Hipertensi hingga OSA, Ini Deretan Faktor Risiko Gagal Jantung

Oleh Ade Nasihudin Al Ansori pada 29 Jan 2022, 15:00 WIB
Diperbarui 29 Jan 2022, 15:00 WIB
Ilustrasi gagal jantung
Perbesar
Ilustrasi gagal jantung. Image by Pexels from Pixabay

Liputan6.com, Jakarta Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Gagal Jantung Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) dr. Siti Elkana Nauli, SpJP(K), FIHA, FAsCC, FHFA, mengatakan bahwa risiko gagal jantung meningkat pada pasien hipertensi.

Selain hipertensi, faktor risiko lain gagal jantung yakni:

-Penyakit jantung koroner

-Diabetes

-Riwayat keluarga dengan kardiomiopati

-Paparan toksin

-Penyakit jantung katup

-Gangguan fungsi tiroid

-Rokok

-Sindrom metabolik.

“Berdasarkan data registrasi gagal jantung Pokja menunjukkan kontribusi terbanyak sebagai penyebab gagal jantung di Indonesia adalah penyakit jantung koroner, hipertensi, dan diabetes,” kata Nauli dalam seminar daring PERKI, Sabtu (29/1/2022).

Simak Video Berikut Ini


Faktor Risiko Tambahan

Selain penyakit jantung koroner, hipertensi, dan diabetes, faktor risiko tambahan gagal jantung adalah:

-Obesitas (kelebihan berat badan)

-Dislipidemia (lemak darah terlalu tinggi)

-Gangguan fungsi ginjal

-Gaya hidup santai (kurang gerak)

-Obstructive Sleep Apnea (OSA) atau gangguan pernapasan yang terjadi saat tidur.


Mengancam Jiwa

Menurut Nauli, gagal jantung adalah penyakit yang mengancam jiwa di mana otot jantung tidak mampu memompa cukup darah untuk memenuhi kebutuhan darah dan oksigen pada tubuh.

Penyakit ini bersifat kronis dan progresif. Gagal jantung ditandai dengan rawat inap berulang di rumah sakit yang tinggi karena perburukan penyakitnya.

Jika tidak ditangani dengan baik, angka kematian global akibat penyakit ini diperkirakan dapat meningkat hingga lebih dari 23.3 juta kematian setiap tahun pada 2030.


Masih Menjadi Ancaman

Ia menambahkan, penyakit kardiovaskular masih menjadi ancaman dan merupakan penyakit yang berperan utama sebagai penyebab kematian nomor satu di seluruh dunia.

Berdasarkan hasil penelitian berjudul Heart failure across Asia: Same healthcare burden but differences in organization of care yang dipublikasikan pada International Journal of Cardiology, jumlah penderita gagal jantung di Indonesia adalah sebesar 5 persen dari total jumlah penduduk.

Angka kematian karena gagal jantung di Indonesia juga tergolong tinggi. Yakni, 17,2 persen pasien gagal jantung di Indonesia meninggal saat perawatan rumah sakit, 11,3 persen meninggal dalam 1 tahun perawatan, dan 17 persen mengalami rawat inap berulang akibat perburukan gejala dan tanda gagal jantung.


Infografis Jantung Kemkes

Infografis jantung kemkes
Perbesar
Infografis jantung kemkes
Infografis 5 Tips Cegah Klaster Keluarga Covid-19 Saat Perayaan dan Libur Imlek. (Liputan6.com/Abdillah)
Perbesar
Infografis 5 Tips Cegah Klaster Keluarga Covid-19 Saat Perayaan dan Libur Imlek. (Liputan6.com/Abdillah)
Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya