Penanganan Cedera Olahraga Bulu Tangkis dengan Teknologi Medis Terkini

Oleh Fitri Syarifah pada 02 Jul 2022, 15:00 WIB
Diperbarui 02 Jul 2022, 15:00 WIB
Cedera Bulu Tangkis Pupuskan Harapan Pramudy/Yeremia
Perbesar
Ganda putra Indonesia Pramudya Kusumawardana (kanan) melihat pebulu tangkis Malaysia Aaron Chia memeriksa rekannya, Yeremia Rambitan terbaring di lapangan karena cedera lutut pada perempat final Indonesia Open 2022 di Istora Senayan, Jakarta, Jumat (17/6/2022). (AP Photo/Dita Alangkara)

Liputan6.com, Jakarta Bulu tangkis merupakan olahraga populer di Indonesia. Namun perlu diketahui, olahraga ini termasuk high impact dengan gerakan yang dinamis, yang merupakan kombinasi antara reli-reli pendek dan reli-reli panjang.

Karenanya, pemain bulu tangkis membutuhkan kebugaran aerobik atau kebugaran kardiorespirasi untuk dapat bermain bulu tangkisdengan durasi permainan 3 set. Tak hanya itu, pemain bulu tangkis juga memerlukan kecepatan, tenaga atau power, sertakelincahan yang cukup baik. Misalnya, pada gerakan melompat saat jumping smash, gerakan lungessaat melakukan gerakan netting, gerakan drop shot, gerakan yang cepat dan mengubah arah saatdefence, serta gerakan lainnya.

Akibatnya, menurut Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga Antonius Andi Kurniawan, cedera olahraga cenderung terjadi. Seperti misalnya cedera bahu, cedera ankle, cedera lutut, cedera punggung, cedera siku, dan cedera kram otot.

"Cedera olahraga akibat bermain bulu tangkis dapat ditangani dengan tindakan non-operatif maupun operatif," kata Andi, dalam keterangan pers yang diterima Liputan6.com, Sabtu (2/7/2022).

Cara penanganan Non-operatif

"Untuk menangani cedera yang tidak memerlukan operasi, serta upaya proses pemulihan pascaoperasi, dokter spesialis kedokteran olahraga akan melakukan evaluasi untuk kemudian merancang program recovery yang sesuai dengan kondisi pasien," kata Andi.

Biasanya, diperlukan sesi menggunakan teknologi medis dalam periode cedera akut dan sesi exercise untuk membantu memulihkan otot dan sendi yang cedera dan agar pasien dapat kembaliberolahraga dan beraktivitas kembali pasca cedera.

 

 

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Beberapa teknologi medis untuk penanganan cedera

- Cyrotheraphy (terapi dingin)

Prosedur terapi dingin yang dapat digunakan untuk menangani cedera olahraga akutataupun rehabilitasi cedera.

Metode ini biasa dilakukan setelah operasi ataurekonstruksi sendi, karena dapat membantu mengurangi cedera secara efektif,misalnya pada penanganan pergeseran tulang, patah tulang, memar, keseleo, danlainnya.

Sesi perawatan rata-rata per pasien berlangsung hanya 1-2 menit,tergantung klinis dan target terapi serta instruksi dokter yang merawat.

- Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS)

Metode penanganan non-invasif yang melibatkan arus listrik bertegangan rendah.

Anggota tubuh yang terasa nyeri akan dialiri impuls listrik yang menjalar padaserabut saraf, sehingga membantu mengurangi kepekaan terhadap rasa nyeri/sakit. Durasi pengobatan TENS yang optimal adalah 40 menit.

- Ultrasound Therapy

Metode pengobatan dengan gelombang suara untuk merangsang jaringan di sekitar area cedera.

Getaran gelombang suara dapat merangsang produksi kolagen dan menciptakan panas dalam jaringan, sehingga mampu mendorong penyembuhan pada jaringan lunak dengan meningkatkan metabolisme pada tingkat sel.

Metode ini berguna untuk membantu proses penyembuhan tulang, penanganan cedera ligamen, dan lainnya.

Jenis terapi ultrasound tergantung pada kondisi cedera. Untuk nyeri myofascial, strain, atau keseleo dapat digunakan ultrasound termal.

Untuk jaringan parut, pembengkakan, dan carpal tunnel syndrome, ultrasound mekanis dapat bekerja lebih baik. Waktu perawatan tergantung pada ukuran area yang dirawat, frekuensi dan intensitas yang digunakan (5-15 menit).

 


Exercise dan rehabilitasi pasca cedera

Tujuan dari program rehabilitasi adalah untuk mengembalikan semua aspek kesehatan seperti sebelum cedera dengan cara yang terkontrol dan terpantau. 

Rehabilitasi harus dimulai sesegera mungkin (setelah fase peradangan awal – 72 jam).

Dalam tahapan ini, dilakukan latihan fleksibilitas untuk meminimalisasi penurunan kisaran gerak sendi, latihan memperkuat otot, hingga latihan keseimbangan.

 


Tindakan operatif

Pada penanganan cedera olahraga yang membutuhkan tindakan operasi, dokter spesialis bedah ortopedi konsultan sports injury dan arthroskopi yang ahli dan berpengalaman dalam teknik minimal invasive akan menggunakan arthroskopi dengan sayatan minimal, sehingga pasien dapat pulih lebih cepat dibandingkan dengan operasi konvensional.

Teknologi medis penanganan cedera ini sudah tersedia di Sport Medicine, Injury, Recovery Center (SMIRC) RS Pondok Indah – Bintaro Jaya.

Klinik ini dilengkapi dengan berbagai alat exercise dan rehabilitasi cedera yang canggih dan terbaru dari Techno Gym demi menghadirkan layanan komprehensif dan terintegrasi bagipara sport enthusiast dan atlet olahraga.

Mulai dari penanganan dan pemulihan cedera, peningkatan performa olahraga, hingga pendampingan olahraga khusus bagi pasien dengan kondisi medis tertentu. Selain itu, tim medis kompeten yang terdiri dari dokter spesialis kedokteran olahraga yang sudah sangat berpengalaman menangani atlet untuk berkompetisi baik di skala nasional maupun internasional, dokter spesialis bedah ortopedikonsultan sports injury dan arthroskopi, dokter spesialis gizi klinik, serta sport physiotherapist.

Takhanya itu saja, dukungan dokter spesialis bedah ortopedi dengan berbagai subspesialisasi juga melengkapi kompetensi tim medis klinik ini. Dengan adanya kolaborasi dari berbagai dokter, seluruh penanganan cedera olahraga akan disesuaikan dengan kebutuhan setiap pasien.

Infografis bulu tangkis
Perbesar
Infografis bulu tangkis. (Liputan6.com/Abdillah)
Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya