Pakar Sebut Penguatan Protokol Kesehatan Kunci Menuju Endemi COVID-19

Oleh Liputan6.com pada 01 Jul 2022, 11:00 WIB
Diperbarui 01 Jul 2022, 11:00 WIB
Ketika Warga Kali Pasir Perangi Virus Corona dengan Pesan Mural
Perbesar
Seorang anak kenakan masker dengan latar belakang mural Indonesia Bisa Stop Corona di Lapangan Bulutangkis, Kampung Kali Pasir, Jakarta, Selasa (7/4/2020). Pesan mural mengajak warga untuk memutus rantai penyebaran Corona Covid-19 dengan diam di rumah. (Liputan6.com/Fery Pradolo)

Liputan6.com, Jakarta - Dalam proses transisi menuju endemi, kasus infeksi baru COVID-19 di Indonesia menunjukkan peningkatan. Saat ini, infeksi baru COVID-19 masih menunjukkan penambahan di angka 2.000-an per hari. Kemarin, Kamis, 30 Juni 2022, data menunjukkan kasus positif bertambah 2.248 orang.

Peningkatan jumlah kasus COVID-19 ini telah diprediksi seiring ditemukannya subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 di Tanah Air. Puncak kasus diperkirakan mencapai 20.000 hingga 25.000 kasus per hari dan terjadi pada pekan ketiga dan keempat Juli 2022.

"Setelahnya akan turun kembali," ujar Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, pada 16 Juni 2022 di Bogor.

Penguatan protokol kesehatan menjadi salah satu kunci menuju endemi COVID-19, seperti disampaikan Dr dr Erlina Burhan, M.Sc, Sp.P(K).

"Penguatan protokol kesehatan merupakan salah satu kunci menuju endemi, dengan demikian mari disiplin memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan," ujarnya, dilansir Antara.

Anggota Bidang Pengkajian Penyakit Menular PB IDI itu mengatakan, berbagai upaya penguatan juga perlu dilakukan guna mengendalikan kasus COVID-19 di Indonesia.

"Untuk menuju endemi, persiapannya adalah dengan menekan jumlah kasus terkonfirmasi positif. Salah satunya melalui vaksinasi, baik dosis primer dan juga dosis penguat atau booster," ujarnya.

Erlina mengatakan, pemerintah daerah pun perlu meningkatkan cakupan vaksinasi dosis penguat di wilayah masing-masing.

"Sosialisasi mengenai pentingnya vaksinasi harus terus dioptimalkan guna meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat," tuturnya.

Evaluasi berkala mengenai target vaksinasi di wilayah masing-masing pun perlu dilakukan pemerintah daerah.

"Dengan demikian dapat diketahui apakah target vaksinasi telah terlampaui, jika belum maka perlu menjadi prioritas utama sebagai salah satu kunci menuju endemi COVID-19," ujarnya.

 


Endemi Bukan Berarti COVID-19 Hilang

Erlina juga kembali mengingatkan, status endemi bukan berarti COVID-19 sudah tidak ada. Dia mengatakan, penyakit akibat virus SARS-CoV-2 masih ada, namun kondisinya sudah jauh lebih terkendali.

"Untuk itu tetap perlu menjalankan berbagai upaya kewaspadaan, strategi pencegahan, dan sistem pengendalian penularan yang tepat," katanya.

Erlina berharap, penguatan protokol kesehatan dan peningkatan cakupan vaksinasi bisa mendukung upaya transisi dari pandemi menuju endemi.

"Perlu terus meningkatkan cakupan vaksinasi COVID-19 hingga dosis penguat guna mendukung upaya transisi menuju endemi," ujarnya.

Terlebih penguatan protokol kesehatan dan peningkatan cakupan vaksinasi juga diperlukan untuk mengantisipasi penyebaran subvarian Omicron BA.4 dan BA.5, ucapnya.

Erlina pun menjelaskan perlunya tetap memakai masker jika berada di dalam ruangan, kendaraan umum, di tengah kerumunan atau jika sedang merasa sakit dan tidak enak badan.

"Selain itu perlu peningkatan surveilans genomik pada pasien COVID-19 bergejala sedang, berat, kritis atau meninggal," katanya.


IDI Rekomendasikan Pakai Masker di Ruang Terbuka

Kehadiran subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 di Tanah Air, Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) juga meminta pemerintah mengkaji kembali aturan boleh melepas masker di ruang terbuka. Pasalnya, subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 memliki karakteristik mudah menular.

"Subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 jadi pengingat masih perlunya memperkuat protokol kesehatan," kata kata Ketua Bidang Penanganan Penyakit Menular PB IDI, Agus Dwi Susanto dalam konferensi pers pada Selasa, 21 Juni 2022 di Kantor Pusat PB IDI Jakarta Pusat.

"Kami merekomendasikan untuk dikaji kembali jika diperlukan," kata Agus.

Penggunaan masker di tempat terbuka disertai dengan penerapan protokol kesehatan yang lain merupakan bentuk kewaspadaan dalam menghadapi kasus COVID-19 yang tengah naik beberapa hari terakhir ini. Apalagi bila melihat data di berbagai belahan dunia, BA.4 dan BA.5 menyebabkan kenaikan kasus. Sehingga perlu respons cepat untuk mencegah penyebarannya.

“Kami meminta kerja sama semua pihak baik pemerintah, swasta, maupun masyarakat untuk tetap perlu menjalankan berbagai upaya kewaspadaan strategi pencegahan dan sistem pengendalian penularan yang kuat. Penanganan ini tidak bisa dilakukan oleh tenaga medis saja, namun semua pihak secara bersamaan,” kata Ketua PB IDI Adib Khumaidi di kesempatan yang sama.


Rekomendasikan Aturan Tes PCR Negatif untuk Syarat Perjalanan

Selain meminta pemerintah mengevaluasi kembali kebijakan penggunaan masker di ruang terbuka dan mengimbau vaksinasi digencarkan,  IDI juga meminta kembali ada aturan hasil tes PCR negatif untuk pelaku perjalanan.

"Aturan PCR negatif untuk pelaku perjalanan kembali diberlakukan," kata Erlina.

Berikut adalah rekomendasi dari Bidang Kajian Penanggulangan Penyakit Menular PB IDI terkait pencegahan Covid dan penyakit menular lainnya:

• Tetap gunakan masker di ruang terbuka dan di ruang tertutup

• Tingkatkan kembali kegiatan tracing and testing COVID-19

• Tingkatkan cakupan vaksinasi termasuk booster

• Mengimbau para pemangku kebijakan seperti gubernur dan bupati untuk melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan cakupan vaksinasi booster

• Cakupan vaksinasi anak juga perlu ditingkatkan terutama menjelang PTM 100 persen di tahun ajaran baru

• Aturan PCR negatif untuk pelaku perjalanan kembali diberlakukan

• Lakukan edukasi masif dan terus menerus tentang upaya pencegahan karena pandemi belum berakhir, mengingat masyarakat sudah jenuh dengan pandemi.

• Tetap patuhi protokol kesehatan

• Jangan lengah walaupun bila nanti kasus menurun

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya