China Timur Laporkan Klaster Baru COVID-19, Pembatasan Sosial Diperketat

Oleh Ade Nasihudin Al Ansori pada 04 Jul 2022, 09:08 WIB
Diperbarui 04 Jul 2022, 09:08 WIB
Beijing Perluas Kebijakan Kerja dari Rumah
Perbesar
Pekerja yang mengenakan masker mendorong troli yang berisi makanan untuk dibawa pulang melewati restoran hotpot yang tutup di Beijing pada Senin, 23 Mei 2022. Beijing memperpanjang perintah bagi pekerja dan siswa untuk tinggal di rumah dan memerintahkan pengujian massal tambahan pada hari Senin untuk membendung kasus COVID-19 yang kembali meningkat di ibu kota China. (AP Photo/Andy Wong)

Liputan6.com, Jakarta - Klaster COVID-19 kembali muncul di wilayah China timur dan menyebabkan kota-kota di sana memperketat pembatasan pada Minggu 3 Juli kemarin.

Klaster baru yang ditemukan menimbulkan ancaman baru bagi pemulihan ekonomi China di bawah kebijakan ketat zero-COVID pemerintah.

Wuxi, pusat manufaktur di Delta Yangtze di pantai tengah, menghentikan operasi di banyak tempat umum yang terletak di bawah tanah, termasuk toko dan supermarket.

Layanan makan di restoran ditangguhkan, dan pemerintah menyarankan warga untuk bekerja dari rumah.

Otoritas kota mendesak warga untuk tidak meninggalkan Wuxi kecuali jika ada kepentingan, setelah melaporkan 42 kasus baru tanpa gejala pada hari Sabtu.

China terus berusaha membasmi infeksi baru sebagai bagian dari pendekatan ketat yang diambil di negara tempat virus corona pertama kali terdeteksi pada akhir 2019. Namun penguncian dan tindakan lain telah berdampak besar pada ekonomi terbesar kedua di dunia itu.

Kabupaten Si di provinsi Anhui mengunci 760.000 penduduknya dan menghentikan lalu lintas umum karena melaporkan 288 kasus pada hari Sabtu. Anhui menyumbang sebagian besar infeksi baru China, melaporkan 61 kasus bergejala dan 231 tanpa gejala per Sabtu 2 Juli.

Komisi Kesehatan Nasional mengatakan pada Minggu, 3 Juli 2022, bahwa China mencatat 473 kasus COVID-19 baru, 104 di antaranya bergejala dan 369 tidak menunjukkan gejala. Sehari sebelumnya, ada 268 kasus baru termasuk 72 infeksi bergejala dan 196 infeksi tanpa gejala yang dihitung secara terpisah oleh China.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Perkembangan Kasus di China

FOTO: Potret Pekerja Pengantar Barang Saat Lockdown di Shanghai
Perbesar
Seorang pekerja yang mengenakan alat pelindung diri berdiri dekat kotak untuk dikirim sementara dua orang mengendarai sepeda saat perberlakuan lockdown karena virus corona COVID-19 di Distrik Jing'an, Shanghai, China, Rabu (18/5/2022). (Hector RETAMAL/AFP)

Di Yiwu, ibu kota ekspor Tiongkok untuk komoditas kecil, membatalkan penerbangan ke ibu kota, Beijing, untuk periode yang tidak ditentukan, kata TV pemerintah, mengutip langkah-langkah pencegahan COVID-19. Yiwu telah melaporkan tiga kasus COVID-19 dalam seminggu terakhir.

Sedangkan Shanghai, kota dan pusat keuangan terpadat di China, melaporkan satu kasus positif di luar area karantina di kota itu dari tengah malam hingga pukul 5 sore pada hari Minggu, kata para pejabat dalam konferensi pers.

Kota itu mencabut penguncian pada Jumat setelah dua bulan penutupan yang berpengaruh buruk pada output dan belanja konsumen. Produksi industri China turun 2,9 persen pada April dari tahun sebelumnya.

Tidak ada kematian baru, sehingga jumlah kematian di negara itu menjadi 5.226. Hingga Sabtu, China daratan telah mengkonfirmasi 225.851 kasus dengan gejala.

Menurut data pemerintah setempat, pada Sabtu, Beijing melaporkan tidak ada kasus lokal baru, dan Shanghai melaporkan dua kasus lokal yang bergejala.


Di Indonesia

FOTO: Waspada Ancaman Omicron hingga Februari Mendatang
Perbesar
Kepadatan calon penumpang kereta Commuter Line (KRL) di Stasiun Tanah Abang, Jakarta, Rabu (12/1/2022). Data sementara Kementerian Kesehatan hingga 10 Januari 2022, total ada 506 kasus COVID-19 varian Omicron di Indonesia. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Berbeda dengan China, kasus COVID-19 di Indonesia masih dalam keadaan terkontrol. Hal ini merujuk pada pernyataan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin.

Menurut Budi, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memiliki level yang serupa dengan level Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yakni level 1, 2, dan 3.

Level 1 ditandai dengan 20 kasus per 100 ribu penduduk dalam satu minggu. Jika diterjemahkan ke Indonesia maka jumlahnya 7.800 per hari.

“Jadi kalau saya ditanya sebagai Menteri Kesehatan, saya lihat kondisinya masih terkontrol. Kita masih di bawah Singapura yang 5 ribu dengan jumlah penduduk 5 juta. Kalau Indonesia masih di level 1 karena di bawah 7.800, kita kan masih 2.200-an,” kata Budi usai memberi sambutan dalam acara Simposium Asosiasi Dokter Medis Sedunia (World Medical Association) tahun 2022 di Jakarta, Minggu (3/7/2022).

Ia tak memungkiri memang ada kenaikan, tapi kenaikan kasus COVID-19 harian di Indonesia tidak disertai dengan peningkatan kasus rawat inap di rumah sakit. Masyarakat diminta untuk tidak panik, tetap waspada, dan segera mendapat vaksin penguat.


Diperkirakan Segera Mencapai Puncak

FOTO: Jumlah Kasus Aktif COVID-19 di Indonesia Melonjak
Perbesar
Para pekerja yang mengenakan masker berjalan kaki setelah meninggalkan perkantorannya di Jakarta, Rabu (2/2/2022). Satgas Penanganan COVID-19 turut mencatat sebanyak 25 orang meninggal dunia, membuat total angka kematian mencapai 144.373 orang. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Ia menambahkan, kenaikan kasus COVID-19 sekarang sudah melandai dan diperkirakan akan segera mencapai puncak.

“Sekarang kita memang naik di atas satu, tapi sudah melandai. Para epidemiolog meeting sama saya mereka bilang ‘Pak kayaknya ini ujung-ujungnya sebentar lagi tercapai puncaknya’ kalau puncak tercapai di 2 ribuan, itu kita tenang, tapi kembali lagi itu kan berdasarkan prediksi terhadap kejadian di negara lain.”

Sebelumnya ia menyampaikan, perkiraan puncak BA.4 dan BA.5 merujuk pada kasus-kasus yang terjadi di negara lain.

Ada beberapa negara seperti Australia, Afrika Selatan, dan Portugal yang sudah melampaui puncak BA.4 dan BA.5.

“Berapa tinggi sih mereka puncaknya? Rata-rata mereka berkisar antara  30 sampai 40 persen dari puncak Omicron sebelumnya. Jadi kalau Indonesia kan sebelumnya 58 ribu ya 30 persennya mungkin di bawah 20 ribu, itu  puncak kasus per harinya,” kata Budi.

“Karena di Indonesia ditemukannya sesudah lebaran, kalau kita mengikuti pola di negara lain maka puncaknya kira-kira di minggu kedua atau minggu ketiga Juli,” Budi menambahkan.

Infografis Waspada Mutasi Covid-19 Kombinasi Varian Inggris-India. (Liputan6.com/Abdillah)
Perbesar
Infografis Waspada Mutasi Covid-19 Kombinasi Varian Inggris-India. (Liputan6.com/Abdillah)
Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya