Sebulan Usai Deklarasi Perangi COVID-19, Korea Utara Hentikan Impor Alat Medis

Oleh Diviya Agatha pada 21 Jun 2022, 15:00 WIB
Diperbarui 21 Jun 2022, 15:00 WIB
Korea Utara Dilanda COVID-19, Kim Jong-un Sidak ke Apotek
Perbesar
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un mengenakan masker memeriksa apotek di tengah wabah Covid-19 di Pyongyang, Korea Utara pada 15 Mei 2022. Sejak negara itu pertama terkena wabah COVID-19, Apotek Korea Utara sekarang buka 24 jam sehari. (STR/KCNA VIA KNS/AFP)

Liputan6.com, Jakarta Pada bulan Mei lalu, Korea Utara mengumumkan bahwa negaranya tengah memerangi wabah COVID-19. Diketahui, negara yang dipimpin oleh Kim Jong-un tersebut melakukan impor beberapa produk untuk pencegahan dan pengendalian COVID-19 dari China seperti masker wajah, ventilator, termometer, dan sarung tangan. Korea Utara juga sempat melakukan impor vaksin dari negara tetangganya tersebut.

Negara yang tidak pernah melaporkan secara rinci jumlah kasus COVID-19 miliknya tersebut telah melakukan impor lebih dari 10,6 juta masker, hampir 95 ribu termometer, dan seribu ventilator selama berbulan-bulan sejak Januari hingga April.

Namun entah apa yang jadi penyebabnya, mengutip laman Channel News Asia pada Selasa (21/6/2022), impor tersebut tiba-tiba terhenti menurut data perdagangan yang dirilis oleh pihak bea cukai Beijing, China kemarin.

Kantor Berita Pusat Korea (Korea Central News Agency/KCNA) sendiri melaporkan bahwa kasus demam harian di Korea Utara telah mengalami penurunan sejak pertama kali mengakui bahwa mereka sedang memerangi wabah COVID-19.

Sejauh ini, Korea Utara memang tidak pernah melaporkan secara rinci jumlah kasus COVID-19 yang terjadi di sana. Salah satu faktornya diketahui berkaitan dengan alat tes COVID-19.

Korea Selatan dan Amerika Serikat juga sebelumnya telah menawarkan untuk memberikan bantuan pada Korea Utara. NAmun, provinsi dengan kasus tertinggi di sana yakni Pyongyang belum menanggapi tawaran tersebut hingga saat ini.


WHO Sempat Umumkan Kondisi Korea Utara

Seperti diketahui, Pyongyang tidak pernah secara resmi mengumumkan jumlah kasus COVID-19 yang terjadi di sana.

Namun, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) belum lama ini mengungkapkan bahwa kondisi COVID-19 di Korea Utara sebenarnya semakin buruk, bukan lebih baik.

WHO pun sempat mengirimkan beberapa alat kesehatan dan persediaan lainnya ke Korea Utara. Belum diketahui pasti obat COVID-19 apa yang dikirimkan pada negara tersebut.

Begitupun dengan China dan Korea Selatan yang juga dikabarkan telah menawarkan untuk mengirim bantuan bila memang Pyongyang memintanya.

Menurut para ahli, Korea Utara memiliki dokter yang terlatih dan pengalaman untuk memobilisasi keadaan darurat kesehatan. Namun saat ini sistem medis di sana juga kekurangan sumber daya. Mengingat Korea Utara mengalami kasus COVID-19 yang sedang tinggi-tingginya.

Dalam laporan pada bulan Maret lalu, seorang penyelidik hak asasi manusia PBB mengatakan, penanganan COVID-19 di Korea Utara memang terganggu oleh beberapa kondisi.

Seperti kurangnya investasi dalam infrastruktur, tenaga medis, peralatan dan obat-obatan, pasokan listrik yang tidak teratur, dan fasilitas air dan sanitasi yang tidak memadai.

Pihak berwenang Korea Utara mengungkapkan, sebagian besar kematian di sana disebabkan oleh mereka yang mengonsumsi obat-obatan tanpa pengetahuan yang cukup tentang varian Omicron dan metode pengobatannya.

 


Tolak Vaksin COVID-19

Pada bulan Mei lalu, Korea Utara juga dikabarkan mengalami kekurangan stok vaksin COVID-19 dan memilih untuk menangani pandemi tersebut dengan antibiotik dan obat rumahan.

Bahkan, media pemerintah Korea Utara sempat menyarankan warganya untuk mengobati COVID-19 beserta gejalanya dengan obat penghilang rasa sakit dan penurun demam.

Seperti ibuprofen, amoksisilin, dan antibiotik lainnya, yang sebenarnya biasa digunakan untuk mengobati infeksi bakteri, bukan untuk melawan virus.

Korea Utara memang menjadi salah satu negara yang belum menggencarkan vaksinasi COVID-19. Korea Utara pun sempat menyatakan bahwa negaranya terbebas dari virus SARS-CoV-2 tersebut.

Sebelumnya, negara yang dipimpin oleh Kim Jong Un ini juga sempat mengecilkan vaksinasi sebagai salah satu penangkal COVID-19 dengan menyebutkan bahwa tidak ada obat yang mujarab untuk menangani penyakit tersebut.

Cadangan obat-obatan juga tidak dapat mencukupi pasien. Sehingga negara tersebut akhirnya memerintahkan korps medis tentara untuk membantu menstabilkan pasokan obat-obatan, terutama di Pyongyang.


Korea Utara Juga Hadapi Epidemi Usus

Selain COVID-19, Korea Utara juga mengabarkan pada pekan lalu bahwa mereka tengah menghadapi epidemi usus yang tidak diketahui penyebabnya.

Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un dan pejabat senior lainnya dikabarkan telah menyiapkan bantuan untuk dikirimkan pada 800 keluarga yang mengalami epidemi usus.

Kim Jong Un juga meminta para pejabat pemerintahan untuk melakukan tugasnya termasuk dalam meringankan persoalan yang tengah dihadapi warga Korea Utara tersebut.

Korea Utara menyebutnya sebagai epidemi enterik usus. Pihaknya belum menjelaskan tentang penyakit tersebut, namun enterik sendiri mengacu pada saluran pencernaan.

"Para pejabat... menyiapkan obat-obatan, bahan makanan, dan kebutuhan sehari-hari yang diperlukan untuk memberikan bantuan pada orang-orang di Kota Haeju dan Kabupaten Kangryong (Provinsi Hwanghae Selatan)," ujar KCNA melansir Channel News Asia.

Provinsi Hwanghae Selatan sendiri merupakan wilayah pertanian utama Korea Utara. Sehingga terjadinya wabah tersebut ditakutkan dapat menambah kurangnya pangan kronis di tengah gelombang COVID-19 di sana.

Infografis Ledakan Kasus Covid-19 di Korea Utara. (Liputan6.com/Trieyasni)
Perbesar
Infografis Ledakan Kasus Covid-19 di Korea Utara. (Liputan6.com/Trieyasni)
Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya