Ketar-Ketir Cacar Monyet, Kemenkes: Belum Ada Kasus di RI, Tetap Waspada

Oleh Benedikta Desideria pada 23 Mei 2022, 17:35 WIB
Diperbarui 24 Mei 2022, 13:39 WIB
Cegah Penyebaran Cacar Monyet, Penumpang Bandara Soetta Diperiksa Suhu Tubuh
Perbesar
Informasi tentang cacar monyet atau monkeypox dipasang di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Rabu (15/5/2019). Cacar monyet merupakan penyakit langka yang disebabkan virus. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mengatakan hingga kini belum ada kasus monkeypox atau cacar monyet masuk wilayah Indonesia. Namun, tingkat kewaspadaan di pintu-pintu masuk atau pintu perbatasan terus dilakukan.

"Sampai hari ini kita belum ada kasus (monkeypox atau cacar monyet)," kata Juru Bicara Kementerian Kesehatan RI dr Mohammad Syahril, SpP kepada Health - Liputan6.com via telepon pada Senin, 23 Mei 2022.

Meski begitu Syahril mengatakan pemerintah tetap waspada. Bukan hanya RI, tapi seluruh negara di dunia tengah mewaspadai penyakit yang biasanya menular dari hewan ke manusia (zoonosis) ini.

"Kita harus waspada, tetap ya, bukan hanya Indonesia tapi semuanya, karena penyakit ini menular dan bisa ditularkan dari orang yang masuk dari negara yang terjangkit," kata Syahril lagi.

Salah satu upaya mencegah kasus ini masuk Indonesia adalah dengan meningkatkan kewaspadaan di pintu-pintu masuk negara. Kewaspadaan yang dilakukan diantaranya dengan melakukan karantina hewan seperti monyet dan hewan diduga sakit dan bisa menularkan cacar monyet. Hewan tersebut harus menjalani karantina hewan.

"Lalu, pada manusia juga dilakukan kewaspadaan dari negara yang terjangkit. Misalnya dari Australia, maka pintu masuk orang dari negara tersebut harus dijaga hati-hati dan (petugas di pintu masuk) diingatkan," kata Syahril.

Syahril mengatakan bahwa semua otoritas kesehatan negara-negara di dunia, termasuk Indonesia sudah menyampaikan ke petugas di pintu masuk negara seperti bandara dan pelabuhan untuk mewaspadai orang yang datang dari negara yang kini sedang ada kasus cacar monyet.

"Sudah, semua negara sudah begini. Tidak ingin dong negaranya ada masuk virus-virus itu," kata pria yang juga Direktur Utama RSPI Sulianti Saroso ini.

Data terakhir dari World Health Organization (WHO) saat ini sda ada 80 kasus cacar monyet di 12 negara. Diantaranya Inggris, Swedia, Portugal, Spanyol, dan negara tetangga Australia.


Belum Pernah Ada Kasus Cacar Monyet di RI

Monkeypox atau penyakit cacar monyet.
Perbesar
Monkeypox atau penyakit cacar monyet. (www.imagepicweb.com)

Cacar monyet sebenarnya bukan penyakit baru. Syahril mengatakan monkeypox pertama kali ditemukan pada tahun 1958 di Denmark ketika ada dua kasus seperti cacar muncul pada koloni kera yang dipelihara untuk penelitian, sehingga cacar ini dinamakan 'monkeypox'.

Lalu, kasus pada manusia pertama kali tercatat tahun 1970 di Republik Demokratik Kongo.

Di Indonesia hingga saat ini belum pernah ada kasus monkeypox. "Belum pernah. Dan, semoga jangan sampai ya," kata Syahril.

Virus monkeypox dapat ditularkan ke manusia ketika ada kontak langsung dengan hewan terinfeksi (gigitan atau cakaran), pasien terkonfirmasi monkeypox, atau bahan yang terkontaminasi virus (termasuk pengolahan daging binatang liar).

Masuknya virus adalah melalui kulit yang rusak, saluran pernapasan, atau selaput lendir (mata, hidung, atau mulut).

 


Gejala: Demam dan Muncul Ruam

Masa inkubasi atau interval dari infeksi sampai timbulnya gejala pada monkeypox biasanya 6 – 16 hari. Bisa juga berkisar dari 5 – 21 hari.

"Gejala yang timbul diawali dengan demam, sakit kepala hebat, limfadenopati (pembengkakan kelenjar getah bening), nyeri punggung, nyeri otot dan lemas," kata Syahril.

Limfadenopati dapat dirasakan di leher, ketiak atau selangkangan. Lalu, dalam 1-3 hari setelah gejala awal, akan memasuki fase erupsi berupa munculnya ruam atau lesi pada kulit biasanya dimulai dari wajah kemudian menyebar ke bagian tubuh lainnya secara bertahap.

Ruam atau lesi pada kulit ini berkembang mulai dari bintik merah seperti cacar (makulopapula), lepuh berisi cairan bening, lepuh berisi nanah, kemudian mengeras atau keropeng lalu rontok. Biasanya diperlukan waktu hingga 3 minggu sampai periode lesi tersebut menghilang dan rontok.

Mengutip laman Kemenkes, mmonkeypox biasanya merupakan penyakit yang dapat sembuh sendiri dengan gejala yang berlangsung selama 14 – 21 hari.

Kasus yang parah lebih sering terjadi pada anak-anak dan terkait dengan tingkat paparan virus, status kesehatan pasien dan tingkat keparahan komplikasi.

Kasus kematian bervariasi tetapi kurang dari 10% kasus yang dilaporkan, sebagian besar di antaranya adalah anak-anak. Secara umum, kelompok usia yang lebih muda tampaknya lebih rentan terhadap penyakit monkeypox.

 


Temuan Penularan Lokal Kasus Cacar Monyet di Inggris

Cegah Penyebaran Cacar Monyet, Penumpang Bandara Soetta Diperiksa Suhu Tubuh
Perbesar
Layar televisi menampilkan iklan tentang cacar monyet atau monkeypox (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Inggris memantau adanya infeksi harian virus cacar monyet yang tidak ada kaitannya dengan riwayat perjalanan ke Afrika Barat, lokasi endemik penyakit tersebut. Adanya kasus infeksi lokal di Inggris dikonfirmasi oleh dinas kesehatan negara tersebut pada Minggu, 22 Mei 2022.

UK Health Security Agensi (UKHSA) mengatakan gambaran terbaru akan dirilis pada Senin, setelah instansi itu mencatat 20 kasus pada Jumat.

Menurut kepala penasihat medis UKHSA Susan Hopkins, transmisi komunitas untuk kasus cacar monyet kini telah menjadi hal yang umum di Inggris.

"Kami menemukan kasus-kasus yang tidak memiliki kontak dengan orang yang tela melakukan perjalanan dari Afrika Barat, ini yang telah kami lihat sebelumnya di negara ini," ujar Hopkins pada televisi BBC.

"Kami mendeteksi lebih banyak kasus harian," tambahnya, dilansir Channelnews Asia.

Hopkins menampik laporan yang mengatakan ada satu pasien yang tengah mendapat perawatan intensif. Namun, Hopkins mengatakan, penyebaran kasus cacar monyet terjadi pada daerah-daerah urban, di antara pria penyuksa sesama jenis (gay) ataupun biseksual.

"Risiko pada populasi umum sangat rendah saat ini, dan menurut saya masyarakat perlu memahami hal itu," ujarnya.

infografis journal
Perbesar
infografis journal 5 Jenis Penyakit Hepatitis. (Liputan6.com/Tri Yasni).
Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya