37 Juta Orang Hidup dengan HIV Selama 2020 dan 680 Ribu Meninggal karena AIDS

Oleh Ade Nasihudin Al Ansori pada 02 Des 2021, 20:00 WIB
Diperbarui 02 Des 2021, 20:00 WIB
FOTO: Nyala Lampu Malam Renungan Hari AIDS Sedunia
Perbesar
Seorang relawan menyalakan lampu pada malam renungan Hari AIDS Sedunia di Tanah Abang, Jakarta, Rabu (1/12/2021). Acara ini digelar secara gabungan oleh lembaga dan relawan pendamping orang dengan HIV/AIDS (ODHA). (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Liputan6.com, Jakarta - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyampaikan, pada 2020 ada 37,7 juta orang yang hidup dengan human immunodeficiency virus (HIV), 1,5 juta infeksi HIV baru, dan 680 ribu kematian terkait acquired immunodeficiency syndrome (AIDS).

Sekitar 65 persen dari infeksi HIV secara global berada di antara populasi kunci. Populasi kunci yang dimaksud termasuk pekerja seks dan klien mereka, gay dan laki-laki lain yang berhubungan seks dengan sesama jenis, orang-orang yang menyuntikkan narkoba, transgender dan pasangan seksual mereka.

“Bahkan sebelum pandemi COVID-19 melanda, banyak populasi berisiko tinggi yang tidak mendapat layanan tes, pencegahan, dan perawatan HIV,” kata Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal WHO mengutip keterangan pers Kamis (2/12/2021).

Setelah adanya pandemi COVID-19, keadaan semakin buruk. Ini dikarenakan terganggunya layanan kesehatan esensial dan meningkatnya kerentanan orang dengan HIV terhadap COVID-19.

“Seperti COVID-19, kita memiliki semua alat untuk mengakhiri epidemi AIDS, jika kita menggunakannya dengan baik. Kami menyerukan pada semua negara untuk menggunakan setiap alat untuk mempersempit ketidaksetaraan pengobatan, mencegah infeksi HIV, menyelamatkan nyawa dan mengakhiri epidemi AIDS.”

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Diskriminasi dan Ketidaksetaraan

Jika dunia tidak mengatasi diskriminasi dan ketidaksetaraan terhadap pelayanan HIV/AIDS, WHO memperingatkan bahwa pada dekade berikutnya dapat terjadi 7,7 juta kematian.

Antara tahun 1997 dan 2006, diperkirakan 12 juta orang meninggal karena penyakit terkait AIDS di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah. Hal ini dikarenakan harga obat-obatan yang tidak terjangkau oleh banyak negara yang berisiko tinggi terkena dampak HIV.

Saat ini, 10 juta orang di seluruh dunia masih belum memiliki akses ke obat-obatan HIV yang menyelamatkan jiwa.

Terkait hal ini, Pangeran Harry dari Kerajaan Inggris mendesak dunia untuk belajar dari sejarah AIDS dan mengatasi akses yang tidak adil ke vaksin COVID-19 untuk memastikan bahwa obat-obatan dan teknologi HIV baru tersedia untuk semua.

Pria yang diberi gelar Duke of Sussex kemudian memberi surat kepada WHO. Dalam surat itu dia menekankan perlunya kesetaraan vaksin COVID-19, sebagai langkah mengambil pelajaran dari HIV.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Dampak HIV pada Kaum Muda

Dalam keterangan yang sama, Joyce Ouma dari Jaringan Global Pemuda yang Hidup dengan HIV menerangkan dampak HIV bagi kaum muda.

“Pemuda terus distigmatisasi, terutama mereka yang berada di populasi kunci, dan ketidaksetaraan terus mengganggu kualitas hidup kita,” katanya.

Senada dengan Joyce, Wakil Perdana Menteri dan Menteri Kesehatan Masyarakat, Thailand, Anutin Charnvirakul mengatakan bahwa kaum muda adalah masa depan bangsa dan landasan tanggapan AIDS global.

“Memberantas segala macam stigma harus menjadi komitmen global penuh kita dengan tindakan segera,” kata Anutin.

Sejak awal pandemi 36 juta orang telah meninggal karena AIDS. Artinya, melakukan sesuatu sesegera mungkin untuk orang-orang yang paling terdampak HIV kini menjadi kebutuhan mendesak.

 

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Infografis Waspada Tren Kenaikan Kasus Aktif COVID-19 di Jawa dan Bali

Infografis Waspada Tren Kenaikan Kasus Aktif Covid-19 di Jawa dan Bali. (Liputan6.com/Trieyasni)
Perbesar
Infografis Waspada Tren Kenaikan Kasus Aktif Covid-19 di Jawa dan Bali. (Liputan6.com/Trieyasni)
Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya