Menkes Budi Ungkap Alasan Vaksin HPV Gratis untuk Kelas 5 dan 6 SD

Oleh Fitri Haryanti Harsono pada 22 Apr 2022, 16:00 WIB
Diperbarui 22 Apr 2022, 16:00 WIB
Menkes raker dengan komisi IX
Perbesar
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin seusai rapat kerja dengan Komisi IX DPR di Senayan, Jakarta, Selasa (22/3/2022). Rapat mengenai pergeseran pagu alokasi Kementerian Kesehatan RI tahun anggaran 2022, sesuai perubahan struktur organisasi dan tata kerja Kemenkes Rl. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin membeberkan alasan vaksin Human Papilloma Virus (HPV) untuk pencegahan kanker serviks ditujukan gratis hanya untuk anak perempuan kelas 5 dan 6 SD. Bahwa efektivitas vaksin HPV optimal diberikan sebelum anak menstruasi.

"Pertanyaannya, kenapa vaksin HPV diberikannya ke anak kelas 5 dan 6 SD? Memang ada aturannya, vaksin harus diberikan sebelum menstruasi. Karena kalau sudah menstruasi, jadi tidak efektif," ungkap saat konferensi pers Puncak Peringatan Pekan Imunisasi Dunia Tahun 2022 di Jakarta pada Jumat, 22 April 2022.

"Kalau diberikan sebelum menstruasi itu sangat efektif, terutama untuk mengurangi prevalensi dari kanker serviks. Itulah sebabnya kenapa kita kejar sekarang pemberiannya ke seluruh anak kelas 5 dan 6 SD."

Adanya capaian mengejar vaksin HPV juga sejalan dengan vaksin ini masuk dalam program imunisasi dasar lengkap. Pemberian vaksin HPV ditujukan demi menekan kematian ibu di Indonesia. Sebab, penyebab kematian ibu yang paling tinggi karena kanker serviks dan payudara.

Pemberian vaksin HPV demi mencegah kanker serviks gratis yang dimulai tahun 2022 juga dilakukan bertahap. Kementerian Kesehatan mencatat, wilayah yang masuk dalam program imunisasi nasional vaksinasi HPV mulai tahun 2022, yakni seluruh kabupaten/kota di Jawa Tengah, seluruh kabupaten/kota di Jawa Timur, Bali, Sulawesi Utara, Gorontalo, dan Sulawesi Tenggara.

"Mudah-mudahan, perkembangan ke depannya mengenai vaksinasi bisa terus berkembang, sehingga kita bisa memperluas cakupan," ucap Budi Gunadi.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Target Program Vaksin HPV

Ekspresi Anak-Anak Saat Kegiatan Bulan Imunisasi Anak Sekolah
Perbesar
Ekspresi Anak-Anak Saat Kegiatan Bulan Imunisasi Anak Sekolah

Budi Gunadi Sadikin juga menargetkan vaksin HPV dapat menyasar seluruh daerah di Indonesia pada tahun 2023.

"Saya minta ke Pak Maxi Rein Rondonuwu (Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan) supaya tahun depan (sasaran vaksin kanker serviks) harus sudah 100 persen (di seluruh kabupaten/kota)," lanjutnya.

Selain vaksin HPV, dua jenis vaksin lain yang masuk program imunisasi lengkap, yakni vaksin Pneumococcal Conjugate Vaccine (PCV) dan Rotavirus. Vaksin PCV untuk mencegah pneumonia dan Rotavirus untuk mencegah infeksi radang lambung dan usus pada bayi.

"Tadinya, kita ada 11 jenis vaksinasi untuk yang masuk kategori imunisasi dasar lengkap. Kemudian bertambah 3 jenis vaksin, yaitu vaksin HPV, PCV, dan Rotavirus. Sehingga total ada 14 vaksinasi untuk imunisasi lengkap," jelas Budi Gunadi.

"Nah, kami mengamati bahwa ada dua problem besar di Indonesia. Pertama adalah kematian ibu dan yang kedua, kematian anak. Kematian ibu di Indonesia karena cancer (kanker) itu tinggi rangkingnya. Cancer yang paling tinggi adalah breast (payudara) dan cervical (serviks).


Jadwal Imunisasi HPV untuk Anak

Imunisasi Campak di Tengah Pandemi Covid-19
Perbesar
Imunisasi di Tengah Pandemi Covid-19

Sebagaimana termaktub dalam jadwal imunisasi tahun 2017 yang diterbitkan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), imunisasi HPV diberikan mulai usia 10 tahun. Namun, ada revisi dalam jadwal imunisasi tahun 2020.

Bahwa vaksin HPV dapat diberikan pada anak perempuan usia 9 – 14 tahun sebanyak 2 kali dengan jarak 6–15 bulan (atau pada program Bulan Imunisasi Anak Sekolah/BIAS kelas 5 dan 6). Usia 15 tahun atau lebih diberikan 3 kali dengan jadwal 0, 1, 6 bulan (vaksin bivalen) atau 0, 2, 6 bulan (vaksin quadrivalen).

Perubahan jadwal di atas sesuai Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 01.07/Menkes/194/2017 tentang Pelaksanaan Demonstrasi Pemberian Imunisasi HPV di Surabaya, Manado, dan Makasar, serta WHO position paper mengenai HPV (2017).

Imunogenisitas vaksin HPV dengan 2 dosis (0, 6 bulan atau 0, 12 bulan) pada perempuan umur 9 – 14 tahun setara dengan 3 dosis (0, 1-2, 6 bulan) pada perempuan berumur 15 – 24 dan 26 tahun. Pada pedoman vaksin di National Health Service (NHS) Inggris, vaksin HPV ini diberikan pada anak laki-laki pada usia 12 – 13 tahun. Di Indonesia, pedoman IDAI merujuk vaksin HPV hanya dikhususkan untuk anak perempuan.

Menilik 'Jadwal Imunisasi Dewasa' yang merupakan Rekomendasi dari Satgas Imunisasi Dewasa Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) tahun 2021, vaksin HPV juga diberikan kepada dewasa dapat diberikan 3 dosis HPV bivalent/quadrivalent (bulan ke-0, 1 atau 2 dan 6) pada rentang usia 19-21 tahun, 22-26 tahun, dan 27-49 tahun.


Rangkaian Pemberian Suntikan HPV

FOTO: Pemeriksaan Kesehatan Murid Baru Sekolah Dasar Negeri
Perbesar
Pemeriksaan Kesehatan Murid Baru Sekolah Dasar Negeri

Sesuai Peraturan Menteri Kesehatan RI No.12 tentang Penyelenggaraan Imunisasi Tahun 2017, vaksin HPV diberikan dengan dosis 0,5 ml dalam rangkaian suntikan HPV. Berikut rinciannya:

1. Vaksin HPV bivalen

Pada anak berusia 9 tahun hingga dewasa di bawah 26 tahun, vaksin HPV diberikan sebanyak 3 dosis, dengan jarak 1 bulan dari dosis pertama ke kedua. Sementara itu, untuk dosis ketiga diberikan 6 bulan setelah dosis pertama (5 bulan setelah dosis ketiga). 

2. Vaksin HPV tetravalen

Anak remaja berusia 9-13 tahun Vaksinasi HPV dapat dilakukan sebanyak dua dosis dengan jarak antar pemberian 6-12 bulan. Apabila dosis kedua diberikan terlalu cepat (misalnya, di bawah lima bulan), dosis ini harus diulangi lagi kira-kira 12 minggu dari pemberian dosis kedua tersebut. 

Remaja 14 tahun hingga dewasa di bawah 45 tahun pada kategori ini, pemberian vaksin diberikan sebanyak tiga dosis. Jarak pemberian dosis pertama dan kedua adalah 1-2 bulan. Dosis ketiga diberikan enam bulan setelah dosis pertama. 

Bila vaksin dosis kedua diberikan terlalu cepat, dosis vaksin kedua dan ketiga harus diulang. Sementara ketika dosis lanjutan terlewat, Anda tidak perlu mengulang dari awal, cukup melengkapi dosis yang terlewatkan.

Infografis 9 Panduan Imunisasi Anak Saat Pandemi Covid-19. (Liputan6.com/Trieyasni)
Perbesar
Infografis 9 Panduan Imunisasi Anak Saat Pandemi Covid-19. (Liputan6.com/Trieyasni)
Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya