COVID-19 Belum Usai, Peneliti Australia Temukan Virus Hendra

Oleh Ade Nasihudin Al Ansori pada 18 Mei 2022, 14:00 WIB
Diperbarui 18 Mei 2022, 14:00 WIB
Ilustrasi kuda
Perbesar
Ilustrasi Kuda/https://unsplash.com/Sarah Olive

Liputan6.com, Jakarta Sebelum virus Sars-CoV2 yang menyebabkan COVID-19 menyebar, ada virus lain yang sudah lebih dulu menjadi perbincangan yakni virus Hendra (HeV).

Virus Hendra adalah anggota famili Paramyxoviridae, genus Henipavirus. HeV pertama kali diisolasi pada tahun 1994 dari spesimen yang diperoleh selama wabah penyakit pernapasan dan neurologis pada kuda dan manusia di Hendra, pinggiran kota Brisbane, Australia.

Namun, baru-baru ini Peneliti Griffith University telah menemukan varian virus Hendra baru yang dapat menular ke kuda dan manusia jauh lebih luas di seluruh Australia daripada yang diketahui sebelumnya.

Diterbitkan di Emerging Infectious Disease, varian tersebut terdeteksi dalam urine kelelawar genus Pteropus hitam dan berkepala abu-abu atau flying fox melintasi distribusi geografis yang luas dari pantai utara-tengah New South Wales hingga Queensland tenggara.

Varian virus Hendra baru (HeV-g2) baru-baru ini ditemukan pada sampel kuda yang mati pada 2015 karena sakit akut dan sebelumnya terdeteksi pada organ flying fox.

“Deteksi varian Hendra baru dalam urine itu penting, karena kontak dengan urine flying fox yang terinfeksi adalah bagaimana kuda bisa terinfeksi,” kata pemimpin peneliti Dr Alison Peel, dari Pusat Kesehatan Planet dan Keamanan Pangan mengutip laman resmi Griffith University, Rabu (18/5/2022).

“Studi kami, dengan mengungkapkan asosiasi dengan spesies flying fox tertentu, membantu mengidentifikasi distribusi varian pada hewan-hewan ini dan risiko tumpahan ke kuda dan kemudian manusia.”

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Mengenal Virus Hendra

Ilustrasi kelelawar.
Perbesar
Ilustrasi kelelawar. Kredit: Stux via Pixabay

Melansir laman Centers for Disease Control and Prevention (CDC), virus ini terkait dengan virus Nipah, spesies lain dalam genus Henipavirus. Reservoir alami virus Hendra telah diidentifikasi sebagai kelelawar dari genus Pteropus.

Sejak 1994 hingga 2013, infeksi virus Hendra pada manusia masih jarang terjadi; hanya tujuh kasus yang dilaporkan.

Pada 2009, ada tiga orang meninggal karena virus mematikan ini dan para ilmuwan telah bergegas untuk menemukan sumbernya, melansir ABC.

Penularan virus Hendra ke manusia dapat terjadi setelah terpapar cairan dan jaringan tubuh atau kotoran kuda yang terinfeksi virus Hendra.

Kuda dapat terinfeksi setelah terpapar virus dalam urine kelelawar genus Pteropus yang terinfeksi.

Sampai 2014, tidak ada penularan dari manusia ke manusia yang telah didokumentasikan.

Setelah inkubasi 9-16 hari, infeksi virus Hendra dapat menyebabkan penyakit pernapasan dengan tanda dan gejala mirip flu yang parah. Dalam beberapa kasus, penyakit dapat berkembang menjadi ensefalitis atau radang otak.

Meskipun infeksi virus Hendra jarang terjadi, tapi kasus fatalitasnya tinggi yakni 4/7 (57 persen).


Diagnosa Virus Hendra

Ilustrasi diagnosa virus hendra
Perbesar
Ilustrasi diagnosa virus hendra (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

Pemeriksaan laboratorium yang digunakan untuk mendiagnosis virus Hendra (HV) dan virus Nipah (NV) antara lain deteksi antibodi dengan:

-ELISA (IgG dan IgM)

-Real Time Polymerase Chain Reaction (RT-PCR)

-Upaya isolasi virus.

Di sebagian besar negara, penanganan virus Hendra perlu dilakukan di laboratorium penyimpanan tinggi. Diagnosis laboratorium pasien dengan riwayat klinis HV atau NV dapat dibuat selama fase akut dan fase penyembuhan penyakit.

Ini dilakukan dengan menggunakan kombinasi tes termasuk deteksi antibodi dalam serum atau cairan serebrospinal (CSF), deteksi RNA virus ( RT-PCR) dalam serum, CSF, atau usap tenggorokan, dan isolasi virus dari CSF atau usap tenggorokan.

Untuk penanganannya, obat ribavirin telah terbukti efektif melawan virus secara in vitro (uji dalam gelas), tetapi kegunaan klinis obat ini tidak pasti.

Terapi pasca pajanan dengan antibodi penetral Nipah/Hendra, berkhasiat pada model hewan sedang dalam tahap pengembangan praklinis manusia di Australia, mengutip CDC.


Risiko Paparan dan Pencegahan

Ilustrasi Kuda
Perbesar
Ilustrasi Kuda (pixabay.com)

Peneliti meyakini bahwa kelelawar atau flying fox Australia (genus Pteropus) adalah reservoir alami atau risiko paparan dari virus Hendra.

Bukti serologis untuk infeksi HeV telah ditemukan pada keempat spesies flying fox Australia, tetapi penyebaran virus pada kuda terbatas pada daerah pesisir dan hutan di Australia seperti negara bagian Queensland dan New South Wales.

Orang-orang dengan risiko tertinggi adalah mereka yang tinggal di dalam sebaran flying fox dan dengan paparan pekerjaan atau rekreasi terhadap kuda yang memiliki potensi kontak dengan kelelawar genus Pteropus di Australia.

Terjadinya penyakit pada manusia telah dikaitkan hanya dengan infeksi spesies perantara seperti kuda. Pengenalan dini penyakit pada hewan inang perantara mungkin merupakan cara paling penting untuk membatasi kasus manusia di masa depan.

Infeksi virus Hendra dapat dicegah dengan menghindari kuda yang sakit atau mungkin terinfeksi HeV dan menggunakan alat pelindung diri yang sesuai saat kontak diperlukan, seperti dalam prosedur kedokteran hewan.

Vaksin komersial telah ini dilisensikan di Australia untuk kuda dan dapat bermanfaat bagi spesies hewan lain dan akhirnya manusia.

Infografis 4 Cara Tampil Menawan Saat Foto Pakai Masker Cegah Covid-19. (Liputan6.com/Abdillah)
Perbesar
Infografis 4 Cara Tampil Menawan Saat Foto Pakai Masker Cegah Covid-19. (Liputan6.com/Abdillah)
Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya