Dukung Pembangunan Kesehatan, Kemenkes RI - WHO Indonesia Sepakati Kerja Sama Hibah

Oleh Fitri Haryanti Harsono pada 16 Mei 2022, 09:00 WIB
Diperbarui 16 Mei 2022, 09:00 WIB
Kemenkes RI dan WHO Jalin Kerja Sama Hibah di Bidang Kesehatan Guna Mencapai Cakupan Kesehatan Universal
Perbesar
Kemenkes RI dan WHO Jalin Kerja Sama Hibah di Bidang Kesehatan Guna Mencapai Cakupan Kesehatan Universal

Liputan6.com, Bali - Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Indonesia menyepakati kerja sama hibah bidang kesehatan untuk Grant Agreement Biennium 2022-2023 di Hotel Conrad, Nusa Dua Bali pada Sabtu, 14 Mei 2022.

Grant Agreement Biennium 2022-2023 merupakan dokumen kerja sama hibah sebagai rujukan program budget. Dokumen ini memuat informasi, nilai, bentuk, dan mekanisme, pelaksanaan hibah WHO per-biennium tingkat kementerian. 

WHO Representative Indonesia, Dr N Paranietharan, mengatakan, Kementerian Kesehatan dan WHO Indonesia sudah menandatangani perjanjian telah bekerja dengan Indonesia dalam waktu yang lama.

"Jadi, ini bukan hal baru dalam kemitraan kami. Namun, dengan pandemi COVID-19, saya pikir dinamika kemitraan telah berubah dari waktu ke waktu dan ada banyak kebutuhan untuk masukan global yang datang ke tingkat negara," kata Paranietharan saat penandatanganan kerja sama antara Kementerian Kesehatan dan WHO Indonesia dalam acara 15th ASEAN Health Ministers Meeting and Related Meetings di Hotel Conrad, Nusa Dua Bali pada Sabtu, 14 Mei 2022.

"Ada lebih banyak kolaborasi antara negara-negara anggota dalam mengelola situasi seperti pandemi telah muncul. Hasilnya dimulai proses transformasi lima tahun lalu dan kemudian kami memperkuatnya lebih lanjut," dia menambahkan.

Penandatanganan kerja sama diteken Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan RI, Kunta Wibawa Dasa Nugraha, bersama Paranietharan. Tujuan kerja sama dilakukan demi mencapai cakupan kesehatan universal sekaligus mempromosikan kesehatan.

"Kami melihat pilar kesehatan yang sama dengan melihat target satu miliar orang mencapai cakupan kesehatan universal dan satu miliar orang terhindar atau mengurangi penderitaan dari keadaan darurat kesehatan," ujar Paranietharan.

"Dan satu miliar orang dalam promosi kesehatan dan perbaikan gaya hidup. Ini adalah tujuan utama kami dan kami juga mendiskusikan pembiayaan," dia menambahkan.

 


Pembiayaan untuk Sektor Kesehatan

Kemenkes RI dan WHO Jalin Kerja Sama Hibah di Bidang Kesehatan Guna Mencapai Cakupan Kesehatan Universal
Perbesar
Kemenkes RI dan WHO Jalin Kerja Sama Hibah di Bidang Kesehatan Guna Mencapai Cakupan Kesehatan Universal

Menurut Dr. N. Paranietharan, pembiayaan di sektor kesehatan dinilai sangat penting, terutama masa pandemi COVID-19. Pada masa kedaruratan COVID-19, setiap negara membutuhkan respons cepat menangani  kebutuhan, baik alat kesehatan maupun sarana prasarana medis.

"Saya pikir pembiayaan adalah paling penting hingga hari ini untuk sektor kesehatan. Bahkan negara-negara dengan banyak sumber daya yang dilanda pandemi telah berjuang keras untuk memenuhi semua tuntutan respons pandemi," katanya.

"Jadi, kami juga melihat pembiayaan WHO yang dapat diprediksi. Kemudian memperkuat tata kelola kepemimpinan kerja secara keseluruhan. Saya senang melihat ada banyak aspek yang kami selaraskan sepenuhnya dalam tim kami sebagai bagian dari persiapan kemitraan dan kegiatan yang sangat baik dalam perjanjian ini," Paranietharan menambahkan.

Adapun program Budget Workplan ini yang selanjutnya akan berperan sebagai Naskah Perjanjian Hibah antara Satker (unit teknis) penerima hibah di Kementerian Kesehatan dan WHO Indonesia dan menjadi dasar untuk melakukan registrasi hibah berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 99/2017 dan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 55/2017. 

Kerja sama teknis antara Kementerian Kesehatan dengan WHO Indonesia dimulai sejak penandatanganan Basic Agreement pada tahun 1951, yang kemudian diperbarui pada tahun 1958. 

"Kami berharap untuk melanjutkan kemitraan dan melaksanakan kegiatan ini tepat waktu dan mungkin untuk melakukan lebih dari apa yang sudah berkomitmen dalam hal jumlah uang (hibah) untuk periode dua tahun," ujarnya.

"Kami membawa lebih banyak sumber daya dan tahun lalu, saya pikir kami hampir menggandakan dukungan kepada Indonesia selama pandemi karena ada banyak kebutuhan terkait perlengkapan laboratorium dan vaksin," dia menekankan.

 


Perjanjian Hibah untuk Periode 2 Tahun

Kemenkes RI dan WHO Jalin Kerja Sama Hibah di Bidang Kesehatan Guna Mencapai Cakupan Kesehatan Universal
Perbesar
Kemenkes RI dan WHO Jalin Kerja Sama Hibah di Bidang Kesehatan Guna Mencapai Cakupan Kesehatan Universal

Pada tingkat nasional, kerja sama Kementerian Kesehatan - WHO Indonesia dilakukan dengan merujuk berdasarkan WHO Country Cooperation Strategy, yakni dokumen yang memuat Visi Strategis Jangka Menengah WHO dengan negara mitra untuk periode 5 sampai 6 tahun, selaras dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMN) negara mitra. 

Sehubungan dengan periode anggaran WHO dilakukan untuk periode dua tahun, maka perjanjian hibah antara Kementerian Kesehatan dan WHO Indonesia dilakukan untuk periode 2 tahun melalui Biennium Grant Agreement. 

Kerja sama ini bertujuan untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan yang dijabarkan di dalam Rencana Kerja Bersama Kementerian Kesehatan (Joint Work Plan) RI - WHO Indonesia untuk WHO Programme Budget 2022–2023 dalam mendukung implementasi WHO 13th General Programme of Work, RPJMN 2020–2024, dan Pilar-Pilar Transformasi Kementerian Kesehatan RI.

 


Kemenkes RI Apresiasi Dukungan WHO

Kemenkes RI dan WHO Jalin Kerja Sama Hibah di Bidang Kesehatan Guna Mencapai Cakupan Kesehatan Universal
Perbesar
Kemenkes RI dan WHO Jalin Kerja Sama Hibah di Bidang Kesehatan Guna Mencapai Cakupan Kesehatan Universal

Kunta Wibawa pun mengapresiasi dukungan WHO, khususnya WHO Indonesia dalam mendukung upaya pembangunan bidang kesehatan, termasuk untuk respons pandemi.

Saat ini, Kementerian Kesehatan sedang melakukan transformasi di bidang kesehatan yang meliputi Transformasi Layanan Kesehatan Primer, Transformasi Layanan Kesehatan Sekunder, Transformasi Sistem Ketahanan Kesehatan, Transformasi Sistem Pembiayaan Kesehatan, Transformasi Sumber Daya Manusia (SDM) Kesehatan, dan Transformasi Teknologi Kesehatan. 

"Adanya transformasi sistem kesehatan yang kami lakukan, kami membutuhkan support (dukungan) dari WHO," ujarnya.

"Oleh karena itu, kerja sama dengan WHO perlu difokuskan untuk mendukung kegiatan-kegiatan yang bersifat strategis untuk implementasi pilar transformasi bidang kesehatan dengan akuntabilitas yang baik," pungkas Kunta.

Infografis Seruan WHO Akhiri Pandemi COVID-19 di 2022. (Liputan6.com/Trieyasni)
Perbesar
Infografis Seruan WHO Akhiri Pandemi COVID-19 di 2022. (Liputan6.com/Trieyasni)
Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya