Mantan Menlu AS Colin Powell Meninggal Dunia Akibat COVID-19, Ini Tanggapan Pakar

Oleh Ade Nasihudin Al Ansori pada 19 Okt 2021, 10:11 WIB
Diperbarui 19 Okt 2021, 10:11 WIB
Colin Powell (AP)
Perbesar
Colin Powell (AP)

Liputan6.com, Jakarta - Mantan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS), Colin Powell, meninggal dunia akibat komplikasi COVID-19.

Colin Powell, yang merupakan mantan perwira tinggi militer, meninggal dunia pada Senin pagi, 18 Oktober 2021, kata keluarganya. Sebelumnya, dia telah mendapat vaksinasi lengkap.

Powell menjadi menteri luar negeri Afrika-Amerika pertama pada 2001 di bawah Presiden Republik George W Bush.

Dia juga memicu kontroversi karena membantu menggalang dukungan untuk Perang Irak.

"Kami telah kehilangan suami, ayah, kakek, dan orang Amerika yang luar biasa dan penyayang," kata keluarga dalam sebuah pernyataan, mengutip BBC, Selasa (19/10/2021).

Powell sebelumnya telah didiagnosis dengan multiple myeloma, sejenis kanker darah yang dapat membuatnya lebih rentan terhadap gejala COVID-19. Selain itu, ia juga memiliki penyakit Parkinson.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Tanggapan Pakar Terkait Vaksin dan Kanker

Terkait berita duka ini, Mantan Direktur World Health Organization (WHO) Asia Tenggara, Prof Tjandra Aditama menyampaikan pandangannya terkait kanker sel plasma darah dengan vaksin yang didapatkan Powell.

Menurut Tjandra, dalam American Cancer Society, para pakar merekomendasikan vaksinasi COVID-19 pada pasien dengan kanker atau riwayat kanker. Masalah utamanya bukanlah apakah aman atau tidak, tetapi bagaimana efektivitasnya, khususnya pada pasien kanker dengan gangguan imunitas.

“Beberapa jenis pengobatan kanker seperti kemoterapi, radioterapi, transplantasi sumsum tulang, stem cell dan imunoterapi dapat memengaruhi imunitas tubuh sehingga vaksin menjadi relatif kurang efektif,” kata Tjandra dalam keterangan tertulis, Selasa (19/10/2021).

Pasien dengan jenis kanker tertentu seperti leukemia dan limfoma juga akan menurunkan imunitas tubuh sehingga membuat vaksin menjadi kurang efektif.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Tinjauan Tjandra

Selain itu, Tjandra juga menyampaikan temuannya dari berbagai sumber yakni:

-National Cancer Institute-National Institute of Health Amerika Serikat juga menyatakan bahwa penelitian menunjukkan bahwa vaksin COVID-19 dapat jadi kurang efektif pada sebagian pasien kanker.

-National University Cancer Institute Singapore (NCIS) juga menyatakan pasien kanker mereka yang sedang menjalani kemoterapi, radioterapi, imunoterapi dan targeted therapy dapat diberikan vaksin COVID-19.

-Tulisan di Cancer Therapy Advisor 31 Agustus 2021 menyajikan hasil penelitian yang menyatakan bahwa pasien dengan keganasan hemotologi (kanker darah) memang mendapatkan respons kekebalan lebih rendah sesudah divaksinasi COVID-19, dibanding dengan pasien dengan kanker padat (solid tumors).

-Seperti diketahui, Strategic Advisory Group of Expert (SAGE) on Immunization baru saja memberi rekomendasi bahwa mereka dengan imunosupresi sedang dan berat dapat diberikan vaksin dosis ketiga.

-Joint Committee on Vaccination and Immunization (JCVI) Inggris menyebutkan beberapa keadaan penyakit yang memerlukan suntikan vaksin dosis ketiga, salah satu diantaranya adalah kanker darah.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Infografis Cek Fakta: Deretan Hoaks Seputar Bill Gates dan Vaksin COVID-19

Infografis Cek Fakta: Deretan Hoaks Seputar Bill Gates dan Vaksin Covid-19
Perbesar
Infografis Cek Fakta: Deretan Hoaks Seputar Bill Gates dan Vaksin Covid-19 (Liputan6.com/Trie Yasni)
Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya