BKKBN Dorong Upaya Pengolahan Makanan Sehat untuk Cegah Stunting

Oleh Fitri Syarifah pada 10 Apr 2022, 13:00 WIB
Diperbarui 10 Apr 2022, 13:00 WIB
Ilustrasi stunting/dok. Unsplash Alvin
Perbesar
Ilustrasi stunting/dok. Unsplash Alvin

Liputan6.com, Jakarta Pada tahun 2021 Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mengemban tugas baru sebagai Ketua Pelaksana Percepatan Penurunan Angka Stunting di Indonesia.

BKKBN juga bekerjasama dengan Universitas YARSI dan BAZNAS dalam Peningkatan Pemberdayaan Ekonomi Keluarga bagi Keluarga Akseptor KB Lestari MKJP dan Keluarga Akseptor KB Mandiri MKJP di Kampung KB secara komprehensif dan terintegrasi lintas sektor guna meningkatkan kemandirian ekonomi keluarga, melalui Poktan UPPKA.

Rektor Universitas YARSI Prof. Fasli Jalal mengatakan, "Stunting adalah sebuah kondisi, di mana tinggi badan seseorang ternyata lebih pendek dibanding tinggi badan orang lain pada umurnya (yang seusia). Hal itu disebabkan kurangnya asupan gizi yang diterima saat masih dalam kandungan (janin) dan setelah lahir (bayi) terutama di 1.000 hari pertama kehidupan".

“Pada masa-masa itu sangat dibutuhkan asupan gizi yang cukup dan seimbang agar anak terbebas dari masalah stunting yang berakibat terganggunya pertumbuhan fisik dan kecerdasan anak di masa selanjutnya", imbuh Fasli, seperti dikutip dalam keterangan pers, Sabtu (9/4/2022).

Fasli juga menyebutkan, "Masa remaja putri sangat rentan kekurangan nutrisi dan mineral salah salah satunya kekurangan zat besi saat remaja putri telah mengalami menstruasi. Hal ini bisa diatasi dengan memperhatikan asupan gizi dan bisa ditunjang dengan asupan suplemen zat besi", terangnya.


Kebutuhan seorang balita

Selain itu, Universitas Yarsi juga telah bersinergi dengan pemerintah daerah melakukan penanganan stunting dengan beberapa program. Salah satu program yang dilakukan adalah edukasi kepada orang tua balita stunting dalam pemberian asupan gizi. Dari banyak protein hewani, telurlah yang mudah dicerna, untuk itu kami memberikan asupan protein dari telur untuk keluarga yang berpotensi memiliki anak stunting,” ungkapnya.

Fasli menjelaskan, kebutuhan normal untuk satu orang balita stunting dalam satu hari yaitu 1 gram/ 1kg berat badan balita. Pihaknya mengajarkan berbagai olahan makanan yang berbahan telur. "Khawatir bosan setiap hari bisa diolah dengan produk lain, yang terpenting ada masukan protein hewani, kita ajari orang tuanya sehingga variatif dalam mengolah telur", terang Fasli

Sementara itu, Pada kesempatan yang sama Deputi II Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI Dr. Imdadun Rahmat, M.Si menyebutkan Visi BAZNAS 2025 adalah menyejahterakan umat linier dengan dukungan BAZNAS untuk percepatan penurunan stunting di Indonesia, beberapa diantaranya (misi ke 3) Pendistribusian kepada anak stunting sebagai bentuk penanganan stunting, karena stunting berpengaruh terhadap pertumbuhan otak dan kognitif yang menyebabkan menurunnya fungsi intelektual dalam jangka panjang", sebut Imdadun

Lalu pada (misi 7) Dengan adanya dukungan BAZNAS dalam menurunkan stunting ini dan menanamkan semangat tolong menolong dalam kebaikan secara langsung ataupun tidak langsung dapat membangun kemitraan yang awalnya menjadi mustahik berubah menjadi muzaki", tambah Imdadun.

BAZNAS juga turut memberikan dukungan program yang telah dilakukan oleh Lembaga Rumah Sehat BAZNAS yang diharapkan bisa memberikan inovasi dalam penanganan stunting di Indonesia. Salah satu dukungan BAZNAS untuk Program Dapur Sehat Atasi Stunting (DASHAT) yaitu berupa program pembuatan produk olahan makanan untuk ibu UPPKA dengan skala rumah tangga, yang akan didampingi BAZNAS dalam pembuatan olahan makanan tersebut", tambahnya.

Infografis Stunting, Ancaman Hilangnya Satu Generasi
Perbesar
Infografis Stunting, Ancaman Hilangnya Satu Generasi. (Liputan6.com/Triyasni)
Lanjutkan Membaca ↓

Tag Terkait

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya