian Omicron BA.4 dan BA.5. (Liputan6.com/Abdillah)
Perbesar
Infografis Gejala dan Pencegahan Covid-19 Subvarian Omicron BA.4 dan BA.5. (Liputan6.com/Abdillah)
Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya