Kasus Cacar Monyet Tembus 2.103 Kasus, Tersebar di 42 Negara

Oleh Benedikta Desideria pada 20 Jun 2022, 08:04 WIB
Diperbarui 20 Jun 2022, 08:04 WIB
Ilustrasi Cacar Monyet (Istimewa)
Perbesar
Ilustrasi Cacar Monyet (Istimewa)

Liputan6.com, Jakarta - Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) menyebutkan bahwa dari 1 Januari 2022 hingga 17 Juni 2022 sudah ada 2.103 kasus cacar monyet atau monkeypox.

Penyebaran kasus cacar monyet yang biasanya hanya di daerah endemis kini sudah tercatat di 42 negara di lima benua.

Dari angka di atas, sekita 84 persen atau 1.773 asus dilaporkan dari Eropa. Lalu, disusul ada 24 kasus atau 12 persen dari Amerika dan ada 64 kasus dilaporkan dari Afrika.

Dari angka 2.103 itu, peningkatan drastis yakni sebesar 98 persen kasus terjadi sejak Mei  seperti mengutip laman resmi WHO pada Senin, 20 Juni 2022.

Penyakit yang biasanya hanya ada di negara endemik yakni di Afrika ini malah di tahun ini kasus terbanyak berasal dari Inggris (524), Spanyol (313), Portugal (241), Jerman (263). Lalu Prancis dan Kanada juga sudah di angka 100-an orang di sana terkonfirmasi cacar monyet.

"Semakin lama virus ini beredar, semakin luas jangkauannya maka semaki kuat kehadiran cacar monyet di negara-negara non-endemik," kata Direktur WHO Eropa, Hans Kluge.

Melihat angka kasus yang terus bertambah di negara non-endemik, Kluge meminta negara-negara Eropa untuk meningkatkan pengawasan, pengujian diagnostik, melakukan whole genome sequencing. Tak ketinggalan perlu juga melacak kontak dari pasangan seksual yang terinfeksi cacar monyet.

 


Vaksinasi Massal Belum Perlu

WHO
Perbesar
Ilustrasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Credits: pexels.com by Ann H

WHO pun sudah mengeluarkan dana darurat untuk meningkatkan kapasitas laboratorium untuk mengindentifikasi virus cacar monyet di negara-negara yang kekurangan.

Hingga saat ini WHO mengatakan bahwa dalam kasus monkeypox, vaksinasi massall belum diutuhan. Bisa jadi kalau ada vaksinasi massl malah bakal seperti kejadian vaksinasi COVID-19 di mana negara-negara kaya dengan cepat memonopoli vaksin yang terbatas seperti disampaikan Kluge selaras dengan pernyataan Direktur Jenderal WHO Tedros Adhenom Ghebreyesus sebelumnya.


Cegah Rasisme dan Stigmatisasi, WHO Bakal Ganti Nama Penyakit

Monkeypox atau penyakit cacar monyet.
Perbesar
Monkeypox atau penyakit cacar monyet. (www.who.int)

WHO bakal secara resmi mengganti nama penyakit cacar monyet atau monkeypox. Keputusan tersebut diambil dengan mempertimbangkan stigma atau rasisme terkait penyakit yang bersumber dari virust itu, 

Tedros mengatakan bahwa WHO bersama para mitra dan ahli dari seluruh dunia tengah mengubah nama virus cacar monyet, klad, serta penyebab penyakit tersebut. Belum diketahui kapan tapi WHO akan mengumumkan nama baru cacar monyet secepatnya.

Lebih dari 30 peneliti dunia mengatakan bahwa nama cacar monyet mengandung unsur diskriminasi dan stigma. Salah satu alasan karena nama cacar monyet yang kini digunakan tidak sesuai dengan panduan WHO yang ada. WHO merekomendasikan agar menghindari penggunaan nama wilayah dan hewan untuk menamai suatu penyakit.

Saat ini, hewan sesungguhnya yang menjadi sumber penularan cacar monyet tetap belum diketahui. Sementara virus tersebut ditemukan pada mamalia dalam jumlah luas.

Menurut para ilmuwan, dalam konteks wabah global saat ini, terus merujuk dan menamai virus ini dari Afrika bukan hanya dinilai tidak akurat melainkan juga diskriminatif dan memunculkan stigma.


Cacar Monyet Tak Akan Jadi Pandemi

Ahli epidemiologi Dicky Budiman menyampaikan bahwa cacar monyet atau monkeypox tidak berpotensi menjadi pandemi baru, tapi jelas bisa menjadi epidemi.

“Update terakhir menyatakan bahwa cacar monyet tidak berpotensi menjadi pandemi baru tapi sangat berpotensi menjadi epidemi,” ujar Dicky.

Pernyataan ini selaras dengan keterangan pakar dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Dr. Rosamund Lewis. Menurutnya, ratusan kasus cacar monyet yang dilaporkan sejauh ini tidak akan beralih menjadi pandemi.

Namun, Lewis mengakui, masih banyak hal yang belum diketahui tentang penyakit ini, termasuk bagaimana penyakit ini menyebar dan apakah penghentian imunisasi cacar air massal dari puluhan tahun lalu telah mempercepat penularannya.

Lewis mengatakan badan kesehatan itu sedang menyelidiki pertanyaan-pertanyaan ini termasuk apakah cacar monyet bisa menyebar lewat hubungan seks, lewat udara, dan apakah orang-orang tanpa gejala mampu menularkan penyakit ini.

Dia mengatakan, perkembangan penyakit cacar monyet di masa lalu menunjukkan penyakit ini tidak mudah menyebar. Untuk itu, masih ada waktu membendung masalah yang sekarang muncul.

Infografis Gejala dan Pencegahan Cacar Monyet
Perbesar
Infografis Gejala dan Pencegahan Cacar Monyet (Liputan6.com/Triyasni)
Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya