Menkes Budi Tambah 18 Alat Deteksi Genom Varian COVID-19

Oleh Fitri Haryanti Harsono pada 22 Mar 2022, 20:00 WIB
Diperbarui 22 Mar 2022, 20:00 WIB
Swedia Deklarasi Pandemi Covid-19 Berakhir, Apa Alasannya?
Perbesar
(unsplash/mufid majnun).

Liputan6.com, Yogyakarta Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin kembali menambah 18 alat untuk mendeteksi genom sekuensing varian COVID-19. Upaya ini demi memperkuat deteksi dan pemeriksaan genom agar mampu dilakukan menyebar di seluruh Indonesia.

"Kita punya 12 laboratorium dan 14 alat (deteksi genom varian COVID-19). Saya sudah beli lagi dan akan datang pada 1 Mei nanti ada 18 alat," kata Budi Gunadi saat acara Recover Together, Recover Stronger: G20 dan Agenda Strategis Indonesia di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, ditulis Selasa (22/3/2022).

"Kita bagi, misalnya, 2 (alat) Sumatera, 2 Kalimantan, 2 Sulawesi, 2 di Papua, 2 di Maluku, dan 2 Nusa Tenggara. Jadi, radar sistem virus kita tidak hanya tersentralisasi di Jawa. Insha Allah, dengan tambahan alat, deteksi genom akan menyebar ke seluruh Indonesia."

Terkait genom sekuensing, Budi Gunadi menyoroti, Indonesia sebagai tuan rumah Presidensi G20 2022 fokus menyuarakan agar data virus tersebut dapat diakses transparan oleh seluruh negara. Berbagi data genom dapat membantu negara-negara mengambil kebijakan yang tepat terkait pandemi atau wabah.

Pentingnya berbagi data genom juga melihat pengalaman dunia pada awal pandemi COVID-19 terjadi. Merespons cepat penyebaran adanya virus Sars-CoV-2 penyebab COVID-19, negara-negara maju saling berlomba dan berupaya keras membuat vaksin COVID-19.

"Pengalaman kita, genom sekuensing COVID-19 itu pada awal pandemi pertama kali diupload scientist China less than two weeks (diunggah para ilmuwan Tiongkok kurang dari 2 minggu) di data Global Initiative on Sharing All Influenza Data (GISAID). Nah, data itu diakses oleh scientist Moderna, Amerika dan scientist Jerman," lanjut Budi Gunadi.

"Mereka waktu itu mulai membangun teknologi mRNA (vaksin COVID-19) yang keluarnya less than 22 months (kurang dari 22 bulan). Padahal, pakar virus saja bilang butuh 10 years for developing vaccine (10 tahun mengembangkan vaksin)."


Wujudkan Berbagi Data Genom yang Transparan

Ilustrasi Laboratorium - Image by RAEng_Publications from Pixabay
Perbesar
Ilustrasi Laboratorium - Image by RAEng_Publications from Pixabay

Menurut Budi Gunadi Sadikin, 9 juta genom yang terkumpul di data GISAID sangat berharga. Hal itu dapat menjadi sumber basis data genom virus yang dapat bermanfaat untuk pencegahan pandemi atau wabah di masa depan.

"Untuk berbagi data genom ini kan penelitinya juga harus nyaman mau taruh datanya di mana. Berbagi data ini enggak mudah, ada banyak sisi geopolitiknya. Masing-masing negara pengen menjadi sentra dunia untuk genom sekuensing data," terangnya.

"Tapi ya this is the part of data that will be very valuable in the future (ini adalah bagian dari data yang akan sangat berharga di masa depan). Datanya itu jadi rebutan. Jadi, ya kita mikir, gimana caranya supaya  berbagi data genom platform ini transparan dan bisa diakses semua negara."

Pembahasan berbagi data genom akan terus dibahas dalam Presidensi G20.

"Intinya, kalau berbagi data genom itu tidak ada unsur economy interest atau geopolitik, tapi yang ada adalah human interest. Ini yang mesti kita jaga," pungkas Menkes Budi Gunadi.


Infografis Yuk Ketahui Proses Pembentukan Varian Baru Covid-19

Infografis  Yuk Ketahui Proses Pembentukan Varian Baru Covid-19. (Liputan6.com/Abdillah)
Perbesar
Infografis Yuk Ketahui Proses Pembentukan Varian Baru Covid-19. (Liputan6.com/Abdillah)
Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya