Menkes Budi Ingin Asia Punya Teknologi Vaksin mRNA Seperti Afrika

Oleh Fitri Haryanti Harsono pada 20 Feb 2022, 08:00 WIB
Diperbarui 20 Feb 2022, 08:00 WIB
Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin
Perbesar
Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin kunjungi RSUP dr. Sardjito, Yogyakarta pada 28 Januari 2021. (Dok Kementerian Kesehatan RI)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mendambakan dibangunnya hub (pusat) teknologi vaksin mRNA di Asia. Inisiasi pembangunan hub vaksin mRNA baru saja diluncurkan di sejumlah negara Afrika, yakni Mesir, Kenya, Nigeria, Senegal, Afrika Selatan, dan Tunisia.

Teknologi mRNA dan biologis penting untuk pembuatan vaksin dan juga dapat digunakan untuk produk lain, seperti insulin untuk mengobati diabetes dan obat kanker. Teknologi mRNA juga berpotensi dalam pembuatan vaksin untuk penyakit prioritas lainnya, misal malaria, TBC dan HIV.

"Dari sudut pandang saya, saya sangat tertarik dengan teknologi mRNA untuk mengembangkan vaksin yang dapat didistribusikan secara global, baik dari segi kapasitas produksi dan juga penelitian," ucap Budi Gunadi saat rangkaian acara G20, High Level International Seminar: Strengthening Global Health Architecture di Jakarta Convention Center (JCC) Senayan, ditulis Sabtu (19/2/2022).

"Ini harus dipersiapkan dengan baik. Saya tahu siapa yang memiliki inisiatif untuk membangun hal ini (hub vaksin mRNA) di Afrika Selatan juga di Brasil dengan Kantor Regional WHO. Saya sangat percaya bahwa kita perlu memilikinya di Asia."

Belajar dari India yang mempunyai teknologi pembuatan vaksin, bahkan India disebut sebagai 'Raja Vaksin', Budi Gunadi juga ingin Indonesia bisa membuat vaksin mRNA sendiri. Dalam hal ini, ada transfer teknologi.

"India sangat kuat secara teknologi dan saya pikir Indonesia sebagai negara berpenduduk terbesar keempat, perlu melakukan hal yang sama dan mengikuti India. Ya, transfer teknologi," imbuhnya.


Bangun Pembuatan Vaksin Secara Cepat

India Waswas Gelombang Baru Covid-19 dari Varian Omicron
Perbesar
Petugas kesehatan bersiap memberikan vaksin COVID-19 Covishield kepada pelancong di halte bus New Delhi, Rabu (29/12/2021). Di India, yang telah kembali normal setelah tsunami COVID-19 tahun ini, omicron sekali lagi menimbulkan ketakutan, dengan lebih dari 700 kasus dilaporkan (AP Photo/Altaf Qadri)

Pembelajaran dari pandemi COVID-19, Budi Gunadi Sadikin menekankan, kita perlu mengembangkan vaksin sebagai senjata selama masa 'perang' terjadi. Jika melihat sebelumnya, pengembangan vaksin bisa memakan waktu dua tahun, bahkan 10 tahun lebih.

"Sekarang, dengan teknologi terbaru, kami menyadari bahwa kita dapat mengembangkan vaksin dalam waktu kurang dari setahun," terangnya.

"Jika kita dapat mereplikasi kapasitas ini lebih cepat, tidak hanya ke beberapa negara, tetapi lebih banyak negara secara global yang akan membangun sistem pertahanan yang lebih kuat, kita bersiap menghadapi pandemi berikutnya."

Persiapan menghadapi pandemi, lanjut Menkes Budi ada dua cara. Pertama, persiapan yang harus dilakukan negara selama masa damai. Kedua, persiapan yang harus dilakukan negara tersebut selama masa 'perang'.

"Saya pikir, kita perlu menekankan apa yang harus kita lakukan dan perbaiki selama masa damai. Ada beberapa item di dalamnya yang perlu kita persiapkan dan juga membutuhkan pembiayaan global untuk memastikan bahwa setiap negara cukup berinvestasi untuk mempersiapkan hal itu," katanya.


Infografis Pelaku Perjalanan Luar Negeri Boleh Tes Covid-19 Pembanding

Infografis Pelaku Perjalanan Luar Negeri Boleh Tes Covid-19 Pembanding. (Liputan6.com/Trieyasni)
Perbesar
Infografis Pelaku Perjalanan Luar Negeri Boleh Tes Covid-19 Pembanding. (Liputan6.com/Trieyasni)
Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya