Epidemiolog: Rata-Rata Kematian akibat COVID-19 di RI Masih Tinggi

Oleh Fitri Haryanti Harsono pada 29 Sep 2021, 07:23 WIB
Diperbarui 29 Sep 2021, 07:23 WIB
Uji Coba Pembukaan Kawasan Rekreasi
Perbesar
Petugas menyemprotkan disinfektan pada wahana Turangga-rangga di Dunia Fantasi, Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta, Sabtu (11/10/2021). Taman Impian Jaya Ancol menjadi salah satu dari 20 destinasi wisata yang direkomendasikan beroperasi kembali dalam uji coba. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Liputan6.com, Jakarta Pemerintah terus berupaya menurunkan angka kasus COVID-19 hingga titik terendah. Walaupun perkembangan COVID-19 di Indonesia saat ini membaik, penurunan kasus aktif dan kematian diupayakan.

Epidemiolog Masdalina Pane dari Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI) mengatakan, upaya pengendalian COVID-19 harus tepat sasaran dan sistematis.

"Ini berupa intervensi pada kasus dan kontak erat, sehingga tidak akan berpengaruh pada ekonomi, pendidikan maupun kehidupan sosial masyarakat,” kata Masdalina dalam dialog pada Selasa, 28 September 2021.

"Masyarakat diharapkan tetap disiplin 3M (memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak), mendukung pemerintah agar memperkuat 3T (testing, tracing, treatment), serta percepatan vaksinasi."

Jumlah kematian di Indonesia memang turun, tapi menurut Masdalina, case fatality rate (rata-rata angka kematian) masih cukup tinggi, yakni 3,4 persen. Sementara itu, angka rata-rata kematian global adalah 2 persen dan Asia 1,5 persen.

"Masyarakat segera melakukan vaksinasi agar lebih terlindungi dari risiko sakit berat dan kematian saat terpapar virus Corona," lanjutnya.

“Negara dengan cakupan vaksinasi tinggi, biasanya angka kematian rendah."

 

** #IngatPesanIbu 

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

#sudahdivaksintetap3m #vaksinmelindungikitasemua

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Waspada Gelombang Ketiga COVID-19

Tokyo Bukukan Rekor Baru Kasus COVID-19
Perbesar
Orang-orang yang memakai masker melintasi persimpangan di Tokyo Kamis (5/8/2021). Meningkatnya kasus virus corona di sejumlah wilayah di Jepang, termasuk Tokyo, membuat pemerintah memperluas status darurat terbatas Covid-19 ke delapan prefektur. (AP Photo/Kantaro Komiya)

Terkait gelombang ketiga COVID-19 yang muncul di beberapa negara, dokter sekaligus Influencer Nadia Alaydrus menyatakan, hal itu seharusnya menjadi perhatian dan menjadikan kita lebih waspada.

Yang sangat mungkin dilakukan oleh masyarakat adalah memutus tali penularan dengan cara patuh protokol kesehatan, mengurangi mobilitas dan mendukung program-program pemerintah.

“Kita harus menyikapi pelonggaran dengan tetap dalam batasan. Sangat disayangkan kalau sampai lepas dan euforia. Ayo, patuhi protokol kesehatan, segera vaksinasi, dan jaga daya tahan tubuh,” ajak Nadia melalui pernyataan tertulis yang diterima Health Liputan6.com.

Di sisi lain, Masdalina Pane menyampaikan, periode penurunan kasus COVID-19 setelah terjadinya gelombang COVID-19.

“Di kebanyakan negara saat ini, kasus biasanya turun setelah 8-14 minggu. Kemungkinan disebabkan oleh virus yang beradaptasi, virus melemah, atau kontribusi dari upaya intervensi yang dilakukan," katanya.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Infografis Pemicu dan Strategi Turunkan Angka Kematian Akibat Covid-19

Infografis Pemicu dan Strategi Turunkan Angka Kematian Akibat Covid-19
Perbesar
Infografis Pemicu dan Strategi Turunkan Angka Kematian Akibat Covid-19 (Liputan6.com/Abdillah)
Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya