Data Imunisasi Anak Bakal Tersimpan di PeduliLindungi, Kapan Mulai?

Oleh Fitri Haryanti Harsono pada 13 Mei 2022, 10:00 WIB
Diperbarui 13 Mei 2022, 10:00 WIB
Program Imunisasi Balita di Masa Pandemi COVID-19
Perbesar
Sang ibu mendampingi anaknya saat mengikuti imunisasi di Puskesmas Kecamatan Jatinegara, Jakarta, Kamis (26/11/2020). (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Liputan6.com, Jakarta Wajah aplikasi PeduliLindungi tengah bersiap dengan penampilan baru, yakni data imunisasi anak akan tersimpan seperti halnya data vaksinasi COVID-19. Para orangtua nantinya dapat mengakses data imunisasi melalui PeduliLindungi setelah anak mereka diimunisasi.

Menteri Kesehatan Republik Indonesia Budi Gunadi Sadikin menyampaikan, persiapan sistem di PeduliLindungi masih terus dimatangkan. Diharapkan tatkala sudah siap, penggunaan digitalisasi data imunisasi anak dapat diterapkan dengan lancar.

"Sekarang memang sedang dalam persiapan (di sistem PeduliLindungi). Ya, mudah-mudahan ketika kami launching (rilis) nantinya dan saat vaksinasi (imunisasi) diberikan, itu (sistem PeduliLindungi) sudah siap," terang Budi Gunadi menjawab pertanyaan Health Liputan6.com saat Temu Media: Bulan Imunisasi Anak Nasional di Jakarta pada Kamis, 12 Mei 2022.

"Sehingga kita akan mulai penggunaan digitalisasi sistem informasi teknologi kesehatan untuk program vaksinasi (imunisasi) nasional ini."

Ide digitalisasi data imunisasi anak yang masuk ke dalam PeduliLindungi, kata Budi Gunadi, melihat kesuksesan penggunaan data vaksinasi COVID-19. Serupa dengan data vaksinasi COVID-19, sertifikat imunisasi anak secara digital juga akan muncul.

"Kita akan mengulangi suksesnya vaksinasi COVID-19 dengan cara meregister atau mendaftarkan, menyimpan data-data vaksinasi individu secara digital," lanjutnya.

"Pengalaman dengan vaksinasi COVID-19, kita melakukan ini dengan teknologi informasi digital dan sertifikatnya juga dibuat digital, ditaruh di aplikasi PeduliLindungi. Jadi, yang kita lakukan adalah transformasi layanan terkait dengan imunisasi adalah melakukan digitalisasi penuh dari proses imunisasi."

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Perlunya Riwayat Imunisasi di Luar Negeri

Imunisasi Anak
Perbesar
Dokter dengan Alat Pelindung Diri memberikan vaksin radang otak pada anak di Rumah Vaksinasi Sawangan, Depok, Selasa (16/6/2020). Orang tua diminta tidak menunda pemberian imunisasi pada anak-anak yang masih harus menerima imunisasi lengkap di tengah pandemi Covid-19. (merdeka.com/Arie Basuki)

Selama ini, menurut Budi Gunadi Sadikin, data vaksinasi (imunisasi anak) biasanya ditulis di dalam kartu atau di buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). Sayangnya, penggunaan secara fisik ini tidak awet, bahkan kartu atau buku pencatatan bisa saja hilang.

"Nah, akibatnya kadang (buku atau kartu) hilang atau lupa (disimpan). Beberapa perguruan tinggi luar negeri ada juga yang membutuhkan sejarah vaksinasi kita saat kecil. Contohnya, sudah pernah divaksinasi polio atau belum, sudah pernah divaksinasi difteri, tetanus atau belum," tuturnya.

"Sepengalaman saya pribadi seperti itu. Masyarakat akan kesulitan kalau suatu saat ingin mengirim anaknya belajar di luar negeri, kalau misalnya, buku atau kartunya sudah tidak ada."

Dengan demikian, digitalisasi data imunisasi sangat penting dilakukan. Langkah ini dapat mempermudah anak hingga dewasa nanti bisa mengakses data imunisasi sendiri. Data pun akan disimpan di sistem Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

"Semua anak-anak yang nanti kita lakukan imunisasi akan terekam individunya dan akan memiliki sertifikat vaksinasi elektronik yang disimpan secara digital. Sehingga anytime, setiap saat dibutuhkan oleh yang bersangkutan, baik 15 tahun lagi atau 20 tahun lagi, tetap bisa mengambil datanya yang tersimpan di Kementerian Kesehatan," beber Menkes Budi Gunadi.


Belum Ada Data Imunisasi pada Sistem Digital

FOTO: Berikan Imunisasi, Bidan di Tangerang Kenakan APD Lengkap
Perbesar
Bidan mengenakan alat pelindung diri (APD) saat melakukan imunisasi kepada bayi di Puskesmas Karawaci Baru, Tangerang, Banten, Rabu (13/5/2020). Pelayanan imunisai sesuai jadwal ini diberikan kepada bayi untuk menambah kekebalan imun tubuh. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Lebih lanjut, Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan, data imunisasi anak belum ada pada sistem Kementerian Kesehatan. Hasil laporan imunisasi pun baru sebatas terekam di masing-masing fasilitas kesehatan yang menggelar imunisasi anak.

"Sebelumnya, data imunisasi ini kan belum ada di sistem digital kita. Itu yang pertama. Yang kedua, data yang ada di Kemenkes juga data yang sifatnya agregat. Jadi, dari akumulasi laporan, detailnya gitu ada di masing-masing fasilitas kesehatan yang melakukan imunisasi," ungkapnya.

"Sehingga mengakibatkan bila yang bersangkutan kemudian pindah sekolah atau pindah kota, itu akan mengalami kesulitan (mengakses data), kecuali yang bersangkutan memang memegangi bukunya (catatan riwayat imunisasi)."

Menilik problem tersebut, Menkes Budi Gunadi menekankan, pentingnya digitalisasi data imunisasi anak. Serupa dengan vaksinasi COVID-19, data yang sudah terdigitalisasi tersimpan awet dan bisa diakses kapan saja.

"Pengalaman kami, yang namanya buku KIA ini enggak bisa disimpan sampai yang bersangkutan dewasa, kadang-kadang hilang juga. Dengan demikian, kami melihat bahwa ini kesempatan untuk melakukan digitalisasi," pungkasnya.

"Begitu divaksin, mirip dengan vaksinasi COVID-19, datanya akan masuk dan disimpan. Kemudian nanti bisa diakses setiap saat ke aplikasi PeduliLindungi."


3 Tambahan Imunisasi Wajib

Antusias Anak Sekolah Ikut Imunisasi DT
Perbesar
Petugas puskesmas menenangkan seorang anak sebelum disuntik vaksin DT di RPTRA Citra Permata, Jakarta, Selasa (28/9/2021). Kegiatan rutin tahunan tersebut bertujuan memberikan kekebalan tubuh pada anak sekolah terhadap penyakit DT dengan kuota 150 anak per hari. (merdeka.com/Iqbal S Nugroho)

Terkait program imunisasi nasional, Budi Gunadi Sadikin mengatakan, ada penambahan jumlah imunisasi rutin wajib di Indonesia. Jika semula vaksinasi rutin wajib hanya berjumlah 11, kini menjadi 14 vaksin.

Ketiga jenis vaksin tambahan yang masuk dalam program imunisasi rutin wajib yakni, Vaksin Pnemumococcal Conjugate Vaccine (PCV), vaksin Rotavirus, dan vaksin Human Papilloma Virus (HPV).

Vaksin PCV bertujuan untuk mencegah penyakit radang paru, radang selaput otak, radang telinga yang disebabkan oleh bakteri Pneumokokus. Vaksin Rotavirus untuk mencegah diare berat dan komplikasinya yang disebabkan oleh virus Rota.

Sementara itu, vaksin HPV untuk mencegah kanker serviks pada wanita.

"Kami sudah menambah jumlah vaksin atau jumlah imunisasi wajib yang akan kita berikan ke masyarakat, dari 11 menjadi 14. Kita tambahkan 3 vaksin baru yaitu HPV untuk kanker serviks untuk para ibu," ujar Menkes Budi Gunadi.

"Kemudian PCV untuk pneumonia kepada balita dan juga Rotavirus untuk penyakit diare, ini juga ditargetkan ke balita. Ini adalah salah satu program baru yang kami luncurkan pada sistem pelayanan kesehatan primer."

Infografis Arti Warna Fitur Safe Entrance Aplikasi PeduliLindungi
Perbesar
Infografis Arti Warna Fitur Safe Entrance Aplikasi PeduliLindungi (Liputan6.com/Niman)
Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya