WHO: Vaksin Sinovac dan Sinopharm Turunkan Risiko Gejala Parah, Rawat Inap, dan Kematian Akibat Omicron

Oleh Ade Nasihudin Al Ansori pada 07 Jan 2022, 09:28 WIB
Diperbarui 07 Jan 2022, 09:28 WIB
FOTO: Puskesmas di Jakarta Mulai Lakukan Vaksinasi Virus Corona COVID-19
Perbesar
Dokter menunjukkan botol vaksin virus corona COVID-19 produksi Sinovac saat kegiatan vaksinasi di Puskemas Jagakarsa, Jakarta Selatan, Kamis (14/1/2020). Sejumlah Puskesmas di Jabodetabek mulai melakukan vaksinasi COVID-19 pada hari ini. (merdeka.com/Arie Basuki)

Liputan6.com, Jakarta - Manajer Insiden Badan Kesehatan Dunia (WHO), Abdi Mahamud, mengatakan bahwa vaksin Sinovac dan Sinopharm memberikan perlindungan terhadap penyakit parah, rawat inap, dan kematian dari varian Omicron meskipun ada penurunan antibodi pelindung.

Penilaian terkait vaksin yang banyak digunakan di China dikemukakan beberapa hari setelah sejumlah studi laboratorium awal menunjukkan bahwa tiga dosis Sinovac tidak menghasilkan antibodi yang cukup untuk mencegah infeksi dari varian baru seperti Omicron.

Dalam satu penelitian, para peneliti dari Universitas Yale, Kementerian Kesehatan Republik Dominika dan lembaga lainnya menyimpulkan bahwa dua dosis Sinovac dengan satu suntikan Pfizer tidak cukup untuk menghentikan infeksi COVID-19 Omicron.

Mahamud mengatakan pada Selasa bahwa meskipun Omicron COVID-19 dapat menghindari antibodi dan menyebabkan infeksi, bukti muncul bahwa vaksin COVID-19 masih dapat melindungi dari penyakit parah, rawat inap, dan kematian.

“Vaksin memiliki peringkat yang berbeda dalam hal pencegahan infeksi, tetapi yang kita ketahui sejauh ini adalah semuanya mencegah kematian. Prediksi kami adalah kemampuan mereka untuk mencegah penyakit parah, rawat inap dan kematian akan dipertahankan,” kata Mahamud mengutip South China Morning Post, Jumat (7/1/2022).

Simak Video Berikut Ini


Respons Sel T

Sejauh ini, vaksin Sinovac dan Sinopharm menunjukkan bahwa keduanya dapat melindungi dari risiko penyakit parah, rawat inap, hingga kematian, perlindungan ini merupakan respons sel T.

Sel T adalah bagian dari sistem kekebalan dan berkembang dari sel punca di sumsum tulang. Mereka membantu melindungi tubuh dari infeksi dan dapat membantu melawan kanker, mengutip cancer.gov.

Tubuh manusia memiliki lapisan kekebalan yang berbeda dan ketika antibodi gagal mencegah infeksi, sel T, sejenis sel darah putih yang menyerang sel yang terinfeksi, dapat membentuk lapisan pertahanan lain.

“Sel T tidak spesifik dan menggunakan kekuatan kasar, sel T mempertahankan kemampuan untuk mengenali varian dan melindungi dari penyakit parah” kata Mahamud.


Studi Lainnya

Studi lain dari Afrika Selatan dan Belanda menemukan bahwa sel T masih bertahan melawan Omicron pada orang yang memiliki mRNA atau vaksin vektor.

Para peneliti dari Universitas Sains dan Teknologi Hong Kong dan Universitas Melbourne juga menemukan bahwa sel T pada pasien COVID-19 yang pulih atau orang yang divaksinasi mengenali berbagai fragmen protein virus corona, yang disebut epitop, menurut sebuah makalah yang diterbitkan di jurnal peer-review Virus.

Para peneliti menyarankan bahwa respons sel T yang kuat masih akan efektif dalam meningkatkan respons imun terhadap Omicron, atau varian lain, dan membantu mencegah penyakit yang signifikan.

Mahamud menambahkan, lebih banyak penelitian telah menunjukkan bahwa Omicron menginfeksi bagian atas saluran pernapasan, tidak seperti varian lain yang dapat menyebabkan pneumonia parah, tetapi penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengkonfirmasi hasilnya.


Infografis 6 Cara Dukung Anak dengan Long COVID-19 Kembali ke Sekolah

Infografis 6 Cara Dukung Anak dengan Long Covid-19 Kembali ke Sekolah. (Liputan6.com/Abdillah)
Perbesar
Infografis 6 Cara Dukung Anak dengan Long Covid-19 Kembali ke Sekolah. (Liputan6.com/Abdillah)
Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya