Dokter Sarankan Jemaah Haji Gunakan Pelindung Diri, Masker dan Sandal dengan Baik

Oleh Liputan6.com pada 19 Jun 2022, 13:01 WIB
Diperbarui 19 Jun 2022, 13:01 WIB
Jemaah haji Indonesia di Masjid Nabawi, Madinah usai melaksanakan sholat subuh. Foto: Darmawan/MCH
Perbesar
Jemaah haji Indonesia di Masjid Nabawi, Madinah usai melaksanakan sholat subuh. Foto: Darmawan/MCH

Liputan6.com, Jakarta - Para jemaah haji Indonesia disarankan untuk tetap mengenakan alat pelindung diri agar dapat melaksanakan ibadah dengan baik dan lancar.

Tim dokter PPIH Arab Saudi dr Andi Yanti, Sp.P menyarankan agar jemaah haji tetap mengenakan masker dengan baik sebagai bentuk ikhtiar agar terhindar dari penularan berbagai virus.

"Gunakan masker dengan baik dan benar, masker harus menutupi pangkal hidung dan seluruh mulut. Serta jika terkena cairan, segera diganti karena membran masker bisa tidak berfungsi dengan baik lagi,” kata dr Andi Yanti, Kamis (16/6).

Andi menyampaikan, jika jamaah haji tidak menggunakan masker dengan baik dan benar, maka bakteri, khususnya virus penyebab COVID-19 (SARS Cov-2) dapat lolos masuk ke saluran pernapasan. Dan jamaah bisa terpapar COVID-19.

Andi juga mengingatkan jemaah agar mengganti masker secara berkala.

“Disamping itu diharapkan penggantian masker secara berkala minimal 6-8 jam atau jika dirasa sudah kotor,” katanya.

Selain mengenakan masker, Andi juga menyarankan jemaah agar selalu mencuci tangan dengan sabun atau membawa hand sanitizer di dalam tas. Jika sudah menyentuk benda di tempat umum, maka tangan harus segera dibersihkan. Hal itu guna mencegah virus masuk ke saluran pernapasan melalui tangan yang menyentuh hidung atau mulut.

"Cuci tangan sebelum tangan menyentuh hidung atau area mulut yang bisa jadi sarana untuk virus masuk kedalam saluran pernapasan dan menimbulkan infeksi COVID-19,” katanya.


Memakai Masker, Mencuci Tangan, dan Memakai APD

Mengingat para jemaah haji akan sulit menjaga jarak, maka protokol kesehatan dapat diperkuat dengan memakai masker dan selalu menjaga kebersihan tangan.

Sering berwudhu juga disarankan pada jemaah selama menjalankan ibadah haji. Andi mengatakan, berwudhu sebenarnya merupakan teknik pembersihan diri yang paling optimal.

Andi berharap, jemaah tetap patuh terhadap sejumlah protokol kesehatan selama menunaikan ibadah haji. Hal itu agar jemaah tetap aman dan sehat selama menjalankan rangkaian ibadah haji.

“Sehingga bisa beribadah dengan baik dan mendapat gelar haji mabrur,” katanya.

Sementara itu, Kepala Seksi Kesehatan Daerah Kerja Mekah dr Muhammad Imran mengingatkan bahwa ibadah haji merupakan ibadah yang memerlukan kondisi fisik dan kesehatan yang prima. Perbedaan suhu ekstrem antara di Tanah Air dan di Tanah Suci akan berpengaruh pada kondisi fisik dan kesehatan jemaah.

Jemaah, kata Imran, disarankan untuk selalu mengenakan alat pelindung diri (APD).  


Cuaca Panas

Imran mengatakan, suhu di Arab Saudi berkisar 42-43 derajat dengan kelembapan 19 persen.

“Suhu saat ini sekitar 42-43 derajat dengan kelembapan 19%, semua harus pakai APD,” ujarnya.

Suhu cuaca yang panas membuat kulit kering, bibir pecah-pecah, kaki melepuh, dehidrasi, bahkan heatstroke.

“Jangan sampai jemaah tidak bisa beribadah karena kaki melepuh, ketika jemaah tidak memakai alas kaki,” Imran mencontohkan.

Selain alas kaki, lanjut dr. Imran Alat pelindung diri yang harus selalu digunakan oleh jemaah diantaranya masker, kacamata hitam, topi/payung, pelembap bibir, tabir surya.

Kecukupan konsumsi air putih dan air yang mengandung elektrolit sebagai pengganti mineral tubuh yang hilang juga menjadi hal yang wajib ditaati oleh jemaah haji indonesia.

“Yang penting lagi, jangan tunggu haus. Jemaah harus terus diingatkan untuk minum air putih sesering mungkin, paling tidak 6 botol masing-masing 600 ml dalam sehari” tambah Imran. 


Kantor Kesehatan Haji Indonesia

Guna memberikan layanan kesehatan terbaik bagi jemaah para jemaah haji Indonesia di Tanah Suci, Pemerintah menyediakan Kantor Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) yang salah satunya terletak di Mekkah.

KKHI Mekkah memiliki fasilitas pelayanan kesehatan setara dengan Rumah Sakit Tipe B. Layanan ini diperuntukkan utamanya bagi jemaah haji indonesia.

“Harapan kami, jemaah haji indonesia dapat dilayani dengan sebaik baiknya kebutuhan kesehatannya oleh tenaga kesehatan Indonesia, di fasilitas pelayanan yang disediakan oleh pemerintah” jelas Kepala Pusat Haji Kementerian Kesehatan dr. Budi Sylvana, MARS.

KKHI Mekah beroperasi selama 24 jam setiap harinya selama musim operasional haji. KKHI menyiapkan berbagai layanan kesehatan seperti Instalasi Gawat Darurat (IGD), ruang High Care Unit (HCU), ruang radiologi, poli gigi, ruang perawatan psikatri, hingga laboratorium. 

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya