Indonesia Jadi Pusat Vaksin mRNA, Menkes Budi Minta Partisipasi Perguruan Tinggi

Oleh Fitri Haryanti Harsono pada 23 Mar 2022, 10:25 WIB
Diperbarui 23 Mar 2022, 10:25 WIB
Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin
Perbesar
Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin membuka Seminar Nasional Pengendalian Nyamuk di Gedung Kementerian Kesehatan, Jakarta pada 30 November 2021. (Dok Kementerian Kesehatan RI)

Liputan6.com, Yogyakarta Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin meminta perguruan tinggi ikut berpartisipasi untuk mendukung Indonesia sebagai hub (pusat) produksi vaksin mRNA di kawasan Asia Tenggara. Dalam hal ini, perguruan tinggi menjadi konsorsium global hub vaksin mrNA.

"Kita akan punya global manufacturing and research hub vaksin mRNA. Saya sudah buka 'pintunya' (akses), kita akan dapat dana dan funding (pendanaan)," ucap Budi Gunadi saat acara Recover Together, Recover Stronger: G20 dan Agenda Strategis Indonesia di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, ditulis Selasa (22/3/2022).

"Saya minta nanti seluruh perguruan tinggi yang punya capacity (kapasitas) untuk ikut. Setahu saya UGM sudah diajak untuk menjadi konsorsium dari global hub ini."

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menunjuk Indonesia menjadi salah satu negara yang menerima transfer teknologi vaksin mRNA dari 25 negara yang menyatakan minat terhadap program tersebut. Program WHO ini dilaksanakan di bawah mRNA vaccine technology transfer hub atau pusat alih teknologi mRNA, yang ditujukan mendorong alih teknologi secara luas dan cepat ke beberapa negara. 

Pada Presidensi G20 2022, Indonesia juga mendorong adanya global manufacturing and research hub vaksin. Hal ini demi pemerataan vaksin, terlebih masih terjadinya ketidaksetaraan akses vaksin COVID-19 di dunia.

"Kita ingin mendorong redistribusi pada global health manufacturing. Jadi, bukan hanya redistribusi manufacturing capabilities (kemampuan manufaktur), tapi researcher-nya (peneliti/ilmuwan) harus terkoneksi satu sama lain. Derajat mereka harus sama, kan kita enggak tahu di mana mungkin ke depannya outbreak bisa muncul," jelas Budi Gunadi.

"We need to health resilience (kita butuh resiliensi kesehatan) sehingga kita bisa prepare (bersiap) dalam hal merespons wabah atau pandemi."


Target Pengembangan Vaksin mRNA dalam 100 Hari

BPOM Setujui 5 Vaksin Booster, Begini Efektivitas dan Efek Sampingnya
Perbesar
(unsplash/parang mehta).

Target pengembangan vaksin mRNA, lanjut Budi Gunadi Sadikin, akan dilakukan dalam 100 hari. Ini sejalan dengan target organisasi kesehatan vaksin dunia.

"Tadinya, target pengembangan 1.000 hari. Sekarang, target organisasi vaksin dunia maunya 100 hari. Tujuannya ya buat ke depan, kalau setiap kali ada outbreak, kita bisa bikin vaksin in hundred days, dalam 100 hari, termasuk uji kliniknya," katanya.

Adapun 5 negara yang menerima dukungan dari mRNA hub dari WHO meliputi Afrika Selatan, Bangladesh, Indonesia, Pakistan, Serbia, dan Vietnam. Negara-negara ini membuktikan bahwa mereka memiliki kapasitas untuk menyerap teknologi dan, dengan pelatihan yang ditargetkan, bergerak ke tahap produksi dengan relatif cepat.

“Indonesia merupakan salah satu negara yang terus mendukung pemerataan vaksin dan kesetaraan akses vaksin COVID-19 untuk semua negara, termasuk melalui transfer teknologi vaksin," kata Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi dalam pernyataan resmi WHO pada 23 Februari 2022.

“Transfer teknologi (vaksin mRNA) ini akan berkontribusi pada akses yang sama ke penanggulangan kesehatan, yang akan membantu kita untuk pulih bersama dan pulih lebih kuat. Solusi seperti inilah yang dibutuhkan negara-negara berkembang. Solusi yang memberdayakan dan memperkuat kemandirian kita, serta solusi yang memungkinkan kita berkontribusi pada ketahanan kesehatan global.”


Infografis Vaksin Covid-19 Berdampak pada Kesuburan Pria dan Perempuan?

Infografis Vaksin Covid-19 Berdampak pada Kesuburan Pria dan Perempuan?
Perbesar
Infografis Vaksin Covid-19 Berdampak pada Kesuburan Pria dan Perempuan? (Liputan6.com/Abdillah)
Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya