Peneliti Temukan Virus Cacar Monyet Bermutasi Lebih Banyak dari Dugaan

Oleh Ade Nasihudin Al Ansori pada 29 Jun 2022, 13:00 WIB
Diperbarui 29 Jun 2022, 13:00 WIB
Cegah Penyebaran Cacar Monyet, Penumpang Bandara Soetta Diperiksa Suhu Tubuh
Perbesar
Petugas Kesehatan Karantina Bandara (KKB) memeriksa suhu badan penumpang yang baru mendarat di Terminal 3 Bandara Soetta, Tangerang, Rabu (15/5/2019). Pemeriksaan ini setelah ditemukan kasus wisatawan Afrika yang mengidap cacar monyet di Singapura beberapa waktu lalu. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Liputan6.com, Jakarta Para peneliti di Portugal mengatakan bahwa mutasi virus monkeypox atau cacar monyet lebih banyak dari yang diduga. Pasalnya, penyakit yang disebut pula cacar monyet kasusnya sudah meningkat di Inggris dan Amerika Serikat.

Para ilmuwan mengatakan, jenis terbaru cacar monyet yang sebelumnya terbatas di beberapa bagian Afrika, memiliki sekitar 50 variasi genetik dibandingkan dengan virus terkait yang beredar pada 2018-2019.

Mereka menemukan, virus terus berevolusi selama wabah saat ini. Termasuk sejumlah perubahan kecil dalam kode genetik, varian gen minor, dan gen yang hilang, menurut sebuah penelitian yang diterbitkan di Nature Medicine pada Jumat.

“Sangat tidak terduga menemukan begitu banyak mutasi pada virus cacar monyet 2022,” kata Joao Paulo Gomes dari Institut Kesehatan Nasional di Lisbon dan salah satu penulis laporan tersebut mengutip Bloomberg Rabu (29/6/2022).

“Faktanya, mengingat karakteristik genom dari jenis virus ini, tidak lebih dari satu atau dua mutasi yang mungkin muncul setiap tahun.”

Virus monkeypox lebih stabil dan lebih lambat bermutasi dibandingkan virus Corona penyebab COVID-19. Di masa lalu, monkeypox tidak menyebar dengan mudah dari orang ke orang.

Masih belum jelas bagaimana mutasi yang terlihat pada virus monkeypox saat ini dapat mengubah atribut tersebut, atau tingkat keparahan penyakit yang ditimbulkannya. Diperlukan lebih banyak penelitian untuk lebih memahami perubahan virus, kata para peneliti.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Bisa Mematikan

Ilustrasi Cacar Monyet (Istimewa)
Perbesar
Ilustrasi Cacar Monyet (Istimewa)

Cacar monyet biasanya menyebabkan gejala seperti flu, diikuti dengan ruam yang sering dimulai di wajah dan menyebar ke seluruh tubuh.

Penyakit ini bisa mematikan dalam beberapa kasus. Banyak kasus saat ini terutama di antara pria yang berhubungan seks dengan pria.

Pihak berwenang di seluruh dunia melacak evolusi wabah cacar monyet dan memperluas vaksinasi ke kelompok yang lebih berisiko untuk mencoba menahan penyebaran virus, dengan lebih dari 3.300 kasus dilaporkan secara global.

Komite darurat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan bahwa wabah terbaru ini bukan sebagai darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional - tingkat siaga tertinggi.

Di sisi lain, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC), yang berupaya memperluas penggunaan vaksin cacar monyet untuk anak-anak, mengatakan virus itu berperilaku seperti yang diharapkan.

"Kami mengurutkan semua spesimen yang bisa kami dapatkan," kata Gregory Armstrong, direktur Kantor Deteksi Molekuler Tingkat Lanjut CDC di dalam Pusat Nasional untuk Penyakit Zoonosis.


Lebih Stabil dari Virus Lain

Virus Cacar Monyet
Perbesar
Ilustrasi virus cacar monyet. Credits: pixabay.com by Alexandra_Koch

Sejauh ini, CDC mendapatkan spesimen dari laboratorium kesehatan masyarakat, katanya.

"Semua bukti sejauh ini menunjukkan virus berperilaku seperti yang kami perkirakan," katanya.

“Ini jauh lebih stabil daripada kebanyakan virus, dan kami tidak mengantisipasi bahwa itu akan bermutasi pada tingkat SARS-CoV-2.”

Sementara, WHO merilis update kasus monkeypox global pada 27 Juni 2022. Laporan tersebut memaparkan bahwa kasus konfirmasi penyakit ini sudah 3.413 di 50 negara per 22 Juni 2022.

Bahkan, sudah ada satu kasus kematian yang dilaporkan kepada WHO. Kasus kematian ini dilaporkan di Nigeria pada kuartal kedua 2022.

Mayoritas kasus yang dikonfirmasi laboratorium, yakni 2.933 dari 3.413 kasus (86 persen) dilaporkan dari WHO Wilayah Eropa.

Wilayah lain yang melaporkan kasus meliputi:

-Wilayah Afrika 73 dari 3.413 kasus (2 persen)

-Wilayah Amerika 381 kasus (11 persen)

-Wilayah Mediterania Timur 15 kasus (1 persen)

-Wilayah Pasifik Barat 11 kasus (kurang dari 1 persen).

Jumlah kasus diperkirakan akan berubah karena semakin banyak informasi yang tersedia setiap hari dan data diverifikasi berdasarkan Peraturan Kesehatan Internasional (IHR 2005).


Situasi Wabah Terus Dipantau

Cegah Penyebaran Cacar Monyet, Penumpang Bandara Soetta Diperiksa Suhu Tubuh
Perbesar
Layar televisi menampilkan suhu badan penumpang yang berada di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Rabu (15/5/2019). Hewan-hewan yang umumnya terinfeksi cacar monyet seperti primata, tupai, tikus atau hewan pengerat lainnya. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

WHO terus memantau situasi dengan cermat dan mendukung koordinasi internasional dan berbagi informasi dengan negara-negara anggota.

Tanggapan insiden klinis dan kesehatan masyarakat telah diaktifkan oleh Negara-negara Anggota untuk mengoordinasikan penemuan kasus yang komprehensif, pelacakan kontak, penyelidikan laboratorium, isolasi, manajemen klinis dan penerapan tindakan pencegahan dan pengendalian infeksi.

Pengurutan genom asam deoksiribonukleat (DNA) virus dari virus monkeypox yang ditemukan dalam wabah saat ini sedang berlangsung. Data awal dari tes polymerase chain reaction (PCR) menunjukkan bahwa gen virus monkeypox terdeteksi milik clade Afrika Barat.

WHO mendorong Negara-negara Anggota untuk mempertimbangkan konteks wabah cacar monyet di beberapa negara saat ini dan membentuk kelompok penasihat teknis imunisasi nasional (NITAGs). Kelompok ini dibentuk guna meninjau bukti dan mengembangkan rekomendasi kebijakan untuk penggunaan vaksin yang relevan dengan konteks nasional.

Semua keputusan seputar imunisasi dengan vaksin cacar monyet harus berdasarkan pengambilan keputusan klinis bersama. Serta berdasarkan penilaian risiko dan manfaat bersama antara penyedia layanan kesehatan dan calon penerima vaksin berdasarkan kasus.

Negara-negara Anggota yang menggunakan vaksin terhadap cacar monyet didorong untuk melakukannya dalam kerangka kerja studi klinis kolaboratif. Disertai dengan penggunaan metode desain standar dan alat pengumpulan data untuk data klinis dan hasil untuk meningkatkan dengan cepat pembuatan bukti, terutama pada efektivitas dan keamanan vaksin.

Infografis Gejala dan Pencegahan Cacar Monyet
Perbesar
Infografis Gejala dan Pencegahan Cacar Monyet (Liputan6.com/Triyasni)
Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya