Penyakit Jantung Sebagian Jemaah Haji Kambuh, KKHI Ungkap Penyebabnya

Oleh Benedikta Desideria pada 29 Jun 2022, 11:00 WIB
Diperbarui 29 Jun 2022, 11:00 WIB
Jemaah haji Indonesia di Masjid Nabawi, Madinah usai melaksanakan sholat subuh. Foto: Darmawan/MCH
Perbesar
Jemaah haji Indonesia di Masjid Nabawi, Madinah usai melaksanakan sholat subuh. Foto: Darmawan/MCH

Liputan6.com, Jakarta Tim dokter Kantor Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Makkah, dokter spesialis jantung konsultan Mohammad Rizki Akbar menyampaikan sedikitnya melayani 10 pasien penyakit jantung di pelayanan rawat jalan KKHI Makkah setiap hari.

“Di poli risti (poli rawat jalan untuk jemaah risiko tinggi), kami melakukan pelayanan antara 10-20 pasien per hari,” kata Rizki.

Umumnya, jemaah haji yang mendapatkan perawatan memang memiliki penyakit jantung saat Indonesia. Namun, ada juga yang baru mengetahui bahwa punya penyakit jantung saat di Tanah Suci.

Rizki mengatakan bahwa pada dua kelompok tersebut pemicu penyakit jantung muncul adalah aktivitas fisik yang terlalu berat. Lalu, pada pasien yang sudah tahu punya penyakit jantung, ada sebagian yang  lupa mengonsumsi obat.

"Yang sebelumnya tidak mengetahui punya penyakit jantung, karena dipicu ibadah fisik yang cukup berat, muncul baik dalam bentuk keluhan nyeri dada maupun keluhan sesak napas,”tuturnya mengutip keterangan pers Kementerian Kesehatan.

Selain aktivitas fisik yang berat, para jemaah haji tersebut sudah memiliki faktor risiko yang dapat menjadi pemicu. Ditambah dengan cuaca yang ekstrem di Arab Saudi.“

Hipertensi merupakan salah satu faktor risiko untuk terjadinya kelainan jantung. Jadi kalau jemaah dengan aktivitas yang tinggi dan tidak dikontrol obat obatan, menyebabkan tekanan darahnya naik dengan cepat, jadi itu bisa memicu untuk munculnya kelainan jantung," kata Rizki.


Saran: Jemaah Haji Harus Tahu Batasan Kemampuan Fisik

Banner Infografis Usulan Biaya Perjalanan Ibadah Haji 2022 Rp 45 Juta. (Sumber: Dok. AP Photo)
Perbesar
Haji. (Sumber: Dok. AP Photo)

Rizki mengingatkan jemaah haji harus mengetahui batas kemampuan fisik diri sendiri. Perlu diketahui bahwa ibadah haji merupakan ibadah yang melibatkan aktivitas fisik yang berat.

Para jemaah haji yang sudah minum obat sedari di Indonesia juga diminta mengonsumi obat tersebut tepat waktu.

“Sehingga diharapkan tidak muncul keluhan.” harap Rizki.

 


Segera Lapor Bila Ada Keluhan Kesehatan

Ilustrasi ibadah haji (Istimewa)
Perbesar
Ilustrasi ibadah haji (Istimewa)

Rizki juga meminta jemaah haji yang mengalami keluhan penyakit untuk segera melaporkan kondisinya kepada tenaga kesehatan di kloter.

“Setiap jemaah yang kemudian merasakan adanya keluhan, sebaiknya langsung sampaikan kepada dokter kloternya untuk dievaluasi apakah ada masalah dengan kondisi kesehatannya” ucapnya.


Pastikan Cukup Minum

ilustrasi minum air putih di waktu yang tepat/unsplash
Perbesar
ilustrasi minum air putih di waktu yang tepat/unsplash

Di kesempatan berbeda Kepala Pusat Kesehatan Haji Budi Sylvana meminta semua petugas kesehatan memantau kesehatan jamaah haji. Terutama kepada jamaah haji resiko tinggi (risti) jangan sampai mereka kekurangan cairan yang akhirnya mengalami dehidrasi. 

“Air kencing berwarna kuning. Itu tanda dehidrasi,” kata Budi.

Kekurangan cairan bagi jamaah haji yang masih usia muda masih bisa ditoleransi. Namun, berbeda bagi jamaah haji yang sudah lanjut usia (lansia) bisa menjadi masalah dan dapat menimbulkan kekambuhan pada penyakit komorbid.

“Kalau kita yang muda-muda masih bisa bertahan, tetapi berbeda bagi jamaah haji yang sudah tua,” katanya.

Infografis Kuota Haji 2022 Indonesia
Perbesar
Infografis Kuota Haji 2022 Indonesia (Liputan6.com/Trie Yas)
Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya