Menag Wanti-Wanti Masyarakat Waspada Omicron Saat Perayaan Imlek, Ini Panduan Prokesnya

Oleh Ade Nasihudin Al Ansori pada 29 Jan 2022, 21:00 WIB
Diperbarui 29 Jan 2022, 21:00 WIB
Sembahyang Malam Tahun Baru Imlek di Boen Tek Bio
Perbesar
Warga keturunan Tionghoa membakar dupa pada malam perayaan Tahun Baru Imlek 2571 di Vihara Boen Tek Bio, Pasar Lama, Tangerang, Jumat (24/1/2020). Memasuki Tahun Baru Imlek 2571 digunakan warga untuk memanjatkan doa yang baik. (Liputan6.com/Fery Pradolo)

Liputan6.com, Jakarta Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas mewanti-wanti masyarakat untuk tetap menjalankan protokol kesehatan (prokes) saat merayakan Tahun Baru Imlek 2573 Kongzili.

Pasalnya, situasi pandemi COVID-19 di Indonesia masih membahayakan dan perlu kewaspadaan dari semua pihak.

"Pandemi hingga hari ini belum berhenti. Apalagi dengan terus melonjaknya kasus penularan lokal varian Omicron saat ini sudah seharusnya menjadikan kita makin berhati-hati," kata Yaqut dalam keterangan pers Sabtu (29/1/2022).

"Mari kita rayakan Imlek tahun ini dengan kesederhanaan dan jalankan prokes tanpa mereduksi maknanya," tambahnya.

Simak Video Berikut Ini

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Panduan Prokes Perayaan Imlek

Sebagai panduan prokes pada perayaan Imlek, Yaqut telah menyetujui Surat Edaran No SE 02 Tahun 2022 pada 25 Januari 2022.

Ia meminta agar SE itu benar-benar dijalankan karena bertujuan memberikan rasa aman kepada umat Khonghucu dan masyarakat luas.

"Mari saling mengingatkan akan pentingnya menjaga prokes ini di berbagai kondisi termasuk saat merayakan Imlek."

Menurut Yaqut, prokes secara ketat harus dilakukan dalam setiap rangkaian ibadah. Baik persembahyangan Er Shi Sheng An (Hari Persaudaraan), Persembahyangan Chu Xi (Akhir Tahun), Persembahyangan Hari Raya Tahun Baru Imlek 2573 Kongzili, Persembahyangan Jing Tian Gong (kepada Tian/Tuhan), maupun Persembahyangan Shang Yuan/Yuanxiao/Cap Go Meh.

Berdasarkan SE No SE 02 Tahun 2022, pelaksanaan Hari Raya Tahun Baru Imlek 2573 Kongzili pada prinsipnya dapat dilaksanakan di semua kelenteng/miao/litang/xuetang dengan catatan harus digelar secara terbatas, maksimal 10 persen atau sesuai level Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM daerah), dari kapasitas tempat perayaan.

Kemudian umat tidak dianjurkan untuk keluar kota dan/atau mudik. Kementerian Agama juga meminta agar Imlek di tengah suasana pandemi COVID-19 saat ini dirayakan dengan sederhana dan terbatas serta menghindari keramaian dan kebiasaan kumpul keluarga dalam jumlah besar.

Kegiatan perayaan juga wajib dikoordinasikan dengan Satuan Tugas COVID-19 di lingkungan masing-masing. Pihak Yaqut juga mengimbau agar umat mengutamakan kegiatan berbagi kepada sesama dan membantu masyarakat yang membutuhkan.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Selanjutnya

Pada ketentuan SE No 02 selanjutnya, Persembahyangan besar kepada Tuhan (King Ṫhi Kong/Jing Tian Gong) juga dapat dilaksanakan secara terbatas, maksimal 10 persen (sesuai level PPKM daerah) dari kapasitas tempat perayaan dengan menerapkan prokes COVID-19 secara ketat.

Persembahyangan Shang Yuan/Yuanxiao/Cap Go Meh juga dapat dilaksanakan secara terbatas, maksimal 10 persen (sesuai level PPKM daerah) dari kapasitas tempat perayaan.

Sebelum penyelenggaraan, panitia diwajibkan berkoordinasi dengan pemerintah daerah, Satgas Penanganan COVID-19, dan unsur keamanan setempat untuk mengetahui status zonasi, dan menyiapkan tenaga pengawas penerapan prokes COVID-19.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Infografis 5 Tips Cegah Klaster Keluarga COVID-19 Saat Perayaan dan Libur Imlek

Infografis 5 Tips Cegah Klaster Keluarga Covid-19 Saat Perayaan dan Libur Imlek. (Liputan6.com/Abdillah)
Perbesar
Infografis 5 Tips Cegah Klaster Keluarga Covid-19 Saat Perayaan dan Libur Imlek. (Liputan6.com/Abdillah)
Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya