Menkes Budi Ungkap Alasan Omicron BA.2 Tak Melonjak di Indonesia

Oleh Fitri Haryanti Harsono pada 19 Mar 2022, 20:00 WIB
Diperbarui 19 Mar 2022, 20:00 WIB
Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin
Perbesar
Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin memberikan santunan kepada tenaga kesehatan yang gugur dalam penanganan COVID-19 di Gedung Kementerian Kesehatan Jakarta pada Senin 19 April 2021. (Dok Kementerian Kesehatan RI)

Liputan6.com, Jakarta Meski subvarian Omicron BA.2 menyebar di Indonesia, tak membuat kasus COVID-19 nasional melonjak seperti halnya di sejumlah negara lain. Saat ini, terjadi kenaikan tajam kasus COVID-19 di Eropa, Hong Kong, Tiiongkok, Jepang, dan Korea Selatan.

Di Gedung Kementerian Dalam Negeri Jakarta, Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin membeberkan alasan Omicron BA.2 tidak melonjak di Tanah Air. Menurutnya, capaian vaksinasi dan kadar antibodi yang dimiliki penduduk Indonesia cukup tinggi melawan varian Sars-CoV-2 penyebab COVID-19 yang beredar.

"Kita sudah identifikasi Omicron BA.2, tapi kasus COVID-19 kita tetap menurun. Kenapa? Bisa kombinasi dari banyak hal, misalnya, berapa banyak yang sudah terkena infeksi, berapa banyak yang divaksinasi berapa yang sudah booster," ungkap Budi Gunadi saat memberikan keterangan pers terkait Hasil Serologi Survei Nasional pada Jumat, 18 Maret 2022.

"Kalau dilihat sejarah, ada baiknya juga Indonesia 'belakangan' (kasus COVID-19 melonjak). Lihat negara-negara lebih dini vaksinasi. Jadi, level antibodi atau titer antibodi kita masih relatif lebih tinggi dibandingkan mereka. Relatif masih lebih tahan pada saat gelombang Omicron BA.2 masuk."

Berdasarkan Survei Serologi rentang November-Desember 2021, hampir 40 persen lebih penduduk Indonesia mempunyai kadar antibodi virus Sars-CoV-2 cukup tinggi di atas 100, bahkan melebihi 1.000. Angka ini bisa dibilang mampu memberikan efek proteksi untuk menekan risiko COVID-19 berat dan harus masuk rumah sakit atau mengalami kematian.


Indonesia Lebih Siap Hadapi Omicron BA.2

FOTO: Waspada Ancaman Omicron hingga Februari Mendatang
Perbesar
Kepadatan calon penumpang kereta Commuter Line (KRL) di Stasiun Tanah Abang, Jakarta, Rabu (12/1/2022). Data sementara Kementerian Kesehatan hingga 10 Januari 2022, total ada 506 kasus COVID-19 varian Omicron di Indonesia. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Kenaikan kasus COVID-19 di beberapa negara dunia, lanjut Budi Gunadi, salah satunya dipicu penyebaran subvarian Omicron BA.2. Varian tersebut lebih cepat menular, bahkan kasus COVID-19 di Korea Selatan 'meledak' sampai 300.000 per hari.

"Kita teliti karena ada subvarian baru 'anak' dari Omicron, BA.2. Nah, BA.2 ini lebih cepat menular. Di Indonesia sudah masuk sejak sebulan lalu, tapi apakah akan sebabkan lonjakan? Jawabannya, tidak," katanya.

"Mungkin secara ilmiah satu-satunya penjelasan adalah memang kondisi populasi kita relatif lebih lebih siap dibandingkan (negara) yang lain."

Tak hanya Omicron BA.2, Menkes Budi Gunadi juga menyentil sedikit soal varian Deltacron, yang merupakan kombinasi dari Delta dan Omicron. Hingga sekarang di Eropa saja, varian itu tidak masuk kategori variant under monitoring.

"Artinya, belum dipastikan transmisinya lebih cepat atau tidak, belum bisa dipastikan apakah lebih parah atau tidak. Kalau kita melihat gejalanya, ini (Deltacron) mungkin seperti varian Mu dan Lambda, tidak seperti mengkhawatirkan yang dibayangkan," pungkasnya.


Infografis Ragam Tanggapan Lonjakan Kasus Covid-19 di Beberapa Negara

Infografis Ragam Tanggapan Lonjakan Kasus Covid-19 di Beberapa Negara. (Liputan6.com/Trieyasni)
Perbesar
Infografis Ragam Tanggapan Lonjakan Kasus Covid-19 di Beberapa Negara. (Liputan6.com/Trieyasni)
Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya